RADARSUKABUMI.COM – Bagi sebagian orang, belajar mungkin berhenti ketika pendidikan formal telah selesai. Namun bagi Ade Roni Ronaldo, belajar justru menjadi perjalanan yang tidak mengenal garis akhir.
Garis Nurbogarullah, Sukabumi
Lahir di Sukabumi pada 10 Juni 2001, Ade Roni tumbuh sebagai pemuda yang memandang pendidikan bukan sekadar jalan untuk meraih gelar, tetapi sebagai proses untuk membentuk cara berpikir, memperluas wawasan, sekaligus mempersiapkan diri agar mampu memberi manfaat lebih luas.
Setelah menyelesaikan pendidikan sebagai Sarjana Ilmu Pemerintahan, ia memilih kembali duduk di bangku kuliah. Kali ini, Ade menempuh pendidikan DIII Farmasi.
Pilihan tersebut menjadi gambaran bagaimana dirinya terus berusaha keluar dari zona nyaman. Ilmu pemerintahan dan farmasi berada pada bidang yang berbeda, tetapi bagi Ade, keduanya memiliki satu titik temu yaitu pengetahuan yang pada akhirnya harus memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat.
“Bagi saya, belajar bukan hanya tentang mendapatkan gelar. Belajar adalah bagaimana kita terus memperbaiki diri, membuka cara pandang dan mempersiapkan kemampuan agar bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain,” ujar Ade.
Perjalanan akademik itu kemudian berjalan beriringan dengan aktivitas organisasi. Sejak menjadi mahasiswa, Ade aktif mengambil peran dalam berbagai ruang kemahasiswaan. Ia tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi berani mengambil tanggung jawab kepemimpinan.
Pada 2023–2024, ia dipercaya menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (HIMIP). Amanah tersebut menjadi salah satu ruang penting bagi Ade untuk belajar mengelola organisasi, menyatukan berbagai karakter, sekaligus memperjuangkan kepentingan mahasiswa.
Setahun berikutnya, kepercayaan kembali datang. Ade dipercaya mengemban posisi sebagai Wakil Presiden Mahasiswa periode 2024–2025. Bagi Ade, jabatan dalam organisasi bukanlah tentang posisi yang berada di depan nama. Justru di balik sebuah jabatan terdapat tanggung jawab untuk mendengar, memahami persoalan, mengambil keputusan, dan memastikan setiap langkah organisasi memiliki arah yang jelas.
“Organisasi mengajarkan saya bahwa menjadi pemimpin bukan berarti selalu berada di depan. Kadang seorang pemimpin harus berada di tengah, mendengarkan banyak suara, memahami persoalan, kemudian mencari jalan keluar bersama,” katanya.
Perjalanan tersebut semakin berkembang ketika Ade aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di organisasi kemahasiswaan yang memiliki sejarah panjang dalam membentuk tradisi intelektual dan kepemimpinan tersebut, ia kembali menempa dirinya.
Ade pernah dipercaya sebagai Sekretaris Umum Komisariat STISIP Syamsul Ulum periode 2023–2024. Setelah itu, kiprahnya berlanjut di tingkat cabang dengan mengemban amanah sebagai Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah serta Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda (PTKP) HMI Cabang Sukabumi periode 2024–2025.
Berbagai pengalaman tersebut mempertemukan Ade dengan beragam persoalan. Mulai dari dinamika mahasiswa, isu kepemudaan, pendidikan, hingga persoalan pembangunan daerah yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Dari sana, ia semakin memahami bahwa idealisme pemuda tidak cukup hanya disampaikan melalui gagasan. Idealisme membutuhkan keberanian untuk bergerak dan kerja nyata agar dapat dirasakan manfaatnya.
Kini, perjalanan panjang itu membawanya pada amanah yang lebih besar. Ade Roni Ronaldo dipercaya menjadi Ketua Umum (Ketum) HMI Cabang Sukabumi periode 2026–2027.
Amanah tersebut sekaligus menjadi babak baru dalam perjalanan organisasinya. Sebagai Ketua Umum, ia dituntut tidak hanya mampu menjaga keberlangsungan organisasi, tetapi juga menghadirkan gagasan yang relevan dengan tantangan mahasiswa, pemuda, dan masyarakat Sukabumi.
Ade menyadari, tantangan organisasi kepemudaan hari ini semakin kompleks. Perkembangan teknologi, perubahan sosial, persoalan pendidikan, lapangan kerja, hingga berbagai persoalan pembangunan daerah membutuhkan generasi muda yang tidak hanya kritis, tetapi juga mampu menawarkan solusi.
Karena itu, ia ingin menjadikan HMI sebagai ruang pembelajaran yang melahirkan kader-kader yang memiliki kapasitas intelektual, kepekaan sosial, serta keberanian untuk mengambil peran di tengah masyarakat.
“Menjadi ketua umum bukan akhir dari proses, justru ini adalah awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Saya ingin HMI menjadi ruang bagi kader untuk belajar, berdiskusi, mengasah gagasan dan kemudian menerjemahkannya dalam bentuk pengabdian,” tutur Ade.
Baginya, organisasi tidak boleh berhenti pada rutinitas rapat, pergantian kepengurusan, atau kegiatan seremonial. Organisasi harus memiliki napas perjuangan yang dapat menjawab kebutuhan zaman dan persoalan masyarakat.
Ia pun berharap generasi muda tidak takut untuk mencoba, gagal, kemudian kembali belajar. Sebab menurutnya, pengalaman dan proses jauh lebih berharga ketika seseorang bersedia terus bergerak.
“Anak muda jangan takut untuk belajar dari berbagai bidang. Jangan takut berbeda, jangan takut menyampaikan gagasan, dan jangan takut mengambil tanggung jawab. Karena dari proses itulah karakter dan kapasitas kita dibentuk,” ucapnya.
Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa sekaligus aktivis organisasi, Ade terus berusaha menjaga satu prinsip yang menjadi pijakannya dalam menjalani kehidupan hidup untuk belajar, bergerak untuk memberi arti, dan berjuang untuk kemaslahatan.
Kalimat itu bukan sekadar slogan. Ia menjadi rangkuman dari perjalanan Ade sejauh ini, dari ruang kuliah, organisasi mahasiswa, hingga amanah kepemimpinan di HMI Cabang Sukabumi.
Bagi Ade, perjalanan masih panjang. Gelar akademik boleh bertambah, jabatan organisasi suatu saat akan berakhir, tetapi proses belajar dan pengabdian tidak semestinya berhenti.
“Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan hanya tentang apa yang kita capai untuk diri sendiri, tetapi seberapa besar keberadaan kita bisa memberi arti bagi orang lain. Saya ingin terus belajar, terus bergerak, dan sebisa mungkin hadir untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (*)

17 hours ago
9















































