Pindah dari Tarim ke Kairo seperti pergi dari satu kutub ke kutub yang lain. Tiga Huruf Kalau jumlah mahasiswa Indonesia di Tarim 6.000 orang, di Kairo 22.000 orang. Sama-sama aliran Sunni. Sama-sama ahli sunnah tapi beda kutub.
Pun di Kairo saya tidak tinggal di hotel. Banyak asrama mahasiswa di sana. Banyak provinsi punya rumah singgah sendiri-sendiri. Saya tinggal di rumah singgah seperti itu. Awalnya akan ditempatkan di rumah singgah provinsi Jatim. Penuh. Jabar juga penuh. Yang masih ada kamar: Griya Jateng. Di situlah saya tinggal –di kamar pojoknya.
Hari pertama di Griya Jateng terlihat ramai sekali. Itu hari libur: Jumat. Di Mesir liburnya Jumat-Sabtu. Minggu adalah hari kerja pertama.
Griya Jateng memang punya ruang besar: bisa untuk150 orang. Duduk lesehan. Ruang itu penuh. Di bagian kiri mahasiswa. Bagian kanannya mahasiswi. Mereka kuliah di Al Azhar University. Mereka mengisi akhir pekan dengan sarasehan.
Di hari ketiga terdengar suara gamelan dari ruang besar itu. Saya melongoknya. Ada 10 mahasiswi Al Azhar sedang latihan tari Jawa. Diiringi gending dari radio-tape. Saya heran mereka masih mikir tari Jawa –tidak mungkin ada seperti beginian di Tarim.
Mereka ternyata punya kelompok tari Jawa. Namanya: Sanggar Putri Kinanah. Ketuanyi: mahasiswi dari Blitar. Alumnus madrasah Gontor yang ada di Kediri. Namanyi: Azwa Purnama.
Saya tanya satu per satu daerah asal 10 mahasiswi cantik-cantik itu: Tasikmalaya, Padang, Jakarta, Lombok, Sumbawa. Begitu beraneka suku. Mereka tidak akan latihan bersama tari Jawa kalau tidak di Mesir. “Kami latihan seminggu dua kali,” ujar Ardel yang asal Tasikmalaya.
Selama di Kairo saya ditemani Ustaz Fauzi Syam Latif. Asal Bandung. Kini sudah punya rumah di Jakarta. Juga di Garut. Ia sudah 20 tahun di Mesir. Sudah punya dua mobil. Punya kolam ikan di Garut. Rumah kos-kosan dan ternak kambing.
Meski di Mesir awalnya ingin hafal Quran, ustaz Fauzi akhirnya lebih hafal cara impor ekspor. Juga lebih hafal riwayat pusat-pusat wisata di Mesir –ia harus menjelaskannya di luar kepada kepada rombongan wisata yang sering ia antar ke mana-mana.
Tahun pertama di Kairo, Fauzi mencapai target: hafal 15 juz Quran. Sudah 50 persen. Sambil tetap kuliah di Al Azhar. Tahun berikutnya ia punya target hafal seisi Quran.
“Itu karena saya terus ingat ayah saya. Beliau begitu nekat membiayai saya kuliah di Al Azhar,” katanya.
Sang ayah guru SD. Awalnya sang ayah ingin Fauzi masuk tentara. Adik sang ayah adalah tentara. Ia ingin anaknya seperti adiknya.
Fauzi pun ikut tes. Lulus semua. Tinggal tes terakhir. Gagal.
Sang ayah punya plan B: kalau gagal masuk tentara harus kuliah di Al Azhar, Mesir. Fauzi tidak tahu dari mana ayahnya dapat uang untuk memberangkatkannya.
Ketika ayahnya mengantar ke bandara, akhirnya Fauzi tahu semuanya. Termasuk tahu dari mana ayahnya dapat uang. Dan itu membuat tekad Fauzi membara: harus hafal Quran –di samping harus jadi sarjana.
Sebelum berpisah di beranda bandara sang ayah berkata lirih kepadanya: SK guru miliknya digadaikan untuk mendapat uang biaya keberangkatannya ke Al Azhar.
Ketika sudah hafal Quran 15 juz teman Fauzi minta tolong kepadanya: agar menggantikan sementara pekerjaan si teman. Yakni sebagai pelayan di restoran. Si teman akan konsentrasi mempersiapkan ujian akhir.
Begitu si teman mau masuk kerja lagi, juragan restoran tidak mau. Sang juragan minta agar Fauzi saja yang tetap di situ. Sang juragan sangat puas dengan kerja Fauzi.
Lama-lama Fauzi tidak hanya jadi pelayan. Ia diminta juga antar-antar barang. Dipercaya mengemudikan mobil. Diuruskan SIM Mesir. Dibiayai. Fauzi pun lebih menghafal lika-liku jalan di kota Kairo.
Dianggap tahu jalan, Fauzi diminta antar turis ke Piramid. Lalu keterusan. Sering diminta antar turis. Lama-lama Fauzi punya bisnis wisata sendiri. Sampai sekarang. Sampai punya dua mobil. Ia sosok favorit untuk mengantar rombongan dari Indonesia.
Bisnisnya terus berkembang. Termasuk mendatangkan bumbu-bumbu dari Indonesia. Juga mengirim barang-barang dari Mesir. Tiap bulan ia kirim tiga ton kurma Mesir ke Jakarta.
Penerbangan Mesir-Jakarta, baginya, sudah seperti dari Tanah Abang ke Tasikmalaya. Setahun bisa lebih 17 kali. Dagang Mesir-Jakarta.
Saat pertama bertemu di bandara Kairo saya minta maaf kepadanya: pesawat dari Yaman telat delapan jam. Baru mendarat di terminal 1 Kairo tengah malam.
Saya tidak mengeluh. Yamania memang hanya punya tiga pesawat. Bisa terbang keluar dari Yaman saja sudah Alhamdulillah. Apalagi pesawat itu telat karena harus singgah di Aden. Akhirnya saya bisa ke Aden –meski penumpang transit tidak boleh meninggalkan pesawat.
Fauzi punya kiat sukses khusus untuk menempuh kehidupan di Mesir. Sebaiknya itu juga jadi pegangan semua orang di Mesir. Di mana saja.
Kiat itu tecermin dari nama ”Mesir” yang dalam bahasa Arab hanya terdiri dari tiga huruf: mim (M), shot (S), dan ra’ (R).
M itu musibah. S itu sabar. R itu ridho.
Setiap kena Musibah ia harus Sabar, agar Ridho Allah turun kepadanya. Musibah, sabar, ridho.
Fauzi sendiri masih punya pegangan satu lagi. “Di Mesir ini saya juga berpedoman pada ‘Tiga S’,” katanya. Yakni Sabar, Sabaaar, dan Sabaaaaar.(Dahlan Iskan)

5 hours ago
9













































