Bukan Sekadar Berkumpul di Viking Sabumi, Pemuda Kota Sukabumi Ini Jadikan Organisasi Ruang Pengabdian

7 hours ago 7

Bagi sebagian anak muda, organisasi mungkin hanya dipandang sebagai tempat berkumpul, berdiskusi, atau mengisi waktu di luar aktivitas utama. Namun bagi Muhammad Abdul Aziz, organisasi justru menjadi ruang panjang untuk belajar tentang kehidupan, mengenal banyak karakter manusia, sekaligus menemukan arti tanggung jawab dan pengabdian.

Garis Nurbogarullah, Sukabumi

Perjalanan itu dimulai sejak 2018, ketika Aziz mulai aktif berorganisasi saat menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Syamsul’Ulum. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadi salah satu pintu awal yang membawanya mengenal lebih jauh dunia organisasi. Dari sana, ia terus mengembangkan pengalaman hingga menyelesaikan pendidikan pada 2022.

Empat tahun berada di lingkungan kampus tidak hanya memberinya pengalaman dalam menjalankan kegiatan organisasi. Lebih dari itu, berbagai proses yang dilalui membentuk cara pandangnya dalam melihat persoalan, berkomunikasi dengan orang lain, dan mengambil keputusan.

Selepas dari dunia kampus, langkah Aziz tidak berhenti. Ia justru membawa pengalaman tersebut ke ruang yang lebih dekat dengan masyarakat. Aktivitasnya berkembang dalam berbagai kegiatan kepemudaan dan kemasyarakatan. Ia pernah dipercaya menjadi Ketua Karang Taruna Desa, menjalankan fungsi di Karang Taruna Kecamatan, hingga terlibat dalam komunitas Bobotoh melalui Viking Sabumi.

Kini, aktivitas tersebut masih menjadi bagian dari kesehariannya. Aziz dipercaya sebagai bendahara Karang Taruna Kecamatan sekaligus sekretaris Viking Sabumi. Dua ruang yang berbeda itu mempertemukannya dengan banyak orang, kepentingan, dan karakter, tetapi memiliki satu kesamaan: menjadi tempat untuk berkontribusi.

“Bagi saya organisasi adalah ruang penyaluran hobi, mengabdi, silaturahmi, serta pengembangan kegiatan kepemudaan dan sosial kemasyarakatan,” ujarnya.
Bagi Aziz, keputusan untuk terus bertahan di dunia organisasi bukan semata karena ingin memiliki pengalaman atau jabatan. Ia melihat organisasi sebagai ruang belajar yang tidak selalu ditemukan di bangku pendidikan formal.

Di dalam organisasi, seseorang dipaksa berhadapan dengan perbedaan. Ada perbedaan karakter, cara berpikir, kepentingan hingga cara mengambil keputusan. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan mudah. Justru dari situlah proses pendewasaan berlangsung.

Organisasi mengajarkannya untuk mendengar sebelum mengambil keputusan, memahami persoalan dari berbagai sudut pandang, sekaligus berani mengambil tanggung jawab ketika keputusan harus dibuat.

“Organisasi bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan wahana untuk mengembangkan diri, memperluas wawasan, membangun jaringan, serta belajar memahami berbagai persoalan di tengah masyarakat,” katanya.

Pengalaman tersebut pula yang membuat Aziz memandang kepemimpinan bukan sekadar posisi. Menjadi bagian dari organisasi berarti bersedia menerima konsekuensi dari setiap tanggung jawab yang diemban. Kemampuan berkomunikasi, membangun jaringan dan menjaga hubungan dengan banyak pihak menjadi keterampilan yang terus diasah. Baginya, semakin banyak orang yang ditemui, semakin banyak pula pelajaran yang diperoleh.

Tidak semua perjalanan organisasi berjalan mulus. Ada masa ketika kegiatan berjalan sesuai harapan, tetapi ada pula saat perbedaan pandangan membuat proses menjadi lebih rumit.

Bagi Aziz, sisi manis dari berorganisasi adalah kesempatan bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Dari pertemuan itu lahir persaudaraan, jaringan pertemanan dan pengalaman yang tidak ternilai. Namun di sisi lain, perbedaan karakter dan kepentingan menjadi tantangan tersendiri. Terlebih ketika harus mengambil keputusan yang tidak selalu dapat memuaskan semua pihak.

Alih-alih melihatnya sebagai hambatan, Aziz menjadikan dinamika tersebut sebagai bagian dari proses belajar. Kesabaran, konsistensi, tanggung jawab dan komunikasi menjadi modal yang menurutnya penting untuk menjaga organisasi tetap berjalan.

“Justru dari berbagai dinamika tersebut, saya belajar tentang kesabaran, konsistensi, tanggung jawab, dan pentingnya mengedepankan komunikasi serta kepentingan bersama,” tuturnya.

Ia percaya, pengalaman menyenangkan maupun sulit sama-sama memiliki nilai. Sebab keduanya ikut membentuk seseorang menjadi lebih matang dalam menghadapi persoalan dan memahami bahwa organisasi bukan tentang siapa yang paling menonjol, tetapi bagaimana setiap orang dapat mengambil peran.
Ada satu prinsip yang terus ia pegang dalam menjalani aktivitasnya. “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Kalimat tersebut menjadi semacam kompas bagi Aziz dalam menjalankan aktivitas organisasi maupun kehidupan sehari-hari. Ia tidak menjadikan pencapaian pribadi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

Baginya, keberadaan seseorang akan memiliki arti ketika mampu memberikan manfaat, meskipun dalam bentuk sederhana. Membantu orang lain, membuka ruang bagi anak muda untuk berkegiatan, menjaga silaturahmi atau sekadar hadir ketika masyarakat membutuhkan menjadi bagian dari pengabdian yang ia maknai.

“Bagi saya, keberhasilan bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang seberapa jauh keberadaan kita dapat membantu, menginspirasi, dan meninggalkan kebaikan bagi lingkungan,” ungkapnya.

Dari pengalaman yang ia jalani, Aziz melihat pemuda memiliki posisi penting dalam perkembangan Kota Sukabumi. Energi, kreativitas dan keberanian mencoba hal baru menjadi modal yang dapat diarahkan untuk berbagai kegiatan positif. Namun, menurutnya, potensi tersebut membutuhkan ruang. Pemuda perlu diberi kesempatan untuk terlibat secara langsung, bukan hanya ditempatkan sebagai penerima program.

Ia berharap ruang partisipasi anak muda di Sukabumi terus diperkuat, baik dalam bidang sosial, pendidikan, ekonomi kreatif, olahraga maupun pembangunan daerah.

“Pemuda jangan hanya dipandang sebagai objek pembangunan, tetapi juga harus diberikan kesempatan untuk menjadi subjek dan bagian dari solusi,” tegasnya.

Menurut Aziz, kolaborasi antara pemerintah, organisasi kepemudaan, komunitas dan masyarakat menjadi salah satu kunci agar energi anak muda tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Ruang-ruang tersebut harus mampu melahirkan gagasan, kegiatan dan karya yang memberi dampak bagi lingkungan.
Ia ingin Sukabumi tidak hanya menjadi tempat bagi anak muda untuk tumbuh, tetapi juga menjadi ruang untuk mereka berkarya dan berdaya.

“Saya berharap Sukabumi bukan hanya menjadi tempat untuk tumbuh, tetapi juga menjadi tempat bagi generasi mudanya untuk berkarya, berdaya, dan memberikan manfaat,” terangnya.

Perjalanan organisasi belum selesai. Selama masih ada ruang untuk berbuat, ia memilih tetap mengambil bagian. Bukan karena ingin sekadar dikenal, tetapi karena ia percaya bahwa pengabdian tidak selalu membutuhkan panggung besar. Kadang, pengabdian tumbuh dari ruang sederhana: sebuah organisasi, sebuah komunitas, sebuah pertemuan, atau sebuah keputusan untuk hadir dan membantu orang lain. (*)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |