Ombak Karanghawu, Dari Ikan Bakar ke Wisata Mancanegara

18 hours ago 11
SILATURAHMI : Mantri BRI Unit Cisolok AJI saat berbicang-bicang dengan penginapan sederhana namun penuh cerita, Penginapan Komalasari, dikelola oleh Ibu Komalasari (57) bersama keluarganya.

SUKABUMI — Deru ombak Pantai Karanghawu di Palabuhanratu selalu menghadirkan suasana hangat bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Di tengah riuhnya wisata, berdiri sebuah penginapan sederhana namun penuh cerita: Penginapan Komalasari, dikelola oleh Ibu Komalasari (57) bersama keluarganya.

Perjalanan usaha ini dimulai dari sebuah warung kecil pada tahun 1984. Perlahan, dengan keberanian dan dukungan dari BRI sejak 1991, usaha itu berkembang menjadi penginapan pada tahun 2012. “Awalnya hanya warung, lalu sedikit demi sedikit berkembang. Pinjaman pertama Rp3 juta, sekarang sudah Rp160 juta. Semua berkat kepercayaan dari BRI,” ungkap Komalasari yang diketahui memiliki empat orang anak ini.

Penginapan ini menjadi tujuan utama bagi peziarah yang datang ke Makom Pesanggrahan Kramat Gunung Winarum, Cisolok. “Pelanggan 90 persen adalah peziarah, banyak juga dari Singapura, Brunei, Malaysia, Bandung, dan Jakarta. Kami buka 24 jam, tidak pernah tutup,” jelasnya.

Harga penginapan berkisar Rp300 ribu di hari biasa, dan bisa mencapai Rp800 ribu saat libur panjang atau tahun baru. Selain penginapan, Komalasari juga menjual nasi dan ikan bakar, menambah daya tarik bagi tamu yang ingin menikmati suasana pantai. Omzet per bulan kini mencapai Rp40 juta.

Pinjaman KUPEDES dari BRI digunakan untuk renovasi, tambahan fasilitas, hingga modal operasional. “Perubahan besar terasa. Barang yang dulu tidak ada, sekarang ada. Fasilitas penginapan lebih lengkap, tamu lebih nyaman,” katanya.

Mantri BRI Unit Cisolok AJI saat Menijau Lokasi Penginapan

Meski begitu, tantangan tetap ada. Isu hoaks tentang tsunami sering membuat tamu membatalkan pesanan. “Sudah booking, tapi batal karena takut tsunami. Padahal itu hanya isu. Cuaca juga kadang memengaruhi, tapi tidak terlalu parah,” ujarnya.

Komalasari percaya bahwa keberkahan datang dari pelayanan yang tulus. “Banyak tamu puas, harga konsisten, pelayanan kami utamakan kenyamanan. Saya juga suka menolong orang yang kesusahan. Semakin ikhlas berbagi, semakin kuat usaha ini,” tuturnya.

Sementara itu, Eki Dyata Fredi Setiawan, Pemimpin Cabang KC BRI Cibadak, menilai kisah Komalasari sebagai bukti nyata bagaimana BRI hadir mendukung usaha rakyat. “Penginapan Komalasari adalah contoh bagaimana usaha kecil bisa tumbuh menjadi besar dengan dukungan permodalan. Dari warung sederhana kini menjadi penginapan yang melayani wisatawan mancanegara. Itu adalah perjalanan panjang yang membanggakan,” ujarnya.

Menurut Eki, keberhasilan Komalasari menunjukkan bahwa BRI bukan sekadar bank, melainkan mitra perjalanan hidup. “Pinjaman KUPEDES bukan hanya angka, tetapi energi yang menggerakkan ekonomi lokal. Ketika usaha seperti Komalasari berkembang, dampaknya terasa pada keluarga, masyarakat sekitar, bahkan wisata daerah.”terangnya.

Ia menambahkan bahwa BRI Cibadak berkomitmen untuk terus mendampingi pelaku usaha di sektor pariwisata. “Wisata adalah wajah daerah. Ketika penginapan, warung, dan usaha lokal berkembang, maka citra Sukabumi ikut terangkat. Kami ingin memastikan bahwa setiap mitra merasa didukung, baik dari sisi modal maupun edukasi.”jelasnya.

Menutup komentarnya, Eki menyampaikan harapan agar kisah Komalasari menjadi inspirasi. “Kami ingin lebih banyak usaha rakyat yang tumbuh seperti ini. Karena ketika masyarakat maju, BRI pun ikut maju.”pungkasnya.(*)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |