RADARSUKABUMI.COM – Tidak banyak guru yang mampu mengukir perjalanan panjang hingga dipercaya memegang amanah organisasi profesi di tingkat nasional. Di tengah kesibukan menjalankan tugas sebagai pendidik, Dudung Nurullah Koswara justru mampu membuktikan bahwa seorang guru dapat berkembang menjadi sosok yang berpengaruh dalam gerakan pendidikan.
BAMBANG SURYANA, SUKABUMI
Perjalanan Dudung dimulai dari ruang kelas. Sebagai seorang guru, ia tidak hanya menjalankan kewajiban mengajar, tetapi juga aktif dalam organisasi profesi. Dari aktivitas tersebut, kiprahnya perlahan berkembang hingga dipercaya menduduki posisi sebagai Ketua Umum DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI).
“Menjadi guru bagi saya bukan hanya tentang mengajar dan menyampaikan materi. Guru memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar, yaitu menyiapkan manusia untuk menghadapi masa depannya,” kata Dudung kepada Radar Sukabumi, Selasa (18/8).
Kepercayaan menjadi bagian dari kepemimpinan AKSI menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan kariernya. Terlebih, posisi tersebut diperoleh ketika dirinya masih berstatus sebagai guru aktif.
“Ketika masih menjadi guru, saya mendapatkan amanah untuk berada di organisasi profesi tingkat nasional. Bagi saya, itu bukan sekadar jabatan, tetapi sebuah tanggung jawab untuk membawa suara dan kepentingan guru,” ujarnya.
Menurutnya, organisasi profesi seharusnya menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas, meningkatkan kompetensi, serta memperjuangkan kualitas dan martabat para pendidik. “Organisasi profesi harus menjadi rumah bersama. Di sana guru bisa saling menguatkan, bertukar gagasan, memperjuangkan kepentingan pendidikan, sekaligus meningkatkan kualitas dirinya,” tuturnya.
Perjalanan Dudung kemudian memasuki babak baru, ketika dirinya dipercaya menjadi kepala sekolah. Perubahan posisi tersebut tidak membuatnya meninggalkan dunia organisasi dan gagasan pendidikan. Sebaliknya, pengalaman sebagai guru menjadi modal penting ketika ia harus menjalankan fungsi kepemimpinan di satuan pendidikan.
“Menjadi kepala sekolah membuat perspektif saya semakin luas. Kalau guru banyak bersentuhan dengan proses pembelajaran, kepala sekolah harus melihat sekolah secara utuh, mulai dari guru, peserta didik, orang tua, tata kelola, sampai lingkungan pendidikan,” jelasnya.
Amanah yang lebih besar kembali datang pada Kongres Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) tahun 2025. Dudung yang mewakili entitas kepala sekolah Jawa Barat dipercaya menjadi Ketua Umum DPP AKSI. “Ketika saya dipercaya menjadi Ketua Umum DPP AKSI, saya melihatnya bukan sebagai kemenangan pribadi. Ini adalah amanah dari para kepala sekolah yang harus dijawab dengan kerja nyata,” tegasnya.
Dirinya terpilih melalui kongres yang diikuti delegasi dari berbagai provinsi menjadi bukti bahwa pengalaman panjangnya di dunia pendidikan dan organisasi mendapatkan kepercayaan luas. “Kepercayaan itu mahal. Ketika puluhan utusan provinsi memberikan mandat, maka yang harus kita lakukan adalah bekerja, bukan sekadar menikmati jabatan,” cetusnya.
Sebagai Ketua Umum DPP AKSI, Dudung ingin menjadikan organisasi tersebut sebagai ruang bersama bagi para kepala sekolah untuk bertukar pengalaman, memperkuat kapasitas kepemimpinan, dan menghadapi berbagai tantangan pendidikan yang terus berubah. “Kepala sekolah harus terus belajar. Dunia pendidikan berubah sangat cepat. Karena itu, kepala sekolah tidak boleh merasa selesai hanya karena sudah mendapatkan jabatan,” ujarnya.
Di luar aktivitas organisasi dan kepemimpinan sekolah, Dudung juga dikenal produktif menuangkan pemikirannya melalui tulisan. Hingga kini, ia telah menyusun sekitar 50 judul buku yang menjadi bagian dari perjalanan intelektualnya sebagai pendidik.
“Menulis bagi saya adalah bagian dari pengabdian. Apa yang kita pikirkan dan alami jangan berhenti di diri sendiri. Kalau bisa dituliskan, mudah-mudahan gagasan itu bisa bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya.
Baginya, buku bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan salah satu cara seorang pendidik meninggalkan jejak pemikiran. “Guru tidak cukup hanya mewariskan nilai kepada muridnya di dalam kelas. Guru juga perlu mewariskan gagasan. Salah satu caranya adalah melalui tulisan dan buku,” ulasnya.
Di balik berbagai jabatan, pengalaman organisasi, serta puluhan buku yang telah disusun, Dudung tetap menempatkan peserta didik sebagai pusat dari seluruh pengabdiannya. “Menjadi pendidik adalah menjadi pelayan karakter bagi masa depan anak didik,” ucapnya.
Kalimat tersebut, menjadi gambaran bagaimana Dudung memandang profesi pendidikan. Baginya, seorang guru tidak hanya bertugas membuat anak menjadi pintar, tetapi juga membantu mereka tumbuh menjadi manusia yang memiliki karakter, tanggung jawab, dan nilai kehidupan. “Mendidik itu bukan pekerjaan yang hasilnya selalu bisa kita lihat hari ini. Kadang guru menanam hari ini, tetapi hasilnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian,” imbuhnya.
Ia pun mengibaratkan pendidikan sebagai sebuah investasi jangka panjang. “Melayani anak didik itu seperti menjadi investor masa depan. Kita menanam pengetahuan, karakter, keteladanan dan nilai-nilai kehidupan. Suatu saat, investasi itu akan kembali kepada masyarakat melalui anak-anak yang kita didik,” timpalnya.
Dari guru hingga menjadi pemimpin organisasi profesi, dari ruang kelas hingga panggung nasional, perjalanan Dudung menjadi gambaran bahwa profesi pendidik memiliki ruang pengabdian yang luas. “Jabatan bukanlah garis akhir. Justru setiap amanah merupakan pintu baru untuk memberikan manfaat yang lebih besar. Sebab, sejatinya seorang pendidik tidak hanya mengajar manusia untuk hidup pada hari ini, tetapi ikut menyiapkan wajah masa depan,” tutupnya. (*)

7 hours ago
4















































