Rupiah Tertekan: Mengapa Tidak Masuk Akal?

2 hours ago 5

Pelemahan rupiah menuju kisaran Rp17.800 per dolar AS tampak tidak masuk akal jika publik hanya membaca angka pertumbuhan dan inflasi. Ekonomi Indonesia masih tumbuh 5,61 persen pada kuartal I-2026. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen. Inflasi April 2026 berada pada 2,42 persen, sedangkan inflasi inti 2,44 persen. Cadangan devisa juga masih sekitar 146,2 miliar dolar AS. Dengan indikator seperti ini, masyarakat wajar bertanya: mengapa rupiah tetap tertekan ketika fundamental domestik belum memburuk?

Jawabannya terletak pada cara pasar membaca risiko. Pasar valuta asing tidak hanya melihat pertumbuhan PDB. Pasar membaca pasokan dolar, arus modal, imbal hasil global, defisit transaksi berjalan, kredibilitas fiskal, dan konsistensi kebijakan. Rupiah melemah bukan karena ekonomi Indonesia runtuh, melainkan karena pasar menilai tekanan eksternal dan risiko kebijakan sedang meningkat. Di titik ini, ungkapan “tidak masuk akal” menjadi kritik terhadap kesenjangan antara kekuatan data domestik dan lemahnya respons ekspektasi pasar.

Faktor eksternal memberi tekanan paling besar. Dolar AS tetap kuat karena pasar memperkirakan suku bunga global akan tinggi lebih lama. Investor global mencari aset aman, terutama dolar dan obligasi Amerika Serikat. Ketidakpastian geopolitik, perang dagang, dan perlambatan ekonomi dunia memperkuat arus dana keluar dari pasar negara berkembang. Indonesia ikut terkena dampaknya. Ketika investor asing mengurangi eksposur pada saham dan obligasi rupiah, permintaan dolar naik, sedangkan permintaan aset rupiah melemah.

Faktor domestik memang bukan penyebab utama, tetapi ia memperbesar tekanan. Defisit transaksi berjalan sekitar 1,1 persen dari PDB pada kuartal I-2026 menunjukkan kebutuhan dolar untuk impor, jasa, pendapatan primer, dan pembayaran eksternal lebih besar daripada penerimaan valas rutin. Ekspor barang dan jasa tumbuh lambat, sedangkan impor tumbuh lebih cepat. Pola ini menekan persediaan dolar domestik. Saat rupiah melemah, importir mempercepat pembelian dolar, eksportir dapat menunda konversi devisa, dan investor meminta premi risiko lebih tinggi. Perilaku ini membuat tekanan kurs bergerak berulang.

Bank Indonesia sudah menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. BI juga memperkuat instrumen seperti SRBI, DNDF, operasi moneter, dan intervensi valas. Langkah ini penting karena BI harus menjaga daya tarik aset rupiah. Akan tetapi, suku bunga saja tidak cukup. Rupiah tidak hanya membutuhkan imbal hasil tinggi; rupiah membutuhkan kredibilitas kebijakan yang menyatu. Jika pasar melihat fiskal longgar, pasokan dolar terbatas, impor tinggi, dan komunikasi pemerintah tidak konsisten, bunga tinggi hanya menjadi penahan sementara.

Pasar obligasi memberi sinyal yang sama. Yield SBN 10 tahun berada di sekitar 6,7 persen, dan lelang utang jangka panjang mendekati 7 persen. Pemerintah masih dapat menerbitkan surat utang, tetapi pasar meminta harga lebih mahal. CDS lima tahun sekitar 90 bps juga belum menandakan krisis, tetapi posisinya lebih tinggi daripada benchmark BBB. Indonesia masih investment grade, dengan rating BBB/Baa2/BBB dari lembaga utama, tetapi outlook negatif dari sebagian pemeringkat memberi peringatan dini. Pasar belum panik, tetapi pasar jelas tidak santai.

Karena itu, pemerintah harus berhenti melihat pelemahan rupiah sebagai persoalan psikologis semata. Pemerintah perlu memperkuat pasokan dolar dengan mempercepat masuknya devisa hasil ekspor, mengendalikan impor konsumtif, menjaga impor produktif, dan memperluas ekspor bernilai tambah. Stimulus fiskal tetap perlu, terutama untuk menjaga daya beli. Akan tetapi, stimulus harus produktif. Belanja harus memperkuat pangan, energi, logistik, UMKM, manufaktur, agroindustri, dan sektor penghasil devisa. Stimulus yang hanya menaikkan konsumsi impor akan menambah tekanan rupiah.

BI juga perlu menjaga stabilitas rupiah tanpa berubah menjadi pembiaya fiskal. Intervensi di pasar valas perlu tetap terukur. SRBI harus menjaga daya tarik aset rupiah. DNDF dan swap harus memperkuat lindung nilai. Operasi moneter harus menjaga likuiditas tanpa memberi sinyal longgar berlebihan. Kebijakan moneter akan efektif jika pemerintah menjaga disiplin fiskal dan konsistensi kebijakan.

Rupiah kuat bukan hanya soal kurs. Rupiah kuat mencerminkan kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi. Fundamental Indonesia memang masih cukup baik, tetapi fundamental tidak akan otomatis menjaga rupiah jika pasar meragukan pasokan dolar, pembiayaan APBN, dan konsistensi kebijakan. Karena itu, jawaban atas pelemahan rupiah bukan sekadar pernyataan optimistis. Jawabannya adalah kredibilitas: BI tegas, fiskal disiplin, pasokan valas diperkuat, dan komunikasi pemerintah konsisten. Tanpa itu, rupiah akan terus tertekan meskipun data domestik terlihat kuat.

*Penulis: Syafruddin Karimi (Dosen dan Guru Besar Departemen Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |