Kepala Bidang Kemitraan dan Penataan Hukum Lingkungan DLH Kabupaten Sukabumi, Arli HarlianaSUKABUMI-Program Adiwiyata jangan sampai hanya menjadi ajang mengejar predikat bagi sekolah.
Lebih dari itu, program peduli dan berbudaya lingkungan tersebut, harus mampu melahirkan kebiasaan baik yang melekat dalam kehidupan sehari-hari para siswa.
Hal itu ditegaskan Kepala Bidang Kemitraan dan Penataan Hukum Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi, Arli Harliana.
Menurutnya, predikat Adiwiyata sejatinya merupakan bentuk apresiasi terhadap sekolah yang berhasil membangun serta menerapkan budaya lingkungan secara konsisten.
“Adiwiyata bukan perlombaan untuk menentukan sekolah mana yang paling unggul,” tegas Arli.
Ia menjelaskan, keberhasilan program Adiwiyata tidak semata-mata diukur dari penghargaan yang diterima sekolah.
Jauh lebih penting, bagaimana nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan benar-benar menjadi bagian dari perilaku warga sekolah.
“Mulai dari kebiasaan memilah dan mengurangi sampah, menjaga kebersihan lingkungan, menghemat penggunaan air dan energi, hingga merawat tanaman,” terangnya.
Masih kata Arli, kebiasaan sederhana tersebut diharapkan terus dilakukan secara konsisten dan tidak berhenti ketika siswa meninggalkan lingkungan sekolah.
“Ketika budaya lingkungan sudah terbentuk, manfaatnya bukan hanya predikat. Sekolah menjadi lebih nyaman, bersih, dan kebiasaan baik itu dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Menurut Arli, sekolah memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Sebab, lingkungan pendidikan bukan hanya tempat siswa memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga ruang untuk membangun sikap, perilaku, dan kepedulian terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya.
“Karena itu, budaya yang dibangun melalui Adiwiyata diharapkan dapat terbawa hingga ke rumah dan lingkungan masyarakat. Siswa yang terbiasa memilah sampah di sekolah, misalnya, diharapkan tetap melakukan hal serupa ketika berada di rumah,” terangnya.
Begitu pula dengan kebiasaan menghemat air dan energi serta menjaga kebersihan, lanjut Arli, jika dilakukan secara terus-menerus, kebiasaan tersebut berpotensi menjadi karakter yang tidak hanya memberi manfaat bagi sekolah, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat.
“Jadi yang paling penting bukan sekadar mendapatkan predikat Adiwiyata. Bagaimana budaya peduli lingkungan itu benar-benar hidup dan menjadi kebiasaan,” paparnya.
Dengan demikian, tegas Arli keberhasilan Adiwiyata tidak berhenti pada sebuah penghargaan yang dipajang di lingkungan sekolah.
Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika kepedulian terhadap lingkungan tumbuh menjadi karakter dan dibawa siswa dalam kehidupan sehari-hari.
“Sebab, sekolah yang bersih dan nyaman hanyalah awal. Tujuan akhirnya adalah melahirkan generasi yang mampu menjaga lingkungan, dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten,” tuturnya.
Diberitakan sebelumnya, sebanyak 42 sekolah diusulkan mengikuti pembinaan program Adiwiyata. Usulan tersebut berasal dari Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi, masing-masing mengajukan 21 sekolah dan dari puluhan sekolah tersebut, baru 15 sekolah yang dinilai memenuhi kriteria untuk ditindaklanjuti sebagai calon Sekolah Adiwiyata Kabupaten Sukabumi. (Ndi)

18 hours ago
13















































