Tragedi bunuh diri oknum siswa dan mahasiswa Gen Z yang viral beberapa hari ini, menyentakkan kesadaran kolektif kita betapa kritisnya ternyata masa depan mereka yang digadang-gadang sebagai generasi emas ini. Petaka yang bisa jadi hanya puncak gunung es itu, sungguh tidak bisa dilihat semata insiden biasa belaka. Kita wajib memaknainya sebagai alarm keras bahwa ada ketidakberesan yang serius dalam mendidik mereka, sekaligus signal kuat begitu beratnya tugas pendidikan ke depan.
Gen Z yang memiliki dunia dan cara pandang tersendiri, tidak adil hanya dinilai buruk secara sepihak, semisal terlalu lemah, baper, tak berpendirian, over sensitif, tidak imun represi, atau tidak tahan banting. Justifikasi ini justru menyesatkan dan tak lebih dari respon pengalihan problem yang jauh lebih mendasar, yakni kegagalan memahami mereka dan sejatinya mutlak diikuti oleh transformasi cara mendidik yang tepat.
Hidup Dalam Dua Dunia; Memahami Gen Z
Gen Z lahir dan tumbuh di dunia yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka hidup pada lanskap digital yang tak pernah benar-benar sunyi. Generasi ini siang malam berada dalam dunia penuh tekanan yang tak kasat mata. Notifikasi yang terus berbunyi, paparan media sosial yang tak berhenti, dan desakan kuat untuk mampu tampil ideal di ruang publik virtual.
Karenanya, mereka sebetulnya memiliki kesadaran emosional yang tinggi, tetapi realitas memaksa mereka lebih rentan pada kecemasan dan tekanan sosial. Mereka bukan lemah, tapi hidup dalam kompleksitas problematik di dunia maya. Maka, ketika dipaksa menghadapi dunia nyata, muncul ketegangan atau mismatch antara habitus digital dan tuntutan realitas sosial. Dunia digital yang serba cepat, instan, dan bisa dikontrol, sama sekali berbeda dari dunia nyata yang lamban, kompleks, dan penuh resistensi.
Mereka terbiasa dengan like and comment. Jika tidak suka bisa scroll, bila terganggu segera block, dan logout manakala sudah lelah. Begitu juga kontrol citra diri yang tak jarang berkamuflase melalui seabrek fitur, serta pilihan semu untuk segera keluar (exit) maupun batal (cancel) dari situasi yang tak disukai. Karenanya, saat menghadapi realitas sosial semisal konflik langsung, penolakan nyata, ataupun tekanan tanpa pilihan, seketika muncul shock psikologis yang luar biasa.
Meski Gen Z kuat secara digital, tetapi rentan eksistensial. Ketegangan terjadi ketika mereka terbentuk oleh habitus digital, tetapi harus hidup dalam struktur sosial riil. Habitus serba cepat, penuh pencitraan, dan validasi eksternal, berhadapan dengan realitas yang butuh ekstra kesabaran serta kesiapan konflik langsung dan terbuka. Mereka juga mengalami overexposure (paparan berlebihan) akibat banjir informasi, tuntutan, dan ekspektasi di satu sisi dengan tekanan sosial yang tinggi di sisi lain.
Akibatnya terjadi eskalasi kecemasan kronis dan perasaan tak berdaya yang berujung kelelahan mental dalam ketidakterlatihan mengelola emosi. Tragisnya, dalam situasi labil ini maka jalan pintas “end game” atau “game over” layaknya permainan digital bisa jadi alternatif spontan bagi Gen Z tanpa pertimbangan panjang dan mendalam.
Sekolah dan Rumah yang Menyamankan
Sebagian besar waktu Gen Z dihabiskan di bangku kelas dan sisanya di rumah. Sebagai objek edukasi, Gen Z adalah produk pendidikan, karenanya tidak keliru jika tragedi yang menimpa mereka dibaca sebagai kegagalan total pendidikan, baik formal maupun informal.
Artinya, sekolah dan rumah tangga mau tidak mau harus ikut serta bertanggungjawab. Harus dijawab, sejauh mana keduanya berfungsi sebagai institusi yang memelihara serta mengoptimalkan fitrah dan potensi Gen Z menuju kedewasaan. Juga sejauh mana proses itu dilakukan secara humanis, integral, balance, universal dan dinamis, dengan memposisikan mereka sebagai manusia utuh, baik aspek fisik, psikis, intelektual, spiritual, maupun sosial.
Apapun yang terjadi pada Gen Z, bukan muncul spontanitas, tetapi akumulasi proses panjang yang dikonstruk dunia sekitarnya. Tak terbantahkan, bahwa sekolah dan rumah adalah lingkungan terdekat yang intens membentuk Gen Z dengan problematika yang multikompleks tersebut.
Sekolah dan rumah mutlak introspeksi diri, sejauh mana internalisasi resiliensi dan kedewasaan emosional dilakukan. Meski mereka fasih menavigasi algoritma, tetapi keliru jika dibiarkan sendiri menghadapi realitas. Harus dipahami bahwa ruang digital sejatinya sepi, meski tampak ramai. Konektivitas yang sangat tinggi, selalu terhubung, tampil, dan berinteraksi, namun paradoksnya keterhubungan itu tidak selalu berarti kedekatan.
Gen Z bisa saja ramai secara sosial di alam maya, tetapi sunyi secara eksistensial di alam nyata. Kondisi ini menjadi lahan subur tumbuh dan berkembangnya kesepian, kecemasan, kehampaan, hingga perasaan tak bermakna. Celakanya, di tengah krisis eksistensial ini sekolah dan rumah, guru dan orang tua, justru serta merta menimpakan kesalahan pada Gen Z, alih-alih membersamai mereka untuk menyemangati, memberi penguatan dan membantu menemukan solusi.
Krisis eksistensial yang diderita Gen Z seperti itu mengindikasikan sekolah cenderung hanya mengukir prestasi akademik, tetapi gagal membaca eksistensi siswa. Begitu pula keluarga, meski hadir secara fisik, namun nyaris absen secara emosional. Sekolah dan rumah dituntut bertransformasi dari corak lama dengan disiplin yang kaku, relasi hierarkis yang kering, serta minim ruang dialog.
Gen Z harus dididik dengan penuh empati, karena butuh ruang aman untuk bicara, dipahami, dan menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi. Sekolah harus menjadi ruang nyaman, bukan sekadar ruang belajar. Guru wajib menjadi pendengar, lebih dari sekedar pengajar. Keluarga pun harus menjadi tempat pulang yang nyaman bagi psikis, berbagi keluh dan kesah, bukan sekadar tempat tinggal fisik semata. Beri mereka jaminan perlindungan dan kepastian yang menenangkan untuk tidak kehilangan arah dan harapan. Wallahu a’lam
*Penulis: Faisal Zaini Dahlan (Dosen UIN IB Padang)

11 hours ago
9














































