Pengamat UNP Ingatkan Dugaan Keracunan MBG Jadi Alarm Evaluasi Keamanan Pangan

4 hours ago 3

Langgam.id – Dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pariaman yang menyebabkan 86 siswa mengalami keluhan kesehatan dinilai harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk mengevaluasi sistem keamanan pangan.

Pengamat dari Universitas Negeri Padang (UNP), Zuhrah Taufiqa, mengatakan evaluasi tidak cukup hanya melihat kandungan gizi makanan, tetapi juga harus memastikan makanan yang diberikan kepada anak benar-benar aman dikonsumsi.

“Sebagai dokter gizi, saya melihat kejadian ini harus menjadi alarm serius untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG, bukan semata-mata melihat dari sisi kandungan gizinya,” kata Zuhrah, Senin (14/9/2026).

Menurutnya, program MBG pada dasarnya merupakan program yang sangat baik karena bertujuan meningkatkan kualitas asupan dan status gizi anak. Namun, makanan bergizi harus memenuhi satu syarat utama terlebih dahulu, yakni aman dikonsumsi.

Terkait kejadian di Pariaman, Zuhrah mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab sebelum dilakukan investigasi epidemiologi dan pemeriksaan laboratorium.

Berdasarkan informasi sementara, sekitar 86 siswa mengalami keluhan seperti mual, muntah dan pusing setelah mengonsumsi makanan MBG. Namun, menurutnya, istilah yang tepat saat ini adalah dugaan keracunan atau kejadian yang berkaitan dengan konsumsi makanan.

“Kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa satu bahan makanan tertentu adalah penyebabnya. Bisa saja berkaitan dengan kontaminasi mikrobiologis, proses pengolahan, suhu dan lama penyimpanan, distribusi, higiene penjamah makanan, air yang digunakan, maupun faktor lainnya,” ujarnya.

Zuhrah menilai hal yang perlu menjadi perhatian adalah jika kejadian serupa terus berulang. Penanganan tidak boleh hanya berfokus pada korban setelah kejadian, tetapi harus menyasar sistem penyelenggaraan makanan MBG secara menyeluruh.

“Kalau kasus serupa terjadi berulang, maka pendekatannya tidak cukup hanya menangani korban setelah kejadian. Kita perlu melakukan evaluasi sistem dari hulu sampai hilir,” katanya.

Evaluasi tersebut, lanjutnya, perlu mencakup seluruh tahapan, mulai dari penerimaan bahan makanan, penyimpanan, persiapan, pengolahan, pengemasan, distribusi, hingga makanan diterima dan dikonsumsi anak.

Ia menyarankan pemerintah daerah mengambil dua langkah utama. Pertama, memastikan seluruh anak yang mengalami gejala mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis yang memadai.

Anak yang masih mengalami gejala juga perlu dipantau, terutama terhadap risiko dehidrasi akibat muntah atau diare.

Kedua, pemerintah perlu melakukan investigasi secara sistematis dengan melibatkan Dinas Kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, pihak sekolah, pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), tenaga kesehatan lingkungan, ahli gizi, serta laboratorium dan pihak terkait lainnya.

“Makanan yang diduga dikonsumsi sebaiknya diamankan sebagai sampel untuk pemeriksaan, begitu pula sampel bahan baku, air dan lingkungan pengolahan apabila diperlukan,” tuturnya.

Data mengenai siapa yang mengonsumsi makanan, jenis makanan yang dikonsumsi, waktu konsumsi, waktu munculnya gejala serta jenis gejala juga perlu dicatat.

Menurutnya, data tersebut penting untuk menentukan ada atau tidaknya hubungan epidemiologis antara makanan dengan kejadian yang dialami siswa sekaligus menemukan titik kritis yang menyebabkan masalah.

Selain investigasi kasus, Zuhrah mendorong pemerintah melakukan audit terhadap SPPG yang bersangkutan. Audit tersebut tidak boleh hanya memeriksa kebersihan dapur, tetapi juga keseluruhan sistem keamanan pangan dan penerapan standar operasional prosedur (SOP).

Ke depan, ia mengingatkan agar MBG tidak hanya dipandang sebagai kegiatan produksi makanan dalam jumlah besar, melainkan sebagai sistem penyelenggaraan makanan massal yang memiliki risiko keamanan pangan cukup tinggi.

“Semakin banyak jumlah makanan yang diproduksi, semakin besar pula dampak apabila terjadi satu kesalahan dalam prosesnya,” katanya.

Karena itu, SPPG harus disiplin dalam menjaga kualitas dan keamanan bahan baku, kebersihan air dan peralatan, higiene personal penjamah makanan, pemisahan bahan mentah dan makanan matang, pengendalian suhu saat memasak, serta pengendalian waktu dan suhu selama penyimpanan.

Waktu antara makanan selesai dimasak hingga dikonsumsi, kebersihan wadah, keamanan selama transportasi dan distribusi, serta pencatatan dan ketertelusuran setiap batch makanan juga harus menjadi perhatian.

“Sangat perlu quality control yang benar-benar berjalan, bukan hanya administratif. Setiap tahapan harus memiliki titik kendali yang jelas dan ada orang yang bertanggung jawab,” ujarnya.

Ia menegaskan, apabila terdapat keraguan terhadap keamanan makanan, makanan tersebut sebaiknya tidak didistribusikan sebelum dipastikan aman.

Zuhrah juga menilai tenaga gizi dalam sistem MBG harus memiliki posisi kuat dalam pengawasan mutu dan keamanan pangan. Perannya tidak semata-mata menghitung kebutuhan zat gizi dan menyusun menu.

Kepada masyarakat, khususnya orang tua, ia mengimbau agar tetap tenang tetapi tidak mengabaikan gejala yang dialami anak.

Apabila anak mengalami muntah berulang, diare, nyeri perut hebat, demam, lemas, pusing berat atau tanda-tanda dehidrasi, orang tua diminta segera membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Jika keluhan muncul setelah anak mengonsumsi makanan yang sama dengan anak-anak lainnya, informasi tersebut juga perlu segera disampaikan kepada pihak sekolah atau petugas kesehatan. Sisa makanan juga sebaiknya tidak dibuang jika masih tersedia karena dapat membantu proses investigasi.

“Kita jangan sampai terjebak pada dua ekstrem, membela program tanpa melakukan evaluasi atau langsung menyalahkan program tanpa bukti. Yang harus kita lakukan adalah menggunakan data dan bukti ilmiah,” katanya.

Menurut Zuhrah, tujuan akhir MBG adalah menyediakan makanan yang bergizi, aman, bermutu dan mampu mendukung tumbuh kembang anak.

“Keberhasilan MBG bukan hanya diukur dari berapa banyak makanan yang berhasil dibagikan, tetapi juga dari seberapa aman makanan tersebut sampai dikonsumsi oleh anak,” tutupnya. (HER)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |