6 Bulan Distribusi Air PDAM Bermasalah, Pelaku Usaha di Lolong Belanti Mengaku Kewalahan

8 hours ago 10

Langgam.id – Sejumlah pelanggan mengeluhkan distribusi air PDAM bermasalah. Kondisi ini bahkan disebut telah berlangsung kurang lebih enam bulan, sehingga mengganggu aktivitas, terutama bagi pelaku usaha yang bergantung pada pasokan air bersih.

Seorang pelanggan yang membuka usaha sarapan, Ernita (55),  mengaku air PDAM hanya mengalir pada malam hingga dini hari. Ia harus begadang untuk menampung air.

“Sudah sekitar enam bulan lebih begini. Air biasanya hidup sekitar jam 10 atau 11 malam sampai jam 5 pagi. Jadi saya harus menunggu malam untuk mengisi bak penampung dan ember-ember buat cuci piring sama peralatan masak,” katanya kepada Langgam.id Selasa (7/7/2026).

Ia mengatakan, setiap hari harus memastikan bak penampung terisi penuh sebelum air kembali mati pada siang hari. 

Selain bak penampung, Ernita juga menyiapkan sejumlah ember sebagai cadangan air untuk mencuci peralatan dagangan. Untuk kebutuhan mencuci pakaian, ia memilih menggunakan jasa laundry, karena pasokan air tidak mencukupi. 

“Padahal, saya setiap bulan tetap membayar tagihan PDAM sekitar Rp150 ribu hingga Rp300 ribu,” ungkapnya.  

Ernita berharap, gangguan distribusi air tersebut segera ditangani sehingga aktivitas usaha maupun kebutuhan sehari-hari dapat kembali normal.

“Harapan saya air hidup normal siang dan malam, supaya kami tidak lagi susah menampung air dan aktivitas berdagang bisa berjalan seperti biasa,” imbuhnya.  

Keluhan serupa juga disampaikan Putra, seorang juru masak (kitchen) di Cafe Kopmil Champions, kawasan Balanti. Ia mengatakan, selama lima hari terakhir para pekerja terpaksa mengangkut air dari rumah pemilik kafe yang berada di kawasan Gunung Pangilun.

“Air di kafe tidak ada, jadi kami angkut air dari rumah owner. Jaraknya sekitar dua sampai empat kilometer. Dalam sehari bisa dua kali bolak-balik membawa belasan galon menggunakan mobil,” bebernya.  

Menurut Putra, sebelum gangguan terjadi selama beberapa hari terakhir, air memang masih mengalir pada tengah malam, sehingga para pekerja menampung air menggunakan baskom dan wadah lainnya untuk kebutuhan mencuci peralatan dapur.

“Sebelumnya air hidup tengah malam, jadi kami tampung dulu buat cuci-cuci. Tapi sekarang sudah beberapa hari ini kami harus angkut air dari rumah owner supaya operasional kafe tetap berjalan,” jelasnya.  .

Menanggapi keluhan tersebut, Humas Perumda Air Minum Kota Padang, Adhie Zein, menyebutkan gangguan distribusi air yang terjadi di kawasan Belanti, merupakan dampak kerusakan infrastruktur pascabencana banjir dan longsor pada akhir November 2025.

Ia menjelaskan, instalasi pengolahan air (IPA) Gunung Pangilun, hingga kini belum sepenuhnya pulih sehingga proses pengolahan air belum dapat berjalan maksimal.

“Pasca bencana akhir November tahun lalu, keadaan infrastruktur pengolahan air di IPA Gunung Pangilun masih belum kembali normal. Selain itu, debit air yang masuk tidak seperti semula dan kondisinya sangat keruh,” katanya.

Kondisi tersebut mengakibatkan distribusi air bersih terganggu. Namun siang Selasa (7/7/2026), aliran air di kawasan Belanti sudah mulai mengalir, tapi belum sepenuhnya normal.

Di sejumlah titik, air masih mengalir kecil bahkan belum mengalir sama sekali, terutama pada jam-jam puncak pemakaian.

“Kondisi air di kawasan Belanti dan sekitarnya saat ini telah mengalir, namun tidak seperti biasanya. Pada beberapa area masih banyak terjadi gangguan seperti air yang kecil hingga tidak mengalir sama sekali. Namun pada malam hari kondisinya kembali berangsur membaik seperti semula,” ujarnya.

Ia menambahkan, gangguan masih sering terjadi pada pagi dan sore hari, karena kapasitas produksi air belum kembali normal akibat kerusakan intake dan IPA Gunung Pangilun.

“Saat ini PDAM bersama pemerintah melalui Hutama Karya sedang melakukan perbaikan di IPA Gunung Pangilun. Pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi ini diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun,” kata dia. (WAN) 

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |