SUKABUMI- Dua koper menjadi bekal awal Kudakwashe Zhou ketika meninggalkan Zimbabwe untuk mengejar pendidikan di Indonesia.
Jauh dari keluarga, bahasa ibu, makanan kesukaan, hingga lingkungan yang selama ini dikenalnya, mahasiswa asal Afrika itu datang membawa satu hal yang lebih besar yaitu harapan.
Kini, setelah perjalanan panjang tersebut, Drey Afrika Sunda—sapaan yang melekat pada dirinya—berdiri di atas panggung Wisuda ke-16 Nusa Putra University.
Bukan sekadar sebagai salah satu wisudawan, mahasiswa Program Studi Hukum itu dipercaya menyampaikan pidato sebagai perwakilan mahasiswa asing.
Perjalanan Drey tidak sekadar tentang menyelesaikan pendidikan tinggi. Di balik toga yang dikenakannya, tersimpan cerita tentang keberanian meninggalkan keluarga, beradaptasi dengan bahasa dan budaya baru, hingga menemukan rumah kedua di Sukabumi.
Di hadapan sivitas akademika dan para wisudawan, ia membagikan pengalaman selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa internasional di Indonesia.
Dengan mengusung tema “Love in Action, Impact in Motion”, kisah Drey menjadi gambaran bahwa pendidikan mampu melampaui batas negara dan budaya.
Keputusan Drey meninggalkan Zimbabwe untuk menempuh pendidikan di Indonesia bukan perkara mudah. Ia harus meninggalkan keluarga, makanan favorit, bahasa ibu, serta lingkungan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya.
Ketika pertama kali tiba di Indonesia dan menuju Nusa Putra University, Drey hanya membawa dua koper. Selain barang-barang pribadi, ia juga membawa banyak pertanyaan tentang kehidupan barunya di negeri yang begitu jauh dari tanah kelahirannya.
Ada kegembiraan karena akan memulai perjalanan baru. Namun, ada pula rasa takut dan ketidakpastian.
Seiring waktu, perasaan tersebut perlahan berubah, Drey justru menemukan lingkungan yang membuatnya merasa diterima dan dihargai sebagai mahasiswa internasional.
“Choosing Nusa Putra, however, turned out to be one of the best decisions of my life,” ungkap Drey dalam pidatonya.
Awalnya, reputasi akademik dan visi internasional menjadi alasan Drey memilih Nusa Putra University. Namun, pengalaman selama menjadi mahasiswa memberinya sesuatu yang jauh lebih besar.
Bagi Drey, kehidupan di Nusa Putra University bukan hanya tentang mengikuti perkuliahan dan menyelesaikan tugas akademik.Kampus menjadi ruang baginya untuk bertemu dengan mahasiswa dari berbagai daerah dan negara. Perbedaan bahasa, budaya, dan latar belakang justru menjadi pengalaman berharga.
Sebagai mahasiswa internasional, Drey merasa tidak hanya ditempatkan sebagai orang asing. Ia mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi, belajar, dan menjadi bagian dari lingkungan kampus.
“It bridges cultures effortlessly, offering an environment where an international student like me isn’t just accommodated, but truly welcomed and valued,” tuturnya.
Pengalaman tersebut turut membentuk perjalanan Drey hingga berhasil menyelesaikan pendidikan di Program Studi Hukum Nusa Putra University.
Ada cerita unik lain dalam perjalanan Drey selama tinggal di Sukabumi. Sebagai pemuda asal Zimbabwe, ia justru menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap budaya lokal, khususnya budaya Sunda. Kedekatan dengan masyarakat dan budaya Sunda membuat dirinya dikenal dengan sebutan “Drey Afrika Sunda.”
Julukan tersebut menjadi simbol pertemuan dua budaya. Drey tetap membawa identitasnya sebagai pemuda Zimbabwe, tetapi pada saat yang sama membuka diri untuk mengenal budaya Indonesia.
Baginya, perbedaan bukan sesuatu yang harus dijauhkan. Justru melalui perbedaan, seseorang dapat belajar memahami dunia dengan perspektif yang lebih luas.
Perjalanan itu juga memperlihatkan bagaimana lingkungan pendidikan dapat menjadi jembatan pertukaran budaya. Setelah melewati proses panjang, Drey akhirnya sampai pada titik yang selama ini menjadi impiannya yang mana Drey resmi menjadi Sarjana Hukum dari Nusa Putra University.
Gelar tersebut menjadi buah dari keberaniannya meninggalkan Zimbabwe dan menempuh pendidikan di negara yang memiliki bahasa serta budaya berbeda.
Namun, keberhasilan itu tidak hanya menjadi milik Drey seorang. Dalam pidatonya, ia memberikan penghargaan kepada para dosen yang telah membimbingnya selama menjalani pendidikan. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pimpinan Nusa Putra University yang telah membangun lingkungan akademik yang inklusif.
Dan yang tidak kalah penting adalah keluarganya di Zimbabwe.
Di tengah kehidupan sebagai mahasiswa internasional, Drey tetap mendapatkan kekuatan dari keluarga melalui panggilan telepon, pesan penyemangat, doa, serta dukungan tanpa syarat.
Momen tersebut menjadi pengingat bahwa di balik keberhasilan seorang mahasiswa yang belajar jauh dari tanah kelahirannya, terdapat keluarga yang terus memberikan dukungan dari kejauhan.
Bagi Drey, setiap dukungan tersebut menjadi energi untuk bertahan dan menyelesaikan pendidikan. Kini, setelah resmi menyandang gelar Sarjana Hukum di Nusa Putra University, perjalanan Drey memasuki babak baru
Namun, ia meninggalkan perjalanan pendidikan itu dengan membawa ilmu, pengalaman, persahabatan, kecintaan terhadap budaya Sunda, serta kenangan tentang sebuah tempat yang telah menjadi rumah keduanya.
Kisah Drey Afrika Sunda menunjukkan bahwa pendidikan tidak mengenal batas geografis. Seorang pemuda dari Zimbabwe dapat datang ke Sukabumi, belajar hukum, mengenal budaya Sunda, membangun persahabatan lintas negara, hingga akhirnya berdiri di panggung wisuda sebagai seorang sarjana.
Tema “Love in Action, Impact in Motion” yang diusung dalam Wisuda ke-16 Nusa Putra University seolah menemukan maknanya dalam perjalanan Drey. Sebab, pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan gelar lebih dari itu, pendidikan adalah perjalanan untuk mengenal manusia, menghargai perbedaan, membuka cakrawala, dan menciptakan dampak. (wdy)

3 hours ago
3















































