Udara Padang Kembali Memburuk, Pengamat UNP Dorong Kebijakan Sekolah Harus Berbasis Data

5 hours ago 3

Langgam.id -Pengamat Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Padang (UNP), Dr. dr. Elsa Yuniarti, M.Biomed., AIFO-K, menilai pemerintah perlu menerapkan aturan yang fleksibel dalam menentukan aktivitas pembelajaran di sekolah, menyusul kembali meningkatnya konsentrasi partikulat halus (PM2.5) di udara Kota Padang.

Elsa mengatakan, kondisi kualitas udara bersifat fluktuatif karena dipengaruhi kondisi cuaca dan arah angin. Karena itu, kebijakan yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar, menurutnya harus dapat menyesuaikan dengan perkembangan kualitas udara berdasarkan data ilmiah.

“Kualitas udara kita ini sangat fluktuatif. Cuaca juga merupakan time series, sehingga kondisinya bisa berubah-ubah. Jadi peraturan juga harus dikondisikan untuk bisa menyesuaikan situasi sekarang,” kata Elsa Senin (14/9/2026).

Menurutnya, kondisi kualitas udara yang tidak baik memiliki dampak terhadap kesehatan masyarakat. Karena itu, Dinas Kesehatan perlu memberikan masukan kepada pemerintah daerah agar kebijakan terkait kegiatan sekolah dapat kembali dianalisis berdasarkan kondisi terkini.

Elsa menyarankan pemerintah berkoordinasi dengan BMKG untuk melihat perkembangan kualitas udara dan proyeksi kondisi atmosfer ke depan. Data tersebut dapat menjadi dasar dalam menentukan apakah kegiatan belajar mengajar tetap dilakukan secara tatap muka atau kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

“Seharusnya pemerintah juga berkoordinasi dengan BMKG, sehingga bisa menjustifikasi bagaimana sekolah seharusnya. Datanya time series, sudah ada data satelit dan proyeksinya untuk keadaan sekarang,” ujarnya.

Ia mengatakan, apabila kualitas udara berada pada kondisi sangat berbahaya, penerapan PJJ dapat menjadi salah satu pilihan untuk melindungi siswa. Namun, jika kondisi udara sudah membaik dan relatif stabil, pembelajaran tatap muka dapat kembali dilakukan dengan sejumlah pembatasan, terutama aktivitas di luar ruangan.

“Kalau keadaannya sangat berbahaya, anjurannya PJJ dulu. Nanti ketika sudah monitoring dan kondisinya stabil, sekolah bisa kembali, tetapi kegiatan lebih banyak di dalam ruangan dan penggunaan masker dapat disesuaikan dengan kondisi,” jelasnya.

Elsa menekankan, kebijakan tidak seharusnya bersifat kaku dengan menetapkan aturan untuk jangka waktu tertentu tanpa melihat perubahan kondisi udara. Menurutnya, perkembangan teknologi dan ketersediaan data satelit memungkinkan pemerintah melakukan evaluasi secara lebih cepat.

“Peraturan itu harus fleksibel, tergantung data. Kita bermain dengan alam. Kalau besok kondisinya berubah, kebijakannya juga harus bisa menyesuaikan,” katanya.

Ia mengingatkan dampak paparan PM2.5 tidak hanya berkaitan dengan gangguan pernapasan dalam jangka pendek. Jika paparan berlangsung kronis, partikulat halus tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang lebih serius, termasuk penyakit kardiovaskular.

“Kalau sekarang mungkin hanya batuk, pilek, ISPA dan sebagainya. Tetapi ke depannya, kalau kronis, dampaknya bisa ke kardiovaskular, tidak hanya respirasi. Efeknya terhadap generasi kita, morbiditasnya bisa semakin tinggi,” ujarnya.

Elsa juga menilai kondisi kualitas udara yang kembali memburuk perlu menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Padang. Menurutnya, masyarakat saat ini juga dapat mengakses informasi kualitas udara secara mandiri sehingga pemerintah harus responsif terhadap perubahan kondisi tersebut.

“Pemko harus melek terhadap kondisi ini. Biasanya peraturan itu kaku, tetapi harus fleksibel sesuai situasi. Masyarakat juga sudah bisa melihat data kualitas udara dan mengetahui ketika kondisinya sudah tidak baik,” katanya.

Untuk masyarakat, Elsa mengimbau kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit kronis untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Ia juga mengingatkan masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan untuk menggunakan masker yang sesuai, menjaga asupan cairan, serta memenuhi kebutuhan nutrisi.

“Kurangi aktivitas luar bagi populasi yang rentan. Gunakan masker yang sesuai, perbanyak cairan, kemudian anak-anak juga perlu cukup cairan dan makan buah yang cukup,” tutupnya. (HER)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |