Bermain Dua Papan

10 hours ago 9
Handi salam

HEDGING. Kata itu sering disalahpahami, masih pagi. Mungkin karena tidak mengerti, cara bermain dua papan. Banyak yang mengira artinya galau. Plin-plan. Tidak berani memilih. Padahal, dalam literatur kontemporer, hedging adalah seni bertahan hidup. Menyeimbangkan risiko tanpa harus beraliansi penuh. Itulah Indonesia saat ini.

Masalahnya, banyak orang masih membaca dunia dengan kacamata lama. Seolah setiap negara harus memilih kubu, seperti memilih klub sepak bola. Sekali masuk, harus setia seumur hidup. Padahal dunia multipolar hari ini tidak lagi punya satu pusat gravitasi. Negara-negara tidak mencari “rumah”, tapi “alat”. Tidak bergabung untuk tunduk, tapi untuk memanfaatkan.

Itulah mengapa sering terjadi salah paham. Ketika Indonesia masuk BRICS, publik buru-buru mengira itu tanda kesetiaan. Padahal bisa jadi itu hanya kalkulasi. Andrew Korybko pernah menyindir: mengira BRICS sebagai aliansi militer itu seperti mengira arisan ibu-ibu sebagai latihan militer cadangan.

BRICS sejak awal adalah koordinasi finansial, bukan NATO versi Timur. Jim O’Neill, ekonom Goldman Sachs, yang pertama kali mempopulerkan istilah BRIC di awal 2000-an.

Afrika Selatan baru belakangan bergabung. Jadi ketika Indonesia masuk BRICS, ia tidak menyerahkan kunci kedaulatan ke Beijing atau Moskow. Ia hanya menambah satu laci baru di lemari strateginya.

Indonesia bukan sedang memilih jalan. Indonesia sedang membuka semua jalan. Metaforanya sederhana: Indonesia bukan bidak catur.

Ia adalah pemain yang memegang dua papan sekaligus. Di satu papan, ia bermain dengan Washington, mendapat akses teknologi militer mutakhir. Di papan lain, ia bertransaksi dengan Moskow dan New Delhi, mengakumulasi daya gentar lewat rudal supersonik.

Selat Malaka adalah kuncinya. Jalur laut itu bukan sekadar perairan. Ia adalah keran oksigen bagi ekonomi dunia, terutama Tiongkok. 80 persen impor energi China melintas di sana.

Siapa yang menguasai Malaka, ia menggenggam denyut nadi industri global. Indonesia, dengan geografinya, tiba-tiba bukan lagi negara berkembang biasa. Ia menjadi penjaga gerbang.

Permainan ini bukan lahir kemarin sore. Ia warisan panjang sejak 1945: politik luar negeri “bebas aktif”. Prinsip yang sering disalahpahami sebagai netralitas. Padahal lebih tepat disebut “kebebasan untuk tidak dikurung”. Indonesia belajar dari kolonialisme, Perang Dingin, hingga krisis Asia, bahwa terlalu dekat pada satu kekuatan adalah cara tercepat kehilangan kedaulatan.

Masuknya Indonesia ke BRICS pada 2025 bukan langkah ideologis. Ini langkah matematis. Akses ke New Development Bank berarti pembiayaan tanpa ceramah panjang ala IMF. Diversifikasi pasar berarti tidak bergantung pada satu jalur dolar. Sementara kerja sama dengan Amerika membuka pintu teknologi yang tidak bisa dibeli di pasar bebas. Ini bukan kontradiksi. Ini orkestrasi.

India sudah memainkan simfoni ini lebih dulu. Anggota BRICS, tapi juga mitra pertahanan utama AS. Membeli minyak Rusia dengan diskon, sambil duduk di forum G7. Dunia tidak runtuh. Justru India tumbuh terlalu besar untuk ditekan, terlalu penting untuk diabaikan. Indonesia tampaknya membaca partitur yang sama.

Pertanyaannya bukan lagi “Indonesia memihak siapa?” tapi “berapa banyak yang bisa Indonesia ambil dari semua pihak?”

Dunia kini terbagi bukan antara Timur dan Barat. Tapi antara mereka yang bermain dan mereka yang menonton. Indonesia memilih bermain. Dengan 288 juta penduduk dan posisi geografis yang seperti poros engsel dunia, ia tidak mau jadi penonton.

Dalam permainan ini, kesetiaan bukan lagi mata uang utama. Yang bernilai adalah posisi, timing, dan kemampuan membaca arah angin sebelum badai datang.

Masih mampukah ia menahan diri? Atau justru terus membuktikan bahwa ia satu-satunya makhluk yang bisa menghancurkan rumahnya sendiri dengan penuh kesadaran. (*)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |