Ketika Merah Putih Berkibar di Tanah Bencana, Mutis Masih Menunggu Pulang

1 hour ago 3

Langgam.id – Mentari bersinar dari ufuk timur Kota Padang ketika Mutis bergegas meninggalkan hunian sementara atau huntara di Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Senin (17/8/2026).

Bersama puluhan warga lainnya, ia berjalan menuju kawasan Gunung Nago untuk mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia. Pagi itu, langkahnya membawa cerita tentang kehidupan yang berubah setelah bencana banjir bandang melanda kawasan tempat tinggalnya di Kawasan Batu Busuk akhir tahun 2025 lalu.

Upacara bertajuk Basurah Alam itu digelar di dekat pintu lama Bendungan Gunung Nago, tepat di kawasan yang pernah diterjang banjir bandang. Lokasinya jauh dari kesan sebuah lapangan upacara pada umumnya.

Tanah tempat peserta berdiri tidak rata, sebagian cenderung miring, dan debu masih terlihat di permukaan. Di sekitar lokasi, jejak bencana masih begitu nyata. Tumpukan kayu, puing-puing bangunan, serta bantaran Batang Kuranji yang berubah menjadi pemandangan yang menyambut warga pagi itu.

Bagi Mutis, tempat tersebut bukan sekadar lokasi upacara. Kawasan Gunung Nago menjadi salah satu saksi dari peristiwa yang membuat kehidupannya bersama keluarga berubah. Ia merupakan salah seorang penyintas banjir bandang dari kawasan Batu Busuk, Kecamatan Pauh, Kota Padang.

Setelah bencana, rumah yang sebelumnya menjadi tempat keluarganya berteduh tidak lagi dapat digunakan sebagaimana mestinya. Sejak awal tahun 2026, Mutis bersama penghuni lainnya harus menjalani kehidupan di huntara di Kapalo Koto yang dibangun Pemerintah Kota Padang.

“Kami masih tinggal di huntara karena rumah sudah tidak bisa ditempati lagi setelah bencana karena rusak berat. Sampai sekarang kami masih menunggu kepastian kapan bisa pindah ke hunian tetap,” ujar Mutis kepada Langgam.id setelah upacara.

Huntara yang seharusnya menjadi tempat tinggal sementara kini menjadi bagian dari keseharian Mutis. Hari demi hari dilalui bersama keluarga dalam ruang yang dibangun sebagai tempat penampungan setelah bencana. Namun, waktu terus berjalan sementara kepastian untuk kembali memiliki rumah belum juga datang.

Kondisi tersebut membuat kehidupan warga penyintas tidak mudah. Setelah kehilangan rumah, mereka masih harus memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Bantuan yang sebelumnya menjadi salah satu penopang kehidupan juga tidak lagi dirasakan seperti pada masa awal setelah bencana.

Mutis mengatakan kehidupan di huntara saat ini semakin berat. Persoalan bukan hanya soal tempat tinggal, tetapi juga bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga ketika kondisi kehidupan belum kembali normal.

“Sekarang kami menjalani kehidupan seadanya. Bantuan juga sudah tidak seperti sebelumnya, sementara kami masih harus memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata dia.

Kehidupan di huntara juga dibayangi persoalan biaya listrik. Penghuni harus berbagi biaya penggunaan satu meteran listrik yang digunakan beberapa petak hunian. Kondisi tersebut menjadi beban tambahan bagi warga yang penghasilannya tidak selalu tetap.

Mutis membenarkan bahwa satu meteran listrik yang digunakan sekitar lima hingga tujuh petak huntara dapat mencapai sekitar Rp1,5 juta dalam sebulan. Biaya tersebut kemudian dibagi di antara para penghuni. Dalam kondisi ekonomi yang belum pulih, pengeluaran tersebut terasa cukup berat.

“Bencana memang sudah lewat, tetapi kehidupan kami belum kembali seperti dulu. Kami masih harus memikirkan tempat tinggal dan kebutuhan keluarga. Yang kami inginkan sebenarnya sederhana, bisa kembali tinggal di rumah yang layak dan menjalani kehidupan dengan tenang,” ucapnya.

Harapan untuk meninggalkan huntara kini bertumpu pada pembangunan hunian tetap. Mutis mengetahui bahwa pemerintah sedang mempersiapkan hunian tersebut. Namun, ketidakpastian mengenai waktu pemindahan membuatnya dan warga lain masih harus menunggu.

Ia berharap proses pembangunan dan pemindahan dapat segera diselesaikan. Sebab, semakin lama tinggal di huntara, semakin besar pula beban yang harus dikeluarkan.

“Kami berharap jangan terlalu lama lagi tinggal di huntara. Kami ingin segera pindah ke hunian tetap supaya kehidupan bisa kembali normal dan di huntara kami sudah jenuh. Kami ingin punya kepastian untuk keluarga, bukan terus menunggu tanpa tahu kapan bisa pindah,” tuturnya.

Pagi itu, untuk beberapa jam, persoalan tersebut seolah ditinggalkan Mutis. Ia berdiri bersama puluhan warga penyintas lainnya di kawasan bekas bencana untuk mengikuti upacara kemerdekaan.

Sekitar pukul 08.00 WIB, upacara dimulai. Para peserta berdiri di atas permukaan tanah yang tidak rata. Di hadapan mereka, merah putih dikibarkan menggunakan tiang bambu sederhana. Tidak ada lapangan luas atau fasilitas megah. Yang ada hanya kawasan terbuka bekas aliran sungai, sisa material banjir, serta bangunan lama Bendungan Gunung Nago yang masih berdiri.

Mutis mengikuti setiap rangkaian upacara dengan khidmat. Di tengah kawasan yang masih menyimpan luka akibat bencana, pengibaran merah putih terasa memiliki makna tersendiri. Warga datang bukan sebagai orang-orang yang kehidupannya telah pulih sepenuhnya, tetapi sebagai penyintas yang masih menjalani proses panjang untuk bangkit.

Bagi Mutis, perjuangan setelah bencana memiliki bentuk yang berbeda. Jika para pahlawan dahulu berjuang untuk merebut kemerdekaan, dirinya dan warga penyintas kini berjuang untuk mendapatkan kembali kehidupan yang layak.

“Kami ingin rumah kembali, ingin kehidupan keluarga kembali normal, dan ingin bisa hidup tanpa terus memikirkan kapan kami akan pindah dari huntara,” imbuhnya.

Di sekeliling lokasi upacara, Batang Kuranji terus mengalir dengan bentuk yang telah berubah. Tumpukan kayu dan puing menjadi pengingat tentang derasnya banjir yang pernah menerjang kawasan tersebut. Bantaran sungai juga masih dalam proses penataan.

Kontras itu begitu terasa pagi itu. Merah putih berkibar di tengah kawasan yang belum sepenuhnya pulih. Lagu-lagu kebangsaan terdengar dari tempat yang pernah dilanda bencana. Sementara di dalam barisan peserta, terdapat warga yang masih menunggu kepastian untuk mendapatkan rumah kembali.

Mutis berdiri di sana bersama warga lainnya. Untuk sesaat, mereka bukan sekadar penghuni huntara. Mereka adalah warga Kota Padang yang ikut merayakan 81 tahun kemerdekaan Indonesia.

Namun, setelah upacara selesai, kehidupan akan kembali seperti semula. Mutis akan kembali ke Huntara Kapalo Koto. Kembali menjalani hari bersama keluarga. Kembali menghadapi keterbatasan yang selama berbulan-bulan telah menjadi bagian dari kehidupannya.

“Semoga segera ada kepastian, karena kami juga ingin bangkit dan melanjutkan kehidupan setelah bencana ini,” katanya.

Peringatan HUT ke-81 RI di Gunung Nago akhirnya bukan hanya tentang upacara. Bagi Mutis dan warga penyintas lainnya, kegiatan tersebut menjadi gambaran tentang perjuangan yang masih berlangsung setelah bencana. Bencana memang telah berlalu. Air telah surut. Namun, bagi mereka yang kehilangan rumah, perjuangan belum selesai. (WAN)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |