Langgam.id – Kepala Pelaksana BPBD Agam, Rahmat Lasmono mengatakan kerugian akan bencana di Kabupaten Agam diperkirakan mencapai lebih dari Rp6,5 triliun. Sebanyak 1.729 rumah dilaporkan rusak berat dan hanyut akibat bencana.
Rahmat menjelaskan bahwa data tersebut masih berpotensi bertambah, mengingat masih terdapat 14 rumah yang berada dalam kondisi terancam longsor.
“Saat ini, rumah-rumah yang mengalami kerusakan tengah menjalani proses verifikasi dan validasi oleh tim lapangan,” ujarnya saat rapat evaluasi pelaksanaan penanganan tanggap darurat bencana alam di Aula Kantor Bupati Agam, Senin (5/1/2026).
Selain permukiman, kata Rahmat, sektor pertanian juga mengalami kerugian yang cukup signifikan dengan nilai taksiran mencapai lebih dari Rp123 miliar. Kerusakan lahan pertanian ini turut berdampak pada perekonomian masyarakat di wilayah terdampak.
Rahmat juga melaporkan bahwa hingga saat ini jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor di Agam sebanyak 165 orang.
Korban tersebut, terang Rahmat, tersebar di beberapa kecamatan, yakni Kecamatan Malalak sebanyak 16 orang, Matur 1 orang, Tanjung Raya 10 orang, Palupuah 1 orang, Palembayan 136 orang, serta Ampek Nagari 1 orang.
“Selain itu, masih terdapat 37 orang yang dinyatakan hilang. Dari total korban meninggal dunia, sebanyak 23 orang belum teridentifikasi, terdiri dari 18 jenazah utuh dan 5 bagian tubuh,” ucapnya dilansir dari amcnews.co.id.
Ia mengatakan bahwa jumlah warga terdampak yang mengungsi mencapai 3.246 jiwa. Para pengungsi saat ini menempati berbagai lokasi, seperti masjid, musala, serta rumah sanak keluarga.
Sementara itu, korban yang masih menjalani perawatan medis hingga kini tercatat sebanyak tiga orang dan dirawat di RSUD setempat
Rahmat menyebutkan, untuk penanganan pascabencana, Pemkab Agam telah merencanakan pembangunan hunian sementara (huntara) di lima kecamatan terdampak.
Yaitu, di Kecamatan Palembayan, huntara dibangun di tiga titik, yakni Lapangan Bola SD 05 Kayu Pasak, Padang Gantiang, dan Lapangan Jajaran Tamtaman. Sementara di Kecamatan IV Koto, huntara direncanakan berlokasi di Ujuang Bancah, Balingka.
Di Kecamatan Malalak, kata Rahmat, huntara akan dibangun di lapangan Lambeh, Jorong Bukik Malanca. Di Kecamatan Palupuah, pembangunan huntara direncanakan di dua titik, yakni Lapangan Pakan Salasa Jorong Guntuang dan Bateh Gadang.
“Di Kecamatan Tanjung Raya, huntara akan dibangun di Jorong Bancah, Nagari Maninjau, serta di kawasan objek wisata Linggai,” bebernya.
Fase Pemulihan
Sementara itu, Pemkab Agam secara resmi mengakhiri status tanggap darurat bencana alam dan menetapkan peralihan ke masa transisi menuju pemulihan selama enam bulan ke depan.
Keputusan ini diambil berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan penanganan bencana yang telah berlangsung sejak terjadinya bencana di Agam.
Bupati Agam, Benni Warlis, pada kesempatan itu mengapresiasi kepada seluruh pihak, baik pemerintah, relawan, maupun masyarakat yang telah bahu-membahu dalam penanganan bencana.
Benni mengungkapkan bahwa meski bencana ini tidak ditetapkan sebagai bencana nasional, penanganannya mendapat dukungan besar dari Pemprov Sumbar, kementerian terkait, hadirnya secara langsung Presiden dan Wapres ke Agam.
Ia menyebutkan, dengan berakhirnya status tanggap darurat dan beralih ke masa transisi pemulihan, pekerjaan serta pemenuhan kebutuhan masyarakat di lapangan tidak akan terhambat.
“Kita tetap fokus pada penanganan pascabencana dan menjadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran ke depan,” harapnya. (*/y)

1 day ago
24
















































