Mengubah Goresan Menjadi Rupiah Perjalanan Sahal Kamil Menembus Pasar Seni
Di tengah terbatasnya lapangan kerja dan ketatnya persaingan ekonomi, kreativitas menjadi salah satu jalan alternatif bagi generasi muda untuk bertahan dan tumbuh. Hal inilah yang dibuktikan oleh Sahal Kamil (23), seniman muda otodidak yang berhasil mengubah kegelisahan, proses kreatif, dan teknik menggambar unik menjadi sumber penghasilan, bahkan menembus pasar internasional.
WIDI FITRIA – Sukabumi
Sahal mengawali kebiasaan menggambar sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Namun saat itu, menggambar hanya ia lakukan untuk mendapatkan pengakuan dan kekaguman, tanpa konsistensi yang kuat. Perjalanan seriusnya baru dimulai setelah lulus dari SMK pada 2021, ketika ia dihadapkan pada realitas sulitnya mencari pekerjaan di Indonesia.
“Waktu itu saya punya banyak waktu luang dan kondisi ekonomi tidak mendukung. Saya berharap bisa mendapatkan uang dari menggambar,” ujarnya.
Harapan tersebut sempat pupus. Dua bulan pertama belajar secara intensif tak membuahkan hasil finansial. Sahal berhenti menggambar dan bahkan tidak memposting karya apa pun di media sosial. Namun, tiga tahun berselang, titik balik itu datang.
Pada 2025, Sahal kembali berkarya setelah menemukan teknik stippling di media sosial. Berbekal dasar menggambar yang telah dimiliki, ia tidak mengalami kesulitan berarti. Namun kebosanan terhadap karya hitam putih mendorongnya melakukan eksplorasi lebih jauh.
Keinginan mencoba media cat kandas karena keterbatasan ekonomi. Harga cat yang relatif mahal membuatnya mencari alternatif yang lebih terjangkau. Dari sinilah muncul ide menggunakan pulpen warna-warni sebagai medium utama.
Eksplorasi tersebut berkembang menjadi teknik yang kini menjadi ciri khasnya yakni menggambar menggunakan 10 mata pulpen sekaligus sambil diputar. Teknik ini pertama kali ia temukan pada Juni 2025 dan menghasilkan pola garis acak yang unik, sulit dikontrol, dan hampir mustahil ditiru—bahkan oleh teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Garis yang lahir benar-benar acak, penuh emosi, dan tidak akan pernah sama. Setiap karya seperti sidik jari,” jelas Sahal.
Keunikan teknik tersebut perlahan menarik perhatian publik, terutama dari luar negeri. Melalui platform media sosial seperti Instagram, YouTube, dan Facebook, karya Sahal justru lebih banyak menjangkau audiens internasional, seperti Prancis, Jerman, India, dan Filipina.
Karyanya kini diperjualbelikan dengan harga yang bervariasi, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan, mulai dari Rp375 ribu hingga Rp7 juta per karya. Tak hanya itu, Sahal juga rutin mengirimkan karya ke luar negeri, membuktikan bahwa seni berbasis proses memiliki nilai ekonomi yang nyata.
“Alhamdulilah di bulan Oktober kemarin 8 karya saya diminati oleh konsumen dan terjual. Saya mendapatkan total pendapatan Rp 7 juta dari penjualan saja. Belum dari Addsene,” terangnya.
Menurut Sahal, peluang seni lukis pulpen saat ini tidak hanya terletak pada hasil akhir, tetapi juga pada pengalaman proses yang ditawarkan. Goresan pulpen yang berputar menghasilkan suara ritmis yang menenangkan, menciptakan pengalaman visual sekaligus auditori.
Berbeda dengan kebanyakan seniman yang menonjolkan hasil akhir, Sahal justru menjadikan proses menggambar sebagai daya tarik utama konten bisnisnya. Video yang ia unggah menampilkan gerakan tangan, suara gesekan pulpen yang berputar, hingga iringan musik binaural beat.
Menurutnya, pendekatan ini relevan dengan kondisi masyarakat modern yang mengalami kelelahan mental akibat ritme hidup yang cepat dan banjir distraksi digital.
“Proses menggambar ini menciptakan pengalaman yang menenangkan dan membuat orang fokus. Itu yang dicari banyak penonton,” ujarnya.
“Di era serba cepat dan penuh distraksi, seni ini mengajak orang untuk hadir, fokus, dan memperlambat ritme hidup,” katanya.
Selain bernilai ekonomi, karya Sahal juga sarat dengan muatan sosial. Tema yang kerap ia angkat meliputi kesehatan mental, isu sosial, dan kritik politik. Ia mengaku sering menggambar dalam kondisi stres sebagai cara menyalurkan emosi dan merapikan pikiran.
“Ketika pikiran sudah menemukan bentuk di atas kertas, saya sering mendapat momen kesadaran—ternyata saya sedang sedih, tertekan, atau lelah,” ungkapnya.
Dalam konteks politik, Sahal secara terbuka menyuarakan kritik terhadap kondisi pemerintahan melalui karya visualnya. Ia berharap seni dapat menjadi medium kesadaran publik, bukan sekadar objek estetika.
Meski belum pernah menggelar pameran tunggal sebelumnya, Sahal dijadwalkan akan mengikuti pameran kolaborasi bertajuk “Urban Anarchy” pada 7 Februari mendatang, bekerja sama dengan STR Art Gallery yang dipimpin Brandon Cahyaduha Rusdi. Dalam pameran tersebut, Sahal akan menghadirkan 10 karya eksklusif yang merespons dinamika dan tekanan kehidupan urban.
Bagi Sahal, teknik yang ia kembangkan bukan soal kesempurnaan, melainkan keberanian untuk membuat “kesalahan” dan breadman dengannya. Ia melihat seni sebagai ruang kebebasan, tempat emosi, kritik, dan proses bertemu—sekaligus sebagai peluang ekonomi di tengah tantangan zaman.
“Saya berharap teknik ini bisa menjadi tempat mencurahkan isi hati, melatih kesadaran, dan berani tidak disukai,” pungkasnya.(*)

8 hours ago
7












































