Hujan datang, air mati. Panas terik, air kering. Begitulah kira-kira ringkasan paling jujur tentang layanan Perumda Air Minum Kota Padang yang telah lama menjadi teka-teki akal sehat akhir-akhir ini.
Kota Padang sebenarnya salah satu kota yang dikepung curah hujan tinggi, tetapi paradoksnya begitu awan gelap menggantung dan hujan deras mengguyur, saluran Instalasi Pengolahan Air (IPA) justru tersumbat, pompa mati, dan keran warga langsung berubah menjadi pajangan.
Musim panas tiba, giliran suplai ke IPA lenyap karena kekeringan. Seakan-akan air hanya sudi mengalir bila cuaca sedang tidak ekstrem. Apakah laik alat vital yang dikelola pemerintah hanya menggantungkan nasib pada suasana hati alam? Lalu masyarakat seperti ikan kena tuba. Tak berdaya dan tak tahu lagi kemana harus mengadu.
Lalu, seperti biasa, kita disuguhi daftar alasan yang begitu setia diputar-ulang. Alasan yang paling monumental yang ditemukan adalah “infrastruktur yang belum diperbaiki pasca gempa 2009”. Alasan ini pernah dilontarkan kalau saya tidak salah ingat waktu bencana kemarin. Tahun ini adalah 2026. Gempa itu terjadi 17 tahun lalu, tetapi di dalam narasi resmi PDAM, ia seolah baru terjadi Minggu pagi kemarin.
Sebuah rekor kesabaran dalam berbenah yang patut dimuseumkan. Kini, alasan baru ditambahkan dengan sangat kreatif, yaitu blackout listrik Sumatra yang terjadi pada Sabtu, 23 Mei 2026. Sebuah kota yang tahu bahwa instalasi airnya adalah nadi kehidupan, tetapi lupa memitigasi solusi seperti menyediakan genset atau sistem cadangan darurat? Ini patut diduga bukan hanya kelalaian saja. Ini adalah parodi tata kelola. Lawakan yang tak pernah lucu.
Di tengah kemelut berkepanjangan ini, publik semakin resah bukan hanya karena air yang tak kunjung menetes dari keran, tetapi karena ketiadaan kepastian. Tidak ada peta jalan, tidak ada tenggat waktu, yang ada hanyalah imbauan sabar yang diulang-ulang tanpa arah.
Sementara itu, pimpinan Perumda lebih rajin muncul di media sosial daripada memberikan solusi cepat yang terarah dan menenangkan masyarakat. Kecepatan membuat konten visual berbanding terbalik dengan kecepatan mengatasi krisis di lapangan. Masyarakat tidak membutuhkan filter estetik, mereka hanya ingin air keluar dari keran.
Dalam kacamata akademik, terdapat korelasi kuat antara stagnasi kepemimpinan dengan kemandekan inovasi organisasi. Teori siklus hidup kepemimpinan menyebutkan bahwa semakin lama seseorang menduduki jabatan strategis tanpa evaluasi segar, semakin tinggi risiko penurunan kreativitas dan kepekaan terhadap perubahan. Hal ini tampaknya sedang terjadi di tubuh Perumda Air Minum Padang.
Ketika seorang pemimpin terlalu lama bertengger di kursi yang sama, naluri bertahan cenderung mengalahkan naluri memperbaiki. Alasan-alasan usang terus direproduksi, solusi teknis tidak lagi dicari karena yang dipertahankan adalah status quo, dan ide-ide baru dianggap sebagai ancaman, bukan penyelamat. Maka jangan heran jika banyak keadaan yang bisa dijadikan kambing hitam, sementara di luar sana teknologi pengolahan air sudah berkembang jauh.
Ironi paling tajam adalah PDAM sesungguhnya merupakan sumber potensial Pendapatan Asli Daerah yang seharusnya gemuk. Bayangkan, di kota dengan kebutuhan air bersih yang terus meningkat, air justru menjadi barang langka saat dibutuhkan. Ketika pelayanan amburadul, warga masih tetap dituntut untuk membayar penuh, tetapi anggaran untuk perbaikan pun ikut mengering. Sebuah lingkaran setan yang nyaman dipelihara karena pemimpinnya terlalu lama duduk di zona nyaman. Kalau dibiarkan terus-menerus, ini sudah masuk level darurat. Darurat air dan darurat kepemimpinan.
Karena itu, langkah yang paling rasional dan mendesak bagi Wali Kota Padang adalah memerintahkan perombakan manajemen dan audit kinerja secara total. Audit bukan sekadar formalitas, tapi alat bedah untuk menemukan di titik mana air dan uang bocor. Lebih dari itu, penyegaran di tingkat pimpinan Perumda harus menjadi bagian dari agenda serius. Kepemimpinan yang terlalu panjang bukanlah aset jika hanya menghasilkan alasan-alasan basi. Kreativitas dan inovasi lahir dari keberanian membuka ruang bagi perspektif baru, bukan dari mempertahankan orang yang sama dengan narasi yang sama dan membosankan.
Semoga kelak, sejarah kota ini tidak mencatat kegagalan sistemik pengelolaan air yang terus berulang dan pimpinan daerah selalu takluk oleh sistem. Hal penting yang perlu dicatat, jangan sampai air berhenti mengalir, tetapi pejabat terus bergaya mengulang-ulang alasan. Membosankan, bukan?
Penulis: Aidil Aulya (Warga Padang yang Setia menunggu Keran Menyala)

6 hours ago
11










































