Viral Video Gajah Zidan Dirantai Pendek di TMSBK Bukittinggi, Ini Alasan Pemko

11 hours ago 9

Langgam.id – Video yang memperlihatkan seekor gajah bernama Zidan dirantai dengan jarak gerak yang pendek di Taman Marga Satwa Budaya Kinantan (TMSBK) Kota Bukittinggi viral di media sosial.

Kondisi tersebut mengundang simpati dari netizen yang mempertanyakan alasan gajah jantan tersebut dirantai.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pariwisata Kota Bukittinggi, Rofie Hendria mengatakan pemasangan rantai terhadap Zidan bukan dilakukan tanpa alasan.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk antisipasi karena perilaku Zidan berubah menjadi agresif sejak 2022.

“Zidan merupakan gajah jantan yang telah menjadi penghuni TMSBK sejak 2001. Hingga akhir 2021, Zidan disebut masih dapat berinteraksi dengan baik dengan pengunjung,” kata Rofie, Senin (14/9/2026).

Namun, sejak 2022, perilaku Zidan berubah. Kata Rofie, Zidan mengalami periode musth yang tidak teratur sehingga menjadi lebih agresif dan sulit dilatih oleh keeper.

“Sejak 2022, Zidan mengalami kondisi yang sangat agresif karena periode musth-nya tidak teratur. Kondisi itu membuat Zidan sulit dilatih dan beberapa pawangnya pernah mengalami cedera,” katanya.

Selain menyerang pawang, Zidan juga beberapa kali dilaporkan melukai gajah betina bernama Lia.

“Kondisi tersebut membuat pengelola khawatir apabila perilaku agresif Zidan sampai membahayakan pengunjung,” kata Rofie.

Atas kondisi itu, TMSBK kemudian melakukan pemantauan terhadap Zidan dan berkoordinasi dengan dokter hewan serta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Barat.

“Setelah beberapa kali berkoordinasi dengan dokter hewan dan BKSDA, kami mengambil keputusan untuk merantai kaki Zidan sejak 2023 sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi hal-hal yang membahayakan,” ujarnya.

Rofie mengatakan kondisi Zidan yang semakin agresif juga membuat pawang yang sebelumnya biasa menanganinya memilih mengundurkan diri.

“Pawang tersebut mengaku tidak sanggup menangani Zidan yang dinilai semakin sulit dikendalikan,” ungkapnya.

Menurut Rofie, kondisi Zidan juga telah dilaporkan kepada Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Sumbar, termasuk kepada tim ahli yang melakukan sertifikasi TMSBK.

Pemko Bukittinggi, kata dia, bahkan meminta agar Zidan dapat dievakuasi ke lembaga konservasi yang memiliki sarana dan prasarana lebih lengkap untuk menangani kondisi tersebut.

“Kami juga meminta kepada tim sertifikasi agar Zidan dievakuasi ke lembaga konservasi yang sarana dan prasarananya lebih lengkap,” katanya.

Pemko Bukittinggi juga telah beberapa kali menyurati Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Sumbar untuk menyampaikan kondisi Zidan dan meminta agar persoalan tersebut segera ditindaklanjuti.

Rofie menyebut persoalan Zidan juga telah disampaikan langsung kepada Menteri Kehutanan ketika melakukan kunjungan ke TMSBK pada 2025 lalu.

“Wali Kota juga sudah menyampaikan langsung kepada Menteri Kehutanan dan Dirjen saat kunjungan ke TMSBK pada 2025. Secara lisan, Bapak Dirjen juga sudah menginstruksikan jajarannya untuk menyikapi kondisi ini dan semuanya masih berproses,” ujarnya.

Di tengah viralnya video kondisi Zidan, Rofie memastikan TMSBK tetap memberikan perawatan maksimal terhadap gajah berusia sekitar 34 tahun tersebut.

Ia mengatakan kebutuhan pakan Zidan tetap dipenuhi, mulai dari batang jagung, rumput gajah, buah-buahan hingga gula merah. Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari dengan jumlah yang disesuaikan dengan berat badan dan kebutuhan satwa.

“Perhatian maksimal tetap kami berikan kepada Zidan, termasuk perawatan, makanan, kesehatan dan pemberian multivitamin secara rutin,” katanya.

Rofie menegaskan pemasangan rantai dilakukan sebagai langkah pengamanan karena tingkat agresivitas Zidan, sembari TMSBK bersama BKSDA menyusun langkah penanganan lebih lanjut.

“Beberapa langkah terus kami susun bersama BKSDA untuk mengamankan Zidan. Intinya, kami tetap memberikan yang terbaik untuk Zidan,” katanya. (HER)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |