Kang Dasep Sukabumi

17 hours ago 6
Dahlan Iskan Dahlan Iskan

Semasih mahasiswa pun ia sudah menjuarai lomba robot tingkat nasional. Setelah kini usianya 60 tahun, Kang Dasep Ahmadi asal Sukabumi masih bisa dapat hak paten tingkat internasional. Di antara dua usia itu ia tidak berhenti berkarya. Ada yang berhasil, ada yang membuatnya menderita: 10 tahun hilang kebebasannya.

Kang Dasep

Salah satu keberhasilannya adalah: menciptakan mesin CNC (computer numerical control). Itu adalah mesin yang jadi tulang punggung industri. CNC bisa memotong, melubangi, dan membentuk baja dengan presisi yang tinggi. Seberapa banyak pun baja yang dipotong hasilnya sama presisinya.

Kang Dasep sudah memproduksi mesin ciptaannya itu. Sudah terjual banyak. Sampai hari ini belum ada teknologi yang menggantikan CNC. Memang mulai ada 3D Printing tapi belum bisa menggantikan CNC.


Dasep dan mesin CNC Ahmadi ciptaannya.–

Keberhasilan lain: membuat mobil listrik –ketika masih banyak yang tidak percaya mobil listrik akan ada.

Itu tahun 2013. Kang Dasep berpikir dan bekerja amat keras. Siang dan malam. Ia tahu: masa depan Indonesia –juga dunia– adalah mobil listrik.

Maka Kang Dasep ke Tiongkok. Ia mendengar BYD mulai uji coba membuat mobil listrik. Ia ke BYD. Ia coba mengemudikan mobil listrik hasil uji coba BYD.

Setahun sebelumnya saya juga ke Tiongkok. Juga diminta mencoba mengemudikan mobil listrik hasil uji coba BYD itu. Masih sangat sederhana. Apalagi kalau bandingannya mobil bensin buatan Jepang. Hasil uji coba itu seperti belum layak dijual. Saya tidak menyangka kalau kelak, di tahun 2025, mobil listrik BYD sangat cantiknya.

Di tahun 2013 itu pula lahirlah mobil listrik merek Ahmadi. Tentu masih sangat sederhana. Anda masih ingat warnanya: hijau.

Namanya juga uji coba. Uji coba generasi pertama pula. Masih banyak kekurangannya.

Saya pun dapat kesempatan mencoba mengemudikannya. Terlalu berspekulasi. Berangkat: dari bengkel Ahmadi di Depok. Tujuan akhir: gedung BPPT di Jalan Thamrin Jakarta.

Saya sudah diberi tahu mungkin saja baterainya tidak cukup untuk menempuh jarak itu. Tapi saya sudah siap kehabisan baterai di tengah jalan. Justru itulah perlunya uji coba beneran.

Sebagai mobil, saya tidak mengalami kesulitan sama sekali mengemudikannya. Tapi saya memang selalu waswas: di mana akan kehabisan baterai. Ternyata di Jalan Sudirman, Jakarta. Tinggal satu atau dua kilometer dari gedung BPPT.

Kalau saja penumpang mobil itu hanya saya dan Kang Dasep pastilah bisa sampai ke tujuan. Tapi hari itu mobil diisi empat orang. Yang dua orang sangat gendut pula.

Tapi itulah uji coba. Itulah penelitian. Kang Dasep bisa belajar dari kekurangan selama uji coba.

Yang berbeda dengan uji coba BYD: Kang Dasep tidak mendapat cukup waktu untuk menyempurnakan hasil uji cobanya. Yang ia dapatkan: masalah. Harus berurusan dengan hukum. Pun saya.

BYD tidak mengalami apa yang dialami Kang Dasep. Sepuluh tahun kemudian BYD menguasai mobil listrik dunia. Pun kelak, di awal tahun 2026, menguasai penjualan mobil listrik di Indonesia.

Tentu, seandainya pun Kang Dasep tidak terkena masalah, belum tentu mobil listrik Ahmadi berhasil berkembang seperti BYD. Tapi setidaknya tidak dipaksa layu sebelum berkembang.

Senin kemarin saya bertemu Kang Dasep –setelah lebih 10 tahun tidak baku dapa.

Saya sudah 76 tahun, Kang Dasep sudah 60 tahun.

Tapi kondisi badannya sangat sehat. Selama di “dalam” ia olahraga dan olah jiwa. Olahraganya main pingpong. Lawan main tangguhnya: Benny Tjokro –waktu muda Bentjok pernah juara pingpong di kota kelahirannya, Solo.

“Hanya saya yang pernah mengalahkannya,” ujar Kang Dasep.


Kang Dasep dengan mobil listrik ciptaannya, Ahmadi.–

Olah jiwanya: menghafal Quran. Sebagai sarjana teknik mesin ITB, ia menemukan teknik menghafal Quran: dimulai berdasarkan urutan turunnya wahyu.

Selama menghafal Quran itu Kang Dasep juga menemukan bentuk kalimat dalam Quran. Ada satu kalimat yang utuh. Umumnya di juz Amma. Ada satu kalimat yang dipenggal dua. Misalnya di surah Al Zalzalah. Lalu satu kalimat dipenggal tiga. Misalnya di surah Tabaroq.

Teknik lain: mengulangi bacaan yang sama sampai 40 kali. Sampai bibir seolah reflek ketika mengulanginya. Tentu, katanya, harus mengerti makna yang dihafalkannya itu. Lalu diresapi. Sampai membuat air mata berlinang. Ia sendiri sering mengalaminya.

Dasep lahir di desa Cik Mas, Sukabumi paling selatan. Dekat pantai. Pelosok sekali. Ibunya guru madrasah. Ayahnya: kepala sekolah merangkap pedagang.

Desa itu disebut Cik Mas karena sungainya mengandung pasir emas. Banyak penduduk desa mencari emas di sungai. Itulah sungai yang di hulunya sana disebut Cikotok –tambang emas di Jabar.

Di ”dalam”, Kang Dasep dipanggil ustad. Ia sering jadi imam salat. Juga menjadi pengajar tafsir.

Saya tidak tahu bagaimana ia menafsirkan ketika Senin itu ia saya ajak naik mobil listrik BYD ke studio podcast IDN Times di Menara Global Jakarta. (Dahlan Iskan)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |