
SUKABUMI –Pengabdian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 02 Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) di Desa Sirnamekar, Kabupaten Sukabumi, resmi berakhir.
Selama sekitar satu setengah bulan, mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga meninggalkan sejumlah bekal penting bagi masyarakat.
Sebanyak 18 program digulirkan sejak Juli hingga pertengahan Agustus 2026. Dari berbagai kegiatan tersebut, program kesiapsiagaan bencana menjadi salah satu yang paling menonjol mengingat Desa Sirnamekar memiliki sejumlah wilayah yang rawan banjir, longsor dan kebakaran.
Rangkaian kegiatan ditutup melalui lokakarya akhir yang berlangsung di Aula Desa Sirnamekar, Jumat (14/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memaparkan hasil pengabdian sekaligus menyerahkan keberlanjutan program kepada masyarakat dan pemerintah desa.
Salah satu capaian penting KKN Kelompok 02 UMMI adalah terbentuknya Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Desa Sirnamekar. Forum tersebut diharapkan menjadi wadah masyarakat untuk membangun kesiapsiagaan secara mandiri dan berkelanjutan.
Mahasiswa juga memberikan pelatihan Katana dan menggelar simulasi tanggap bencana yang melibatkan warga serta perangkat desa.
Simulasi dilakukan mulai dari proses evakuasi hingga penanganan kondisi darurat ketika bencana terjadi. Tidak hanya pelatihan, mahasiswa turut memasang rambu-rambu peringatan di sejumlah titik rawan.
Penunjuk jalur evakuasi juga disiapkan sebagai bagian dari upaya memperkuat mitigasi bencana di lingkungan desa.
Dosen Pembimbing Lapangan sekaligus Ketua Tim PMM, Euis Kania Kurniawati, mengatakan pengetahuan yang diberikan kepada masyarakat diharapkan dapat menjadi bekal menghadapi potensi bencana.
“Kami berharap transfer ilmu yang diberikan akan sangat bermanfaat sebagai bagian dari mitigasi dan kesiapan warga terhadap bencana yang sering terjadi di Kabupaten Sukabumi,” kata Euis kepada Radar Sukabumi, Jumat (21/8).
Selain kebencanaan, mahasiswa juga mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pelatihan kerajinan macrame.
Kegiatan yang menyasar ibu-ibu rumah tangga tersebut mengajarkan pembuatan berbagai produk seperti gantungan kunci, gantungan tas hingga gantungan handphone.
Pelatihan itu dilakukan melalui kerja sama dengan Rumah Nyonya, komunitas kerajinan asal Bandung yang digawangi Vini Diar Mutiara. Ia mengatakan keterlibatannya dalam kegiatan tersebut juga didorong keinginan untuk berkontribusi bagi daerah asalnya.
“Karena saya asli Sukabumi, jadi saya juga ingin berkontribusi untuk kemajuan Sukabumi,” kata Vini.
Kepala Desa Sirnamekar Ajat Sudrajat mengapresiasi berbagai program yang telah dilaksanakan mahasiswa.
Menurutnya, salah satu perubahan yang paling terasa adalah meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai kebencanaan.
“Pengetahuan masyarakat Desa Sirnamekar mengenai bencana sudah meningkat, sehingga apabila terjadi bencana mereka sudah paham apa yang harus dilakukan,” ujar Ajat.
Ajat berharap keterampilan macrame yang telah diberikan dapat terus dikembangkan masyarakat sehingga memiliki nilai ekonomi dan berkelanjutan.
Ia juga berharap kolaborasi antara Desa Sirnamekar dan UMMI melalui kegiatan KKN dapat terus dilaksanakan. “Kami berharap kegiatan KKN dari UMMI ini akan berlanjut setiap tahunnya,” pungkasnya.
Berakhirnya KKN bukan berarti berakhir pula manfaat yang ditinggalkan. Sebaliknya, 18 program yang telah dijalankan diharapkan menjadi modal bagi masyarakat untuk melanjutkan berbagai kegiatan secara mandiri.
Dari kesiapsiagaan menghadapi bencana hingga pengembangan ekonomi kreatif, KKN Kelompok 02 UMMI meninggalkan pesan bahwa perubahan dapat dimulai dari desa.
“Sirnamekar kini memiliki pengetahuan, keterampilan dan forum yang diharapkan mampu menjadi fondasi untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh dan berdaya,” tutupnya. (*)

13 hours ago
16

















































