Batik Ge HaDe, Kriya Inklusif Perajin Difabel Jabar yang Curi Perhatian Dekranasda Kota Sukabumi

6 hours ago 6
Batik Ge HaDe yang ditampilkan.

RADARSUKABUMI.COM – Di balik selembar kain batik, ada cerita tentang ketekunan, keberanian, dan kesempatan untuk berdiri dengan kemampuan sendiri. Cerita itu datang dari para perajin difabel yang tergabung dalam UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel.

Garis Nurbogarulah, Sukabumi

Karya mereka kini mendapat panggung yang lebih luas melalui Grand Launching Batik Ge HaDe di Gedung Kebudayaan Jawa Barat, Jalan Naripan, Kota Bandung, Jumat (21/8/2026). Peluncuran tersebut bukan sekadar memperkenalkan motif dan produk batik baru. Lebih jauh, Batik Ge HaDe menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menjadi batas bagi seseorang untuk berkarya, menjaga tradisi, sekaligus membangun kemandirian ekonomi.

Dari tangan para perajin difabel, kain batik diolah menjadi produk yang memiliki nilai seni sekaligus membawa pesan tentang inklusivitas. Setiap karya seakan menjadi bukti bahwa kesempatan dan dukungan yang tepat dapat membuka jalan bagi siapa pun untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai. Kehadiran Batik Ge HaDe juga memperlihatkan bagaimana pelestarian kebudayaan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat. Batik tidak hanya ditempatkan sebagai warisan budaya yang harus dijaga, tetapi juga sebagai pintu masuk menuju kewirausahaan dan penguatan ekonomi para perajinnya.

Kegiatan yang mendapat dukungan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Barat itu menjadi bentuk apresiasi terhadap proses panjang yang dijalani para perajin difabel. Ketua Dekranasda Provinsi Jawa Barat, Noneng Komara Nengsih mengatakan, pengembangan batik perlu dibarengi dengan ekosistem yang mampu membuat para perajin tumbuh dan memiliki daya saing.

Penguatan kewirausahaan, inovasi desain, peningkatan kualitas produk hingga promosi menjadi bagian penting agar karya para perajin tidak berhenti sebagai produk kerajinan, tetapi mampu menembus pasar yang lebih luas. “Upaya yang adil, inklusif, dan bermakna tentu lahir dari ekosistem yang mendukung kelestarian budaya sekaligus pemberdayaan masyarakat. Karena itu, karya-karya seperti Batik Ge HaDe perlu terus kita apresiasi dan dukung agar semakin berkembang,” ujar Noneng.

Pesan tersebut terasa semakin kuat karena Batik Ge HaDe lahir dari tangan para penyandang disabilitas. Mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat program pemberdayaan, tetapi tampil sebagai pelaku kreatif yang menghasilkan produk dengan nilai budaya dan ekonomi.

Perjalanan Batik Ge HaDe tidak berhenti di ruang peluncuran. Agar produk kerajinan inklusif memiliki masa depan yang lebih panjang, diperlukan dukungan dari berbagai daerah, termasuk dalam membuka akses pasar. Hal itu terlihat dari kehadiran Ketua Dekranasda Kota Sukabumi, Ranty Rachmatilah bersama jajaran pengurus dalam agenda tersebut. Kehadiran Ranty menjadi bentuk dukungan terhadap karya para perajin difabel sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi antarwilayah dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif Jawa Barat.

Ranty mengaku bangga melihat karya batik yang dihasilkan para penyandang disabilitas. Baginya, Batik Ge HaDe memperlihatkan bahwa produk lokal Jawa Barat memiliki cerita sekaligus potensi yang layak mendapatkan ruang lebih besar.

“Saya diundang oleh Dekranasda Jawa Barat untuk menghadiri peluncuran Batik Ge HaDe. Ini adalah batik yang dibuat oleh orang-orang difabel, sangat luar biasa. Kita harus mengapresiasi karya anak Jawa Barat dan kita harus mendukung produk nasional, terutama Jabar,” kata Ranty.

Dukungan tersebut menjadi penting karena keberlanjutan produk kerajinan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan karya. Perajin juga membutuhkan akses promosi, pemasaran, jejaring usaha, hingga konsumen yang bersedia memberikan ruang bagi produk lokal. Dalam konteks itu, Batik Ge HaDe membawa dua pesan sekaligus. Pertama, tentang bagaimana warisan budaya seperti batik terus dirawat melalui kreativitas generasi dan komunitas yang beragam. Kedua, tentang bagaimana industri kreatif dapat menjadi jalan menuju kemandirian bagi penyandang disabilitas.

Peluncuran edisi kedua Batik Ge HaDe pun menjadi penanda bahwa karya tersebut terus berkembang. Dari selembar kain, muncul cerita tentang kesempatan, keberanian, dan kerja keras untuk membangun kemandirian. Pada akhirnya, Batik Ge HaDe bukan hanya tentang motif yang tertuang di atas kain. Ada tangan-tangan yang bekerja, ada kemampuan yang terus diasah, dan ada harapan agar karya para perajin difabel semakin dikenal.

Di tengah upaya Jawa Barat memperkuat ekonomi kreatif berbasis budaya, Batik Ge HaDe menunjukkan bahwa inklusivitas bukan sekadar slogan. Ia bisa hadir dalam bentuk karya nyata yang memiliki nilai seni, ekonomi, sekaligus kemanusiaan. (*)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |