
Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd
Ketua Umum DPP AKSI
DISKUSI sangat singkat dengan sosok dan tokoh Jawa Barat, Kang Herman Suryatman (KHS). Singkat tapi menyengat, menancap ke pikiran dan ulu hati. KHS kini menjadi influencer dan tokoh Jawa Barat pasca menjadi Sekda Provinsi Jawa Barat.
Apa dua kalimat yang KHS sampaikan? Ia mengutip dari pemikiran Albert Einstein. Dua kalimat itu adalah *“Pikiran Terbuka”* dan *“Hati Terluka”*. KHS mengatakan “Seseorang berubah karena dua hal: 1) pikirannya terbuka dan 2) hatinya terluka”.
Pikiran yang terbuka dan hati yang terluka, bagi KHS adalah pintu awal perubahan. Baginya, bila kita ingin memberi pengaruh pada seseorang, termasuk pada keluarga atau orang yang kita cintai, “congkel” pikirannya agar terbuka. Lukai hatinya, agar Ia pedih, perih, sakit, melakukan pembelaan dan “pemberontakan”.
KHS mengatakan “Dengan pikiran terbuka, perbaikan dan perubahan akan berjalan linier. Tapi dengan hati terluka, perbaikan dan perubahan akan berlangsung ekspotensial. Basisnya tentu kita harus memiliki kondisi mental psikologis yang baik, apabila tidak maka akan sebaliknya”. Nampaknya KHS menuntut kita punya kesadaran, agar pikiran dan perasaan terkontrol dengan baik.
Semua manusia punya elan vital dan harga diri. Ketika sang manusia dihina, direndahkan, dilukai, maka Ia akan melakukan pembelaan diri. Pembelaan diri ini adalah sebuah energi dahsyat yang bersemayam dalam setiap diri Sang Manusia. Setiap manusia punya kekuatan lebih yang tidak disadari.
Kekuatan, potensi, bakat dan kelebihan seseorang bisa muncul ketika Ia tertantang karena dihina, direndahkan, dilukai hatinya. Tentu saja perubahan itu hanya akan terjadi bila hatinya terbuka, sadar, introsfeksi dan punya obesi. Pemikiran terbuka, hati yang terluka adalah pemantik potensi diri setiap manusia.
Sangat masuk akal dan sejumlah fakta menjelaskan, beberapa tokoh dunia pun tumbuh karena pikiran terbuka dan hati yang terluka. Bukankah Bung Karno pikirannya terbuka dan hatinya terluka sejak remaja karena hinaan orang Belanda.
Bung Karno mencintai seorang gadis Belanda. Saat Ia punya hati yang berbunga bunga, punya gairah memiliki seorang gadis bule yang cantik. Apa yang terjadi kemudian? Orangtuanya yang Belanda menolak dan bahkan menghina Bung Karno yang bumi putera, inlander dan tidak level, beda derajat.
Bung Karno hatinya terluka, terhina, dendam dan bangkit. Dalam pemikiran dan bawah sadarnya, Ia mengatakan “Tunggu pada saatnya, semua orang Belanda akan saya usir dari tanah airku”. Setidaknya demikian pemikiran Bung Karno muda. Sejak saat itu pikirannya terbuka, sakit hatinya terus menyala.
Sahabat pembaca, bukankah pergerakan kebangsaan, lahirnya organisasi pergerakan dan perjuangan kemerdekaan karena pikiran terbuka dan hati bangsa yang terluka? Bukankah HOS Cokroaminoto diantara tokoh yang pikirannya terbuka? Bukankah Ki Hajar Dewantara, Hatta, Syahrir, Natrsir adalah orang orang yang hatinya terluka dan dilukai kaum penjajah?
Kemerdekaan bangsa Indonesia, 17 Agustus tahun 1945 lahir karena “Pikiran Terbuka” dan “Hati Bangsa Yang Terluka”. Tak dapat dibantah pikiran dan perasaan adalah kekuatan luar biasa yang ada dalam diri setiap manusia, setiap bangsa dan warga dunia.
Descartes mengatakan, “Aku berpikir maka aku ada”. Jalaluddin Rumi mengatakan, “Luka adalah tempat di mana cahaya masuk”. Penderitaan dianggap sebagai proses yang membersihkan jiwa dan membuka pintu menuju pencerahan. Descartes dan Rumi meyakini, pikiran dan hati adalah dualitas kekuatan yang bisa memantik perubahan.
Sahabat pembaca, bukankah Nabi Muhammad SAW adalah pribadi yang “Hatinya Terluka” sejak Ia lahir dan remaja. Saat lahir Ia tak punya seorang bapak. Hidup terluka dan tak normal, dibesarkan oleh bukan bapaknya. Kegetiran masa remaja Muhammad membuatnya merenung, melakukan perlawanan pada semesta raya.
Muhammad dewasa, terbuka pikiranya pasca merenung di Gua Hira. Masa kecil “Hatinya Terluka”, masa dewasa “Pikirannya Terbuka” tercerahkan. Terutama kehadiran istri tercinta yang menjadi “teman sharing” membangkitkan keterbukaan pemikiran. Ibarat Bung Karno dengan Inggit Ganarsih yang lebih dewasa dan memilikin pemikiran matang. Muhammad SAW pun demikian.
Kembali ke judul di atas, kembali pada pesan jleb KHS, pikiran terbuka, hati terluka adalah diantara syarat perubahan dan perbaikan hidup manusia. Pepatah bijak mengatakan “Siapa diri kita? Tiada lain adalah diri pikir dan diri rasa (hati). Kita (manusia) adalah makhluk dualitas, pikiran dan hati (rasa).
Bukankah kelahiran Sang Bayi ada yang terbuka dan terluka? Itulah ayat kauniyah yang harus kita terjemahkan bersama. Bayi lahir melalui proses terbuka dan terluka, kita pun manusia dewasa secara psikologis mesti terbuka dan terluka agar “lahir” dalam kehidupan yang lebih baik. ***

21 hours ago
9














































