Langgam.id – Nilai ekspor asal Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai US$1.937,08 juta atau sekitar US$1,937 miliar. Angka tersebut meningkat 21,28 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang tercatat US$1.597,18 juta.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, Nurul Hasanudin, mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan kinerja ekspor Sumbar masih tumbuh positif sepanjang tujuh bulan pertama 2026.
“Nilai ekspor Provinsi Sumatera Barat pada Juli 2026 sebesar US$369,03 juta atau naik sebesar 17 persen dibanding Juli 2025,” kata Nurul, dikutip Senin (14/9/2026).
Secara bulanan, nilai ekspor Sumbar pada Juli 2026 memang mengalami penurunan 4,50 persen dibandingkan Juni 2026 yang mencapai US$386,41 juta.
Namun, secara kumulatif, kinerja ekspor Sumbar tetap mencatat pertumbuhan cukup tinggi. Kenaikan sebesar 21,28 persen tersebut terutama ditopang oleh ekspor sektor industri pengolahan.
Nurul menjelaskan, ekspor Sumbar masih didominasi golongan lemak dan minyak hewan atau nabati. Sepanjang Januari-Juli 2026, komoditas tersebut menyumbang US$1.661,62 juta atau 85,78 persen dari total ekspor Sumbar.
“Komoditas yang paling banyak diekspor pada golongan lemak dan minyak hewan atau nabati antara lain liquid fractions of palm oil, crude palm oil, dan refined palm oil,” ujarnya.
Selain itu, sejumlah komoditas utama juga mengalami pertumbuhan positif. Ekspor berbagai produk kimia naik 44,83 persen menjadi US$71,78 juta. Kemudian karet dan barang dari karet meningkat 44,04 persen menjadi US$58,89 juta.
Ekspor ampas atau sisa industri makanan juga tumbuh 64,66 persen menjadi US$22,41 juta. Sementara kenaikan terbesar secara persentase terjadi pada golongan garam, belerang dan kapur yang melonjak 104,11 persen menjadi US$20,97 juta.
Meski demikian, beberapa komoditas mengalami penurunan. Ekspor kopi, teh dan rempah-rempah turun 38,33 persen menjadi US$20,59 juta. Ekspor bahan-bahan nabati turun 18,18 persen menjadi US$33,44 juta dan buah-buahan turun 18,83 persen menjadi US$11,66 juta.
Dari sisi negara tujuan, India menjadi pasar ekspor terbesar Sumbar selama Januari-Juli 2026 dengan nilai US$446,29 juta atau 23,04 persen dari total ekspor.
Selanjutnya Tiongkok dengan US$303,30 juta atau 15,66 persen dan Pakistan sebesar US$295,68 juta atau 15,26 persen. Tiga negara tersebut secara keseluruhan menyerap 53,96 persen ekspor Sumbar.
“Komoditas utama yang diekspor ke India pada periode tersebut adalah crude palm oil,” kata Nurul.
Berdasarkan sektor, ekspor hasil industri pengolahan sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai US$1.880,29 juta. Nilai tersebut meningkat 24,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara ekspor sektor pertambangan melonjak 648,70 persen menjadi US$1,99 juta. Sebaliknya, ekspor hasil pertanian turun 38,11 persen menjadi US$54,80 juta.
Sebagian besar ekspor Sumbar pada Januari-Juli 2026 juga dimuat melalui pelabuhan yang berada di Sumbar. Nilainya mencapai US$1.827,76 juta atau 94,36 persen dari total ekspor.
Dari jumlah tersebut, ekspor melalui Pelabuhan Padang/Teluk Bayur mencapai US$1.827,75 juta.
Di sisi lain, nilai impor Sumbar pada Juli 2026 tercatat US$95,67 juta, meningkat 46,11 persen dibandingkan Juli 2025 yang sebesar US$65,48 juta.
Secara kumulatif, impor Sumbar Januari-Juli 2026 mencapai US$695,15 juta atau meningkat 139,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan impor terutama dipengaruhi bahan bakar mineral yang mencapai US$575,55 juta atau naik 181,93 persen. Komoditas terbesar dalam golongan tersebut adalah motor spirit atau bensin RON 90 hingga di bawah RON 97 dengan nilai US$545,82 juta. (HER)

5 hours ago
3
















































