UMKM Naik Kelas, BI Dorong Produk Sumbar Bidik Pasar Jepang, Prancis hingga Amerika

4 hours ago 5

Langgam.id — Produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Sumatera Barat (Sumbar) didorong tidak lagi hanya bermain di pasar lokal. Bank Indonesia (BI) Sumbar mulai mengarahkan pelaku usaha daerah untuk naik kelas dan memperluas pasar hingga mancanegara.

Jepang, Prancis hingga Amerika Serikat menjadi sejumlah pasar yang dibidik untuk produk-produk unggulan Sumbar.

Kepala Perwakilan BI Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram mengatakan, Sumbar memiliki potensi besar untuk mengembangkan UMKM karena didukung beragam produk unggulan berbasis budaya, kreativitas dan kekayaan alam daerah.

Mulai dari wastra, songket, sulaman, kriya, fesyen, kuliner, kopi hingga berbagai produk ekonomi kreatif lainnya dinilai memiliki peluang untuk bersaing di pasar global.

“Dari Nagari untuk Negeri,” menjadi salah satu semangat yang dibawa BI dalam mendorong produk lokal agar tidak berhenti di pasar domestik.

Menurut Majid, membawa UMKM naik kelas tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Pelaku usaha juga harus memiliki kemampuan mengelola bisnis, menjaga kualitas produk, memanfaatkan teknologi digital, mengakses pembiayaan serta memahami kebutuhan pasar yang dituju.

“Produk unggulan Sumatera Barat perlu terus ditransformasikan menjadi nilai tambah ekonomi, perluasan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya, Jumat (28/8/2026).

Ia mengatakan, jumlah UMKM di Sumbar yang mencapai lebih dari 662 ribu unit merupakan potensi ekonomi yang sangat besar. Namun, jumlah tersebut harus diikuti peningkatan kualitas agar semakin banyak UMKM yang mampu berkembang dari usaha skala kecil menjadi usaha yang lebih kuat dan berdaya saing.

Karena itu, BI Sumbar mendorong pelaku UMKM tidak hanya go digital, tetapi juga mampu go export.

Digitalisasi menjadi salah satu pintu masuk. Dengan pemanfaatan teknologi, pelaku usaha dapat memperluas pemasaran, meningkatkan efisiensi, melakukan pencatatan transaksi dengan lebih baik hingga membuka akses terhadap pembiayaan.

Perkembangan transaksi digital di Sumbar juga menunjukkan tren positif. Hingga triwulan II 2026, pengguna QRIS di Sumbar telah mencapai 1,08 juta, dengan sekitar 754 ribu merchant. Volume transaksi QRIS bahkan tumbuh 158 persen secara tahunan.

Namun, digitalisasi bukan satu-satunya pekerjaan rumah. Produk UMKM yang hendak masuk pasar global harus memenuhi standar kualitas, memiliki kemasan yang menarik, konsisten dalam produksi serta mampu memenuhi permintaan dalam jumlah dan waktu yang ditentukan.

BI Sumbar juga berupaya mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli, perbankan, investor dan jejaring bisnis melalui Sumatera Barat Creative Economy Festival (SCF) 2026.

SCF 2026 yang berlangsung pada 28-30 Agustus 2026 menghadirkan lebih dari 60 UMKM dengan beragam produk unggulan daerah.

Tidak hanya menjadi ajang promosi, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan untuk membuka peluang kerja sama dan pembiayaan bagi pelaku UMKM.

Business matching pembiayaan yang difasilitasi dalam kegiatan tersebut mencatat nilai sekitar Rp101,9 miliar.

Bagi BI Sumbar, akses pembiayaan menjadi bagian penting dalam proses UMKM naik kelas. Sebab, peluang pasar yang besar tidak akan optimal apabila pelaku usaha terkendala modal untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Di sisi lain, pelaku UMKM juga perlu mulai melihat perubahan tren pasar global, termasuk meningkatnya permintaan terhadap produk yang memiliki nilai budaya, ramah lingkungan dan diproduksi secara berkelanjutan.

Hal tersebut menjadi peluang bagi Sumbar yang memiliki kekayaan budaya dan sumber daya alam yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

Majid mengatakan, pengembangan UMKM juga tidak bisa dilakukan sendiri oleh satu pihak. Diperlukan sinergi pemerintah, perbankan, dunia usaha, komunitas, akademisi hingga pelaku UMKM.

“Dari Nagari untuk Negeri, kita ingin membawa UMKM dari produk yang baik menjadi bisnis yang kuat, dari pasar lokal menuju pasar yang lebih luas, serta dari potensi menjadi prestasi,” ujarnya.

Dorongan terhadap UMKM tersebut sejalan dengan perkembangan ekonomi Sumbar. Pada triwulan II 2026, ekonomi Sumbar tumbuh 4,54 persen secara tahunan. Dari sisi pengeluaran, ekspor luar negeri tercatat tumbuh 13,01 persen.

Pertumbuhan ekspor tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pasar luar negeri memiliki ruang yang besar untuk terus dikembangkan.

Tantangannya kini adalah bagaimana semakin banyak produk UMKM Sumbar yang mampu masuk ke pasar tersebut.

Dengan jumlah UMKM yang mencapai ratusan ribu unit, Sumbar memiliki basis pelaku usaha yang besar. Jika diikuti peningkatan kualitas produk, penguatan kapasitas produksi, digitalisasi, pembiayaan dan akses pasar, bukan tidak mungkin semakin banyak produk dari ranah Minang yang nantinya terpajang di etalase pasar dunia.

Targetnya pun bukan sekadar menjual produk ke luar negeri, tetapi menjadikan UMKM Sumbar sebagai pelaku usaha yang mampu bertahan dan bersaing di pasar global.

Dari nagari, produk Sumbar diharapkan bisa menembus Jepang, Prancis, Amerika dan pasar internasional lainnya. (HER)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |