Gubernur Sumbar Klaim Rehabilitasi Lahan Pertanian Terdampak Bencana Tuntas 100 Persen

10 hours ago 9

Langgam.id— Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharullah mengklaim rehabilitasi lahan pertanian kategori rusak ringan dan sedang akibat bencana hidrometeorologi di Sumbar telah rampung 100 persen. Pemerintah daerah kini mulai memfokuskan penanganan pada lahan rusak berat dan sawah yang hilang akibat banjir dan longsor.

Pernyataan itu disampaikan Mahyeldi saat mengikuti kegiatan tanam padi serentak di Korong Tanah Taban, Nagari Pasie Laweh Lubuk Alung, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Rabu (13/5/2026).

“Proses rehabilitasi lahan terdampak bencana kategori rusak ringan dan sedang berhasil kita percepat dan tuntaskan. Hari ini penanaman terakhir dilakukan, artinya progres kita sudah 100 persen,” kata Mahyeldi.

Menurut dia, percepatan rehabilitasi lahan tidak terlepas dari dukungan Kementerian Pertanian, Balai Wilayah Sungai Sumatera V, serta pemerintah kabupaten dan kota terdampak bencana di Sumbar.

Untuk rehabilitasi lahan rusak ringan dan sedang tersebut, Kementerian Pertanian mengalokasikan anggaran sebesar Rp 32,9 miliar.

Mahyeldi mengatakan, tahap selanjutnya yang menjadi perhatian pemerintah adalah penanganan lahan pertanian rusak berat dan sawah yang hilang akibat bencana. Ia menyebut luas lahan terdampak berat di Sumbar mencapai sekitar 7.000 hektare, termasuk lebih dari 4.000 hektare lahan yang hilang karena berubah menjadi aliran sungai atau tergerus longsor.

“Sebagian lahan yang hilang sekarang berubah menjadi sungai, ada juga yang benar-benar tergerus longsor. Penanganannya tentu membutuhkan keterlibatan lintas kementerian,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemerintah daerah telah menyerahkan dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) kepada pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Saat ini, Pemprov Sumbar masih menunggu kepastian dukungan anggaran dan skema penanganan dari pemerintah pusat.

Selain fokus pada rehabilitasi pascabencana, Mahyeldi juga mengingatkan potensi ancaman musim kering dan dampak El Nino yang diperkirakan mulai terasa pada akhir Juni hingga Juli mendatang.

Menurut dia, percepatan masa tanam menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga produktivitas pertanian dan memastikan stok pangan tetap aman di tengah ancaman kekeringan.

“Kita diminta segera melakukan pemetaan dan langkah antisipasi menghadapi musim kering. Penanaman harus dipercepat supaya panen tidak terganggu,” katanya.

Sementara itu, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian RI Tedy Dirhamsyah mengapresiasi capaian Sumbar dalam mempercepat pemulihan lahan pertanian terdampak bencana. Ia menyebut Sumbar menjadi daerah dengan progres rehabilitasi terbaik dibanding sejumlah provinsi terdampak lainnya.

“Total lahan rusak ringan dan sedang di Sumbar mencapai 3.902 hektare dan progresnya sangat baik. Secara nasional rata-rata baru sekitar 14 persen, sedangkan Sumbar sudah memenuhi target,” kata Tedy.

Di sisi lain, Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis mengatakan sektor pertanian di daerahnya mengalami kerusakan cukup besar akibat banjir dan longsor yang terjadi beberapa waktu lalu.

Menurut dia, total lahan sawah terdampak di Padang Pariaman mencapai 1.263,4 hektare, terdiri dari rusak ringan, rusak sedang, rusak berat hingga sawah yang hilang terbawa arus sungai.

“Untuk sawah rusak ringan seluruhnya sudah tertangani 100 persen. Namun untuk lahan rusak berat dan sawah hilang sampai sekarang belum ada alokasi bantuan,” ujar John Kenedy Azis.

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |