In Five

17 hours ago 11
Dahlan Iskan Dahlan Iskan

Piala Dunia memang berlangsung di Amerika. In Five. Tapi berita olahraga terbesar di New York tentang basket. Itu karena Sabtu kemarin New York Knicks meraih gelar juara NBA dengan drama yang sangat besar.

Sudah 53 tahun Knicks tidak juara. Betapa lapar warga New York atas gelar kali ketiganya itu.


Putaran final tahun ini Knicks melawan San Antonio Spurs dari Texas. Juara lima kali.

Sistem pertandingan putaran finalnya bermain tujuh kali. Dua kali di kandang lawan, dua kali tuan rumah. Dua kali lagi di kandang lawan, dua kali lagi tuan rumah. Karena itu gelar juara baru bisa dikunci kalau tim finalis sudah menang empat kali. Kalau skor masih 3-3 harus ada pertandingan ketujuh.

Pertandingan final pertama dan kedua dimainkan di Texas. Sebagai tamu, Knicks menang dua-duanya.

Di pertandingan ketiga dan keempat di New York. Di pertandingan ketiga Knicks kalah (3-1). Di pertandingan keempat Knicks yang menang (4-1). Secara dramatis pula.

Sejak saat itu New York heboh: Knicks akan juara ”in five”. Di keluarga kami “pecah”. Mayoritas pilih yang akan jadi juara Spurs. Hanya satu yang menebak Knicks dengan optimisme “in five”. Ia memang lama di Amerika. Sering ke San Antonio dan New York. Tapi hatinya sebenarnya untuk Sacramento Kings.

“Knicks juara in five karena di Spurs ada Fox,” katanya.

Fox-lah yang dianggap paling membawa sial bagi Spurs. Nama lengkapnya De’Aaron Fox. Saat itu pertandingan keempat tinggal 13 detik lagi. Posisi Spurs masih unggul 106-105. Hampir pasti Spurs menang di game keempat itu. Apalagi serangan Knicks baru saja gagal. Pemain Knicks masih banyak di lapangan Spurs.

Di saat di sekitar ring basket Knicks kosong, Fox dapat bola. Jalan menuju ring milik Knicks pun lapang. Fox melihat itu sebagai peluang sangat besar untuk cetak dua point. Memang Spurs sudah menang satu angka tapi jiwa pejuang Fox mengatakan harus menang tiga angka. Kesempatan ada. Peluang sangat besar.

Maka Fox berlari kencang ke arah ring lawan. Ia pun langsung melakukan layup dengan sangat baik. Bola pasti akan masuk.

Tapi tidak!

Di saat bola sudah menempel di ring datanglah pemain belakang Knicks, Anunoby. Tinggi badannya yang 2,01 meter, jangkauan tangannya yang panjang, tiba-tiba bisa menepis bola yang sudah di bibir ring itu. Spurs pun gagal menang tiga angka. Bahkan gagal menang sama sekali. Dalam hitungan detik yang tersisa Knicks berhasil menambah dua angka. Posisi pun terbalik menjadi 107-106 untuk Knicks.

New York pesta.

In Five

Pemain New York Knicks Karl-Anthony Towns mengangkat trofi setelah mengalahkan San Antonio Spurs di game kelima Final NBA 2026 di Frost Bank Center, 13 Juni 2026.–

Piala Dunia sepak bola tidak penting lagi. Yang ditunggu adalah pertandingan kelima. Di New York pula. Kalau yang ke lima menang tidak perlu lagi ada pertandingan keenam dan ketujuh. Knicks juara ”in five”.

Kenapa cucu Pak Iskan bisa memperhitungkan faktor Fox yang membuat Knicks juara? Kelihatannya hanya semata ia punya sentimen pribadi: tahun lalu Fox meninggalkan Sacramento Kings, pindah ke Spurs.

Nama Anunoby pun jadi pahlawan di New York. Bagaimana Anunoby bisa lari secepat itu dan sempat menepis bola Fox yang sudah nyaris masuk.

Layup De’Aaron Fox yang berhasil digagalkan OG Anunoby.–

Nama lengkapnya OG Anunoby. Ogugua Anunoby. Ia lahir di London. Pernah ikut tim NBA Toronto lalu pindah ke Knicks.

Nama Anunoby kini mulai disejajarkan dengan Draymond Green, bintang belakang klub Warrior, California, juara NBA tujuh kali. Tentu belum sejajar. Green, kini 37 tahun, adalah legenda.

Karena itu ketika Green nonton pertandingan Piala Dunia di stadion Los Angeles kamera sering me-zoom wajahnya. Hari itu tim sepak bola Amerika menang telak lawan Paraguay: 4-1.

Final “in five” ini masih terus jadi pembicaraan hangat di New York. Topiknya dua: mengapa Fox tidak ”buang waktu” di posisi yang sudah unggul dan tinggal 13 detik.

Bukan hanya ”buang waktu” harusnya Fox memancing pemain Knicks agar melakukan pelanggaran. Nambah angkanya lewat hukuman atas pelanggaran itu, bukan dengan ngotot ingin mencetak angka meski peluangnya memang sangat besar.

Topik satunya: bagaimana Anunoby bisa tiba-tiba ada di belakang Fox yang sedang melalukan layup dan menggagalkannya.

Begitulah permainan olahraga. Kalau saja Anunoby tidak jadi siluman hari itu puja-puji tentu untuk Fox. Tapi karena gagal ganti caci-maki untuknya.

Tentang layup yang dilakukan Fox sebenarnya sudah sangat benar. Setelah dekat ke ring Knicks ia meloncat dengan tumpuan kaki kirinya, lalu satu tangannya “meletakkan’ bola di bibir ring. Itulah layup yang klasik. Bukan slam dunk. Tingkat keberhasilannya hampir mutlak: ketika belum ada Anunoby.

Kata “meletakkan” bola itu cocok untuk Amerika karena tubuh dan loncatan mereka tidak memerlukan lagi ”melemparkan” bola.

Anda perlu melihat video viral yang saya sertakan di sini sebelum pertandingan kelima itu. Di situ sejumlah anak muda kulit hitam New York berdoa pakai bahasa Arab. Doa beneran. Allahuma in five! Doa yang seru karena sekaligus humor politik yang lucu: wali kota New York adalah Muslim sekaligus fans Knicks: Zohran Mamdani.

Bahkan setelah juara pun ada meme dari Cucu Pak Iskan untuk grup keluarga:

Orang New York Fans Knicks,

Wali kotaku Muslim,

Bagel (makananku) Yahudi,

Paus ada di pihakku,

Knicks in Five!

(Dahlan Iskan)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |