Siswa SMK Informatika CBI Cicurug, Kabupaten Sukabumi Ciptakan Sistem Proteksi Kebakaran Berbasis IoT

5 hours ago 4
Dua siswa SMK Informatika CBI Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Muhammad Rico Dwitama dan Reza Akbar Septian, menunjukkan prototipe alat "Sistem Proteksi Kebakaran" berbasis Internet of Things (IoT) buatan mereka. Alat ini dirancang untuk mendeteksi asap dan api secara dini sekaligus melakukan pemadaman air otomatis serta mengirimkan notifikasi darurat via Telegram.

SUKABUMI – Keprihatinan terhadap maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah, termasuk Kalimantan, mendorong dua siswa SMK Informatika CBI Cicurug, Kabupaten Sukabumi, menciptakan inovasi teknologi untuk mendeteksi sekaligus merespons kebakaran sejak dini.

Adalah Muhammad Rico Dwitama dan Reza Akbar Septian, dua siswa yang mengembangkan “System Proteksi Kebakaran”, sebuah prototipe sederhana berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu mendeteksi asap dan api, memberikan peringatan, hingga mengaktifkan pompa air secara otomatis ketika api terdeteksi.

Ide tersebut muncul setelah keduanya melihat pemberitaan mengenai kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan dan beberapa wilayah lainnya. Mereka kemudian mencoba mencari solusi sederhana yang dapat memberikan respons cepat sebelum kebakaran semakin meluas dan ditangani petugas.

“Kami membuat proyek ini karena melihat berita kebakaran yang ramai akhir-akhir ini, terutama kebakaran di Kalimantan. Kami ingin membuat solusi agar ke depannya kebakaran bisa dideteksi lebih awal,” ujar Muhammad Rico Dwitama.

Dalam pengembangannya, Rico dan Reza memanfaatkan sejumlah komponen elektronik, di antaranya ESP32, motor driver L298N, sensor asap/gas, sensor api, buzzer, LED, pompa mini, tangki air, kabel USB serta beberapa komponen pendukung lainnya.

ESP32 menjadi bagian penting dalam sistem tersebut. Sensor asap digunakan untuk mendeteksi keberadaan asap atau gas yang berpotensi menjadi indikasi awal kebakaran.

Ketika asap mulai terdeteksi dalam kondisi tebal, sistem akan memberikan peringatan melalui buzzer dan LED. Informasi kondisi tersebut juga dapat dikirimkan melalui Telegram, sehingga pengguna memperoleh pemberitahuan mengenai adanya potensi bahaya.

Sementara itu, ketika sensor api mendeteksi keberadaan nyala api, sistem akan memberikan respons lebih lanjut. ESP32 mengaktifkan motor driver L298N yang kemudian menghidupkan pompa mini.

Pompa tersebut selanjutnya mengalirkan air dari tangki melalui selang menuju area yang terdeteksi mengalami kebakaran.
“Ketika sensor api menyala, buzzer akan berbunyi dan pompa juga otomatis menyala untuk menyalurkan air. Informasinya juga dikirim melalui Telegram,” jelasnya.

Menurutnya, sistem tersebut dirancang sebagai pemadaman darurat, sehingga dapat memberikan respons awal sebelum api ditangani lebih lanjut oleh petugas pemadam kebakaran.

Menariknya, prototipe tersebut berhasil diselesaikan hanya dalam waktu sekitar lima hari. Meski masih berupa sistem sederhana, keduanya berharap teknologi tersebut dapat terus dikembangkan agar memiliki kemampuan yang lebih luas dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Tujuan utama pembuatan proyek ini adalah menciptakan sistem proteksi kebakaran yang mampu mendeteksi potensi kebakaran secara dini serta memberikan respons pemadaman otomatis, sehingga risiko penyebaran api dapat ditekan.

Selain mendeteksi asap dan api, sistem tersebut memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari respons otomatis tanpa pengoperasian manual, pemadaman cepat melalui pompa air, sistem peringatan menggunakan buzzer dan LED, hingga peluang pengembangan menuju teknologi IoT.

“Harapannya alat ini bisa dikembangkan lebih besar lagi dan nantinya bisa benar-benar bermanfaat untuk masyarakat,” harap Rico.

Bagi Rico dan Reza, pembuatan sistem proteksi kebakaran tersebut bukan pengalaman pertama dalam mengembangkan teknologi robotik.

Sebelumnya, mereka juga pernah membuat sejumlah proyek, termasuk sensor banjir dan berbagai inovasi berbasis sensor lainnya. Pengalaman tersebut menjadi modal untuk mengembangkan sistem proteksi kebakaran yang lebih kompleks.

Keduanya bahkan pernah meraih kategori terbaik dalam kompetisi internasional bertema robotik kesehatan. Pengalaman tersebut semakin mendorong mereka untuk terus bereksperimen menciptakan teknologi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga memiliki manfaat nyata.

Melalui proyek System Proteksi Kebakaran, kedua siswa SMK Informatika CBI Cicurug itu ingin menunjukkan bahwa teknologi sederhana pun dapat menjadi bagian dari solusi menghadapi persoalan lingkungan.

Terlebih, inovasi tersebut sejalan dengan semangat Green Tech, yakni pemanfaatan teknologi untuk membantu mengatasi persoalan lingkungan dan menciptakan kehidupan yang lebih berkelanjutan.(wdy)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |