Haol Masyayikh Sunanulhuda: Tradisi Ruhani, Proyek Peradaban

7 hours ago 15

SUKABUMI — Haol Masyayikh Pondok Pesantren Sunanulhuda bukan sekadar agenda tahunan, melainkan peristiwa epistemologis dan spiritual. Tradisi ini menegaskan cara khas pesantren dalam memandang ilmu, kebenaran, dan keberlanjutan peradaban.

Dalam perspektif umum, Haol sering dipandang sebagai tradisi kultural. Namun bagi pesantren, ia adalah praktik ontologis dan irfani: sebuah kesadaran bahwa ilmu bukan hanya produk rasio, melainkan pancaran hubungan batin antara murid, guru, dan sumber hakikat (al-Haqq).

Ziarah: Epistemologi Kehadiran

Rangkaian kegiatan diawali dengan Touring Ziarah Ulama pada 25 Januari, diikuti sekitar 150 rider dipimpin KH. Fikri Ali Majid dan K. Ilham Ramdani, SH (Aa Ucu). Para santri, alumni, dan jamaah berziarah ke maqam para masyayikh di Sukabumi dan Cianjur, termasuk KH. Muhammad Kholilullah, KH. Abdullah Mahfud, KH. Ahmad Sanusi, hingga Mama Gentur.

Ziarah bukan sekadar kunjungan historis, melainkan latihan kesadaran eksistensial: manusia adalah kelanjutan dari silsilah ruhani. Di hadapan maqam para ulama, jamaah diajak merasakan bahwa ilmu memiliki akar metafisik dan keberkahan adalah energi maknawi yang mengalir melalui sanad.

Bazaar, Food Court, dan BARBEKU: Barakah dalam Kehidupan Sosial

Sejak 26–30 Januari, pesantren menggelar bazaar, food court, dan BARBEKU (Barang Bekas Berkualitas). Barang-barang branded layak pakai dilelang murah, hasilnya disumbangkan untuk anak yatim dan dhuafa.

Kegiatan ini menegaskan bahwa barakah tidak hanya hadir dalam wirid, tetapi juga dalam ekonomi yang jujur dan relasi sosial yang adil. Haol menjadi ruang integrasi antara sakral dan sosial, antara langit makna dan bumi realitas.

Santunan Anak Yatim: Dzikir yang Menjelma Amal

Santunan anak yatim pada 29 Januari menjadi inti acara. Ia bukan pelengkap, melainkan penegasan makna Haol: mengenang para masyayikh melalui doa sekaligus menghadirkan kembali nilai kasih sayang mereka dalam bentuk amal nyata.

Santunan ini adalah ṣadaqah jāriyah ontologis — amal yang terus mengalir dan membentuk struktur kebaikan dalam masyarakat.

Pameran Manuskrip Turats: Otoritas Ilmu

Pada 28–29 Januari, digelar Pameran Manuskrip Turats Ulama Pasundan. Sebanyak 500 karya ulama Jawa Barat, termasuk karya KH. Uci Sanusi dan KH. Dadun Sanusi, dipamerkan.

Turats mengingatkan bahwa ilmu lahir dari disiplin metodologis yang panjang, bukan opini instan. Bersamaan dengan itu, SUHU Expo menghadirkan 30 perguruan tinggi se-Jawa Barat, menjembatani pesantren dengan dunia akademik.

Khatmul Qur’an dan Tabligh Akbar: Puncak Integrasi Makna

Puncak Haol berlangsung 30 Januari dengan Khatmul Qur’an dan Tabligh Akbar. Para huffaz menuntaskan hafalan Al-Qur’an bil ghoib dan bin-nadhor.

Tabligh Akbar menghadirkan Abuya KH. Abdullah Mukhtar (Pimpinan Ponpes An-Nidzom, Sukabumi), menegaskan bahwa hidup bermakna adalah hidup yang terikat pada sanad, tunduk pada adab, setia pada ilmu, dan terarah pada keberkahan.

Haol sebagai Proyek Peradaban

Haol Masyayikh adalah jawaban pesantren atas krisis keterputusan manusia dari akar makna. Ia bukan nostalgia, melainkan rekonstruksi kesadaran sejarah.

Pesantren melalui Haol mengingatkan:
Kita tidak hidup dari masa kini semata,
kita hidup dari mata air masa lalu yang suci,
agar masa depan tetap memiliki arah.(**)

Halaman: 1 2

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |