Sel Janin

6 hours ago 12

Hari ini dokter ahli saraf kumpul di Surabaya. Sel Janin Salah satu acaranya simposium hubungan stemcell dengan keahlian mereka. Pembicaranya dari Ukraina.

Saya makan malam dengan dua wanita Ukraina itu tadi malam. Yang satu akan bicara soal pengaruh stemcell pada penyakit-penyakit saraf seperti parkinson, alzeimer, autis dan pertumbuhan berpikir anak yang lambat, satunya akan bicara soal latar belakang kemajuan ilmu stemcell di Ukraina.

“Saya lahir dua tahun setelah meledaknya reaktor nuklir Chernobyl,” ujar Maryna Kryshtun. Maryna banyak mendalami hubungan bencana Chernobyl dengan kemajuan dunia stemcell di Ukraina. “Bencana Chernobyl membuat begitu banyak orang Ukraina terkena radiasi. Maka ahli-ahli kedokteran di Ukraina melakukan banyak penelitian apa yang bisa menyembuhkan para korban,” ujar Maryna.

Maryna sendiri lahir di daerah yang jauh dari Chernobyl. Sekitar 500 km di arah barat. Keluarga mereka selamat antara lain karena arah angin tidak ke barat. Justru Kiev, ibu kota Ukraina yang dekat Chernobyl: hanya 100 km.

Salah satu akibat terkena radiasi nuklir adalah rusaknya sumsum tulang belakang. Padahal di situlah darah diproduksi. Saat itu ilmu Stemcell sudah lahir. Tapi yang tahu masih sangat terbatas. Perintisnya adalah ilmuwan Amerika, E Donnall Thomas yang menemukan ilmu transplantasi sumsum tulang belakang. Berkat penemuannya itu Donnall Thomas mendapat hadiah Nobel tahun 1990.

Dari situlah lahir ilmu stemcell. Ukraina –saat itu masih menjadi bagian dari Uni Soviet– harus memikirkan rehabilitasi korban Chernobyl.

Memang hanya dua orang meninggal langsung akibat Chernobyl, tapi lebih 4.000 orang meninggal pelan-pelan setelahnya. Bahkan ratusan ribu orang yang terganggu kesehatan mereka.

Salah satu dokter yang aktif melakukan riset stemcell untuk korban Chernobyl adalah Prof. Oleksandr (Alexander) Smikhodub/Smikodub. Belakangan ia mendirikan pusat penelitian EmCell. Setelah ia meninggal, seorang putranya meneruskan EmCell. Nama sang anak sama dengan bapaknya: Oleksandr/Alexander Smikodub.

EmCell inilah yang aktif memasarkan stemcell di Indonesia. Biarpun tarifnya 80.000 dolar, sekitar Rp 1,5 miliar, banyak juga orang Indonesia ke sana. Saya kenal beberapa orang dari mereka. Yang akan berangkat bulan depan pun ikut makan tadi malam.

Sel Janin

“Selama perang Rusia-Ukraina saya sudah 11 kali ke Kiev,” ujar Jimmy Widiarta, perwakilan EmCell di Jakarta. Jimmy selalu mengantar pasien yang ke sana. Rute terdekatnya: Jakarta-Istanbul-Warsawa ibukota Polandia. Dari Warsawa naik kereta api ke Kiev: 10 jam lebih.

Sejak perang Rusia dengan Ukraina memang tidak ada pesawat yang terbang ke Kiev. Rute terdekat lewat Warsawa. Bisa saja lewat Belarus tapi naik keretanya lebih jauh.

“Apakah Kiev aman dalam suasana perang selama ini?”

“Kiev aman,” ujar Dr Iryna Matiashchuk, yang pagi ini akan bicara soal stemcell di forum simposium nasional Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSI). Ketua PERDOSI Indonesia, dr Yudha Haryono ahli saraf dari Unair Surabaya.

“Langit Kiev dipayungi sistem keamanan,” tambah Maryna. “Militer kami kuat,” tambahnya. Kota Kiev memang tidak dipasangai Iron Dome seperti Israel, tapi pengamanan udaranya berlapis-lapis. Mulai dari Patriot, NASAMS, IRIS-T, SAMP/T, radar, dan tangkisan serangan elektronik.

Ibu kota Kiev mendapat perlindungan paling kuat di Ukraina.

Orang Kiev, kata Maryna, sudah tidak punya rasa takut. Sudah biasa. Hanya sesekali ada sirine tanda bahaya. Begitu ada sirine mereka sudah tahu barus bagaimana: ke bunker di bawah tanah. Tiap sekolah punya ruang bawah tanah. Pun tiap gedung. Bisa juga mereka menuju ke stasiun kereta bawah tanah untuk berlindung di sana.

“Saya, kalau sirinenya berbunyi tengah malam tidak akan lari. Pilih meneruskan tidur,” ujar Maryna.

“Skala 1 sampai 10 berapa rasa takut Anda?”

“Yaaah…. di level dua,” kata Maryna.

Salah satu pasien dari Indonesia memang ada yang menunda berangkat ke bulan Agustus. Bukan karena takut serangan Rusia melainkan begitulah anjuran suhu pribadinya.

Saya pun menghubungi Dr Yudha Haryono, Ketua Perdosi Indonesia: kenapa yang diundang berbicara dari Ukraina.

“Riset stemcell di sana sangat baik. Demikian juga hasilnya,” ujar Dr Yudha.

Ukraina memang mengklaim sebagai negara perintis penelitian stemcell menggunakan embrio bayi. EmCell sendiri ‘Em’-nya itu singkatan dari embrio.

Yang dimaksud embrio adalah janin bayi yang masih berumur tujuh minggu sampai 12 minggu –1,5 bulan sampai 3 bulan. Berarti saat janin masih baru terbentuk di rahim seorang ibu. Janin di umur itu sudah mulai membentuk kepala, tangan, kaki dan jari-jari –meski masih dalam bentuk sangat awal.

Di Ukraina menggugurkan kandungan tidak melanggar hukum. Legal. Bebas. “Negara kami yang paling liberal dalam soal ini,” ujar Maryna.

Setelah janin digugurkan, sel-selnya diambil lewat proses di laboratorium EmCell. Sel itu dikelompokkan menjadi 20 jenis –yang akan jadi sel 20 organ manusia. Ada sel yang akan menjadi ginjal, jantung, paru, liver dan 16 organ lain. Sel itu dibekukan di lab EmCell dengan suhu minus 196 derajat.

Dari situlah bisa dimanfaatkan secara khusus: bila ada pasien yang mengeluh soal ginjal maka sel ginjal yang akan disuntikkan ke pasien. Berarti lebih targeted.

Di samping yang targeted itu setiap pasien akan diberikan juga multicell. Artinya ‘sel sapu jagad’ –untuk apa saja, utamanya untuk awet muda.

Stemcell targeted itu diberikan secara suntikan. Lokasi suntiknya di perut.

“Kenapa di perut?”

“Perut adalah bagian tubuh yang paling banyak lemaknya,” ujar Dr Iryna.

Jaringan lemak memiliki pembuluh darah kecil yang lebih banyak. Itu bisa mendistribusikan sel tambahan secara lebih bertahap. Perut sendiri punya bidang yang luas. Dan menyuntikkan sel di lemak bawah kulit lebih aman karena tidak merusak jaringan saraf.

Di EmCell tidak berlaku prinsip menyuntikkan sel lebih banyak lebih baik. Kadang pasien iri kalau mendengar temannya mendapatkan stemcell 120 juta sel, padahal ia hanya dapat 80 juta. “Di kami jumlah sel yang disuntikkan harus didasarkan hasil pemeriksaan kondisi tubuh pasien,” ujar Maryna.

Tarif tersebut memang sudah termasuk untuk pemeriksaan. Bahkan termasuk tiket kelas bisnis dan hotel bintang empat. Di sana pasien akan menjalani pemeriksaan selama lima hari. Seluruh organ diperiksa. Setelah diketahui mana yang perlu diperbaiki barulah diputuskan: berapa tambahan sel untuk organ tertentu, berapa lagi untuk organ lainnya.


Bagi Iryna dan Maryna, ini kali pertama mereka ke Indonesia. Ke Jakarta, Semarang dan Surabaya. Besok mereka akan ke Bali.

“Sudah pernah makan durian?”

“Kami sudah dengar ada buah bernama durian tapi belum pernah melihat dan merasakannya,” ujar mereka.

Maka makan malam pun (lobster, kepiting, kerapu, kerang, udang dan banyak lagi) kami tutup dengan durian.

“Ternyata seperti es krim ya…” komentar Maryna. Dia tidak tahu satu durian ini saja bisa untuk beli es krim 100 cup. (Dahlan Iskan)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |