Langgam.id — Setelah dilanda banjir dan longsor di berbagai daerah dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia kini menghadapi ancaman baru berupa musim kemarau yang diperkirakan datang lebih awal dan berpotensi lebih ekstrem.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan musim kemarau 2026 mulai terjadi pada April di sejumlah wilayah. Kondisi ini berpotensi semakin kering dan panjang apabila dipengaruhi fenomena El Nino.
Pakar Ilmu Tanah Universitas Andalas (UNAND), Dian Fiantis, mengingatkan bahwa perubahan pola musim tidak hanya berdampak pada cuaca, tetapi juga langsung memengaruhi kondisi tanah dan sektor pertanian.
“Tanah itu seperti spons. Saat hujan, air diserap dan disimpan. Namun ketika kemarau panjang terjadi, cadangan air akan terus berkurang hingga akhirnya habis,” ujarnya dikutip dari laman kampus, Selasa (17/3/2026).
Menurut Dian, berkurangnya curah hujan akibat El Nino menyebabkan awan hujan bergeser dari wilayah Indonesia. Akibatnya, tanah kehilangan kelembapan secara bertahap melalui penguapan dan serapan oleh tanaman.
Gejala awal kekeringan dapat terlihat dari munculnya retakan pada permukaan tanah, terutama pada tanah bertekstur liat. Retakan tersebut menjadi indikator menurunnya cadangan air secara signifikan.
“Jika retakan mulai muncul, itu menandakan tanah mengalami kekeringan serius. Tanaman akan kesulitan memperoleh air, sementara lahan menjadi lebih keras dan sulit diolah,” katanya.
Kondisi kering juga berdampak pada kehidupan mikroorganisme tanah yang berperan penting dalam menjaga kesuburan. Ketika kelembapan menurun, aktivitas mikroba ikut melemah sehingga proses pelepasan nutrisi bagi tanaman terhambat.
“Unsur hara sebenarnya masih tersedia di dalam tanah, tetapi tidak dapat dimanfaatkan optimal karena proses biologisnya melambat,” ujar Dian.
Ia menjelaskan, setiap jenis tanah memiliki kemampuan menyimpan air yang berbeda. Tanah berpasir cenderung cepat kehilangan air, sementara tanah liat mampu menahan air lebih lama tetapi akan mengeras saat kering. Adapun tanah vulkanis yang banyak ditemukan di Indonesia relatif lebih tahan terhadap kekeringan, meski tetap memiliki keterbatasan.
Selain itu, ancaman kebakaran hutan dan lahan juga meningkat, terutama di wilayah gambut. Saat mengering, gambut menjadi sangat mudah terbakar dan api dapat merambat hingga ke lapisan bawah tanah, sehingga sulit dipadamkan.
“Setiap kemarau panjang hampir selalu diikuti peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan. Ini harus diantisipasi sejak dini,” ujarnya.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, Dian menekankan pentingnya pemantauan dini berbasis teknologi, termasuk pemanfaatan data satelit untuk memantau kelembapan tanah dan kesehatan vegetasi.
Informasi tersebut, lanjutnya, dapat menjadi dasar bagi petani dan pemerintah dalam menentukan strategi pengelolaan air serta penyesuaian waktu tanam yang lebih adaptif.
Ia juga mengingatkan bahwa fenomena El Nino menunjukkan keterkaitan erat antara sistem iklim global dan kondisi lokal di Indonesia.
“Perubahan suhu laut di Pasifik dapat menentukan apakah sawah kita mendapat air atau tidak. Karena itu, pengelolaan tanah dan air harus menjadi prioritas bersama,” katanya.
Sebagai negara agraris, Indonesia dinilai perlu memperkuat strategi menghadapi musim kemarau, mulai dari konservasi air, pengelolaan lahan, hingga peningkatan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
“Ketahanan pangan sangat bergantung pada bagaimana kita menjaga air dan tanah. Itu kunci utama menghadapi kemarau panjang,” tutur Dian.

19 hours ago
12















































