Pengamat Ungkap Lemahnya Pengawasan Truk di Sitinjau Lauik, Jalan Ekstrem Picu Kecelakaan

10 hours ago 11

Langgam.id – Pakar dan pengamat transportasi publik dari Universitas Andalas, Yossyafra, menilai kondisi topografi Jalur Sitinjau Lauik yang menjadi penghubung Kota Padang dan Solok tidak memenuhi standar ideal untuk lintasan kendaraan dengan volume tinggi, khususnya kendaraan berat.

Menurutnya, karakteristik jalan nasional tersebut memiliki kemiringan ekstrem menjadi faktor utama tingginya potensi kecelakaan lalu lintas di kawasan itu.

“Jalan Sitinjau Lauik memang secara topografi tidak sesuai dengan standar yang ideal, terutama karena kemiringan jalannya sangat ekstrem,” kata Yossyafra kepada Langgam.id, Rabu (20/5/2026)

Ia mengatakan, kondisi geografis menyebabkan kendaraan, terutama truk bermuatan berat, menghadapi risiko tinggi saat melintas. Salah satu ancaman yang paling sering terjadi adalah rem blong akibat beban kendaraan yang berat dan kondisi turunan yang curam.

“Dengan kondisi yang ekstrem tersebut, potensi kecelakaan sangat besar. Risiko kendaraan berat salah satunya adalah rem blong, dan itu dipengaruhi juga oleh topografi yang ekstrem tadi,” ujarnya.  

Selain persoalan keselamatan, Yossyafra juga menyoroti kemacetan panjang yang kerap terjadi. Tingginya volume kendaraan berat yang melintas menjadi penyebab utama kepadatan arus lalu lintas. 

Ia menjelaskan, seluruh kendaraan bermuatan berat saat ini terpusat melintasi Sitinjau Lauik, sehingga beban lalu lintas di jalur itu semakin berat dari waktu ke waktu.

“Dilema yang ada di Sitinjau Lauik memang kondisi topografinya curam dan ekstrem. Kemudian kendaraan berat cenderung berjalan beriringan sehingga sangat sulit bagi kendaraan penumpang untuk menyalip,” jelasnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Yossyafra menilai pemerintah perlu mempercepat pembangunan infrastruktur alternatif, khususnya Jembatan Panorama I dan Jembatan Panorama II. 

Sementara untuk jangka pendek, ia meminta pemerintah memperketat pengawasan terhadap kendaraan berat yang melintasi Sitinjau Lauik, terutama dari sisi pengemudi dan kelayakan kendaraan.

“Pengawasan kendaraan berat yang melewati jalur ini harus semakin ketat. Terutama pengemudi, karena risiko paling tinggi memang ada pada pengemudi,” tuturnya. 

Dari catatan Direktorat Lalu Lintas Polda Sumbar, kurun waktu Januari hingga April 2026, telah terjadi enam kasus kecelakaan di Jalur Sitinjau Lauik. Insiden ini bahkan membuat dua nyawa melayang, dan sejumlah korban luka ringan dan berat.  

Pada Januari, kecelakaan terjadi pada Januari melibatkan truk Fuso Mitsubishi BM-8018-QU, becak motor Suzuki Sogun BA-6167-HD, dan truk tangki Hino BA 8238 OAU. 

Kemudian Februari 2026, terjadi dua kali kecelakaan. Kasus pertama tercatat dalam LP/A/81/II/2026 yang melibatkan truk los bak Hino B 9797 CU dengan sepeda motor Yamaha Nmax BA 3150 IF yang menyebabkan satu orang mengalami luka ringan.

Kecelakaan kedua tercatat dalam LP/92/II/2026, melibatkan sepeda motor Yamaha Xeon BA 3576 KS dengan kendaraan lain. Dalam kejadian tersebut, satu orang mengalami luka ringan.

Lalu, Maret 2026, dua kecelakaan kembali terjadi. Pertama laporan polisi LP/A/157/III/2026 mencatat kecelakaan antara truk box Hino W 8031 UT dengan sepeda motor Honda Beat BH 2213 DW, dua orang mengalami luka ringan.

Selanjutnya, kecelakaan dengan nomor laporan LP/A/176/III/2026 melibatkan sepeda motor Honda PCX BA 5621 HAD dengan Honda Beat Street BA 4533 AAJ. Dua orang dilaporkan mengalami luka ringan. 

Terakhir, pada April 2026, kecelakaan tercatat dalam LP/A/221/IV/2026 yang melibatkan kendaraan pick up Mitsubishi L300 BA 8658 AJ dengan seorang penumpang yang berdiri di bagian belakang kendaraan tersebut. Satu orang dilaporkan meninggal dunia. (WAN) 

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |