HUT ke-50 KOMMA FP-UA Jadi Momentum Perkuat Kolaborasi Pecinta Alam Hadapi Krisis Ekologis di Sumbar

8 hours ago 7

Langgam.id — Kelompok Mahasiswa Mencintai Alam Fakultas Pertanian Universitas Andalas (KOMMA FP-UA) memanfaatkan momentum peringatan HUT ke-50 untuk memperkuat kolaborasi gerakan pecinta alam di Sumatra Barat dalam menghadapi krisis ekologis yang kian kompleks.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Sarasehan Pecinta Alam Sumatra Barat yang digelar di Bumi Perkemahan Universitas Andalas, Padang, Sabtu (11/7/2026). Kegiatan ini mengusung tema “Memperkuat Peran dan Kolaborasi Gerakan Pecinta Alam dalam Menjawab Krisis Ekologis dan Mendorong Pemulihan Lingkungan di Sumatra Barat”.

Sarasehan mempertemukan komunitas pecinta alam, akademisi, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, hingga alumni untuk merumuskan arah gerakan pecinta alam yang lebih adaptif dan kolaboratif dalam menghadapi berbagai persoalan lingkungan.

Kegiatan ini dilatarbelakangi meningkatnya ancaman ekologis di Sumatra Barat, mulai dari bencana hidrometeorologi, ancaman gempa bumi dan tsunami, degradasi hutan, hingga menyempitnya ruang hidup masyarakat. Kondisi tersebut dinilai menuntut gerakan pecinta alam tidak lagi sebatas aktivitas penjelajahan alam, tetapi juga berperan aktif dalam pelestarian lingkungan, pengurangan risiko bencana, penelitian, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

Kapalo Suku KOMMA FP-UA, Muhammad Farhan, mengatakan sarasehan menjadi momentum memperkuat komitmen gerakan pecinta alam agar mampu menjawab tantangan zaman.

“Tantangan krisis ekologis tidak bisa diselesaikan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara komunitas pecinta alam, akademisi, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat luas. Kami berharap forum ini melahirkan aksi nyata yang berdampak bagi pemulihan lingkungan di Sumatra Barat,” ujarnya.

Anggota Kehormatan KOMMA FP-UA, A.Z. Fachri Yasin, mengingatkan pentingnya menjadikan falsafah Minangkabau “Alam Takambang Jadikan Guru” sebagai pijakan dalam membangun karakter pecinta alam.

Ia mengajak seluruh anggota menjaga keberlanjutan organisasi dan terus bermimpi besar agar KOMMA FP-UA tetap eksis hingga menyongsong usia satu abad.

Apresiasi juga datang dari Wakil Dekan II Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Dr. Jumsu Trisno. Menurutnya, perjalanan 50 tahun KOMMA FP-UA menjadi kebanggaan bagi fakultas karena konsisten menjalankan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, sekaligus aktivitas kepecintaalaman.

“KOMMA telah menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa mampu bertahan dan terus memberi manfaat bagi masyarakat selama lima dekade,” katanya.

Dalam sesi diskusi, sejumlah narasumber menyoroti pentingnya penguatan kolaborasi lintas sektor.

Anggota Kehormatan KOMMA FP-UA, Rakhmat Hidayat, menilai sinergi antara pecinta alam dan akademisi perlu diperkuat agar lahir penelitian dan kajian yang dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan serta program pengabdian kepada masyarakat.

Sementara itu, Indah Suryani Azmi dari WALHI Sumatra Barat menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak bisa dipisahkan dari perlindungan ruang hidup masyarakat.

Menurutnya, penyelamatan lingkungan harus berjalan seiring dengan penegakan hukum dan perlindungan hak masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatra Barat, Ferdhinal Asmin, menyebut gerakan pelestarian lingkungan akan lebih kuat jika tumbuh dari masyarakat. Ia menilai komunitas pecinta alam memiliki potensi besar menjadi motor perubahan karena kedekatannya dengan alam dan masyarakat di tingkat akar rumput.

Direktur KKI WARSI, Adi Junaedi, turut menawarkan peluang kolaborasi melalui program perhutanan sosial, magang, serta pendampingan masyarakat. Menurutnya, pendekatan tersebut telah terbukti mampu membantu menekan laju degradasi hutan di sejumlah wilayah.

Sorotan terhadap aspek kebencanaan disampaikan Wan Zukri Saad, Deputi Direktur Eksekutif Nasional WALHI periode 1993-1996. Ia mengingatkan posisi Sumatra Barat yang berada di kawasan Ring of Fire membuat ancaman bencana selalu membayangi.

Karena itu, komunitas pecinta alam didorong memperkuat kapasitas mitigasi bencana, pencarian dan pertolongan (SAR), serta kesiapsiagaan masyarakat.

Pada sesi refleksi, Anggota Kehormatan KOMMA FP-UA, Syafredo, mengajak peserta mengevaluasi kembali hubungan manusia dengan alam melalui konsep simbiosis mutualisme, komensalisme, dan parasitisme.

Menurutnya, gerakan pecinta alam harus bertransformasi menjadi gerakan yang benar-benar hidup berdampingan dengan alam, bukan sekadar memanfaatkannya.

Diskusi ditutup oleh fasilitator Muhammad Syifa’ur Ridho yang mengajak seluruh peserta merefleksikan kembali posisi gerakan pecinta alam dengan berpegang pada Kode Etik Pecinta Alam sebagai landasan moral dalam pengabdian kepada masyarakat dan lingkungan.

Dari hasil sarasehan, peserta menghasilkan tiga rekomendasi utama. Pertama, mendorong pelatihan kebencanaan yang mencakup mitigasi, evakuasi korban, pencarian dan pertolongan (SAR), serta peningkatan kapasitas relawan. Kedua, memperkuat kemampuan dokumentasi dan penulisan sebagai sarana publikasi, edukasi, dan advokasi lingkungan. Ketiga, mendorong dukungan pemerintah, perguruan tinggi, dan para pemangku kepentingan berupa pendanaan, transportasi, serta penyediaan peralatan bagi relawan pecinta alam.

Melalui sarasehan ini, KOMMA FP-UA berharap terbangun komitmen bersama untuk memperkuat sinergi antara organisasi pecinta alam, akademisi, pemerintah, dan masyarakat sipil dalam menjawab krisis ekologis di Sumatra Barat.

Momentum 50 tahun KOMMA FP-UA diharapkan menjadi awal lahirnya gerakan pecinta alam yang lebih kolaboratif, berbasis ilmu pengetahuan, dan berorientasi pada aksi nyata demi mewujudkan lingkungan yang lestari serta masyarakat yang tangguh. (HER)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |