Setiap zaman tentu melahirkan tantangan kepemimpinannya sendiri. Perguruan tinggi seni hari ini menghadapi situasi yang jauh berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu. Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, transformasi industri kreatif, mobilitas global, hingga perubahan cara generasi muda belajar, telah mengubah lanskap pendidikan tinggi secara mendasar. Situasi tersebut menuntut lahirnya model kepemimpinan yang tidak lagi cukup mengandalkan kemampuan administratif semata.
Perguruan tinggi seni saat ini dituntut menjalankan banyak fungsi sekaligus. Kampus tidak hanya menjadi tempat pembelajaran, tetapi juga ruang produksi pengetahuan, laboratorium penciptaan seni, pusat pengembangan kebudayaan, serta penghubung antara tradisi lokal dan dunia global.
Pemilihan Rektor ISI Padangpanjang periode 2026–2030 saat ini menjadi momentum penting untuk mengajukan satu pertanyaan mendasar: kualitas kepemimpinan seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh perguruan tinggi seni terbesar di Sumatera itu hari ini?
Pertanyaan tersebut lebih penting daripada sekadar membicarakan siapa yang akan terpilih. Perguruan tinggi pada akhirnya tidak ditentukan oleh figur semata, melainkan oleh kualitas kepemimpinan yang mampu mengarahkan institusi menghadapi perubahan zaman. Setidaknya terdapat lima kualitas mendasar yang perlu dimiliki oleh pemimpin perguruan tinggi seni agar mampu membawa institusinya tetap relevan, hidup, dan tentunya berdampak.
Kualitas Pemimpin Akademik
Kualitas pertama yang paling mendasar adalah kemampuan menjadi pemimpin akademik. Perguruan tinggi pada hakikatnya merupakan institusi akademik. Karena itu, kepemimpinan akademik harus menjadi fondasi utama seorang rektor.
Kampus tidak menjadi akademik hanya karena memiliki dosen dan mahasiswa. Kampus menjadi akademik senantiasa karena memiliki tradisi berpikir, tradisi berdiskusi, tradisi meneliti, tradisi menulis, dan tradisi mencipta. Tugas utama seorang rektor adalah memastikan tradisi tersebut tetap hidup.
Tantangan yang dihadapi banyak perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi seni, saat ini adalah semakin dominannya pekerjaan administratif. Berbagai instrumen pelaporan dan tuntutan birokrasi sering kali menyita energi yang seharusnya dapat digunakan untuk kegiatan akademik. Akibatnya, seminar berkurang, forum diskusi tidak lagi rutin, dan ruang refleksi intelektual semakin sempit.
Perguruan tinggi seni membutuhkan pemimpin yang mampu membalik kecenderungan tersebut. Pemimpin akademik tidak cukup hanya memastikan dokumen pelaporan kegiatannya tersusun dengan baik. Ia harus mampu menciptakan iklim yang membuat dosen ingin meneliti, mahasiswa ingin berdiskusi, dan komunitas kampus terdorong untuk terus menghasilkan gagasan baru.
Kualitas Pemimpin Kebudayaan
Perguruan tinggi seni memiliki tanggung jawab yang berbeda dibandingkan banyak perguruan tinggi lainnya. Kampus seni tidak hanya dapat dipandang cukup dengan menghasilkan lulusan. Kampus seni juga harus menghasilkan cara pandang, praktik artistik, dan arah perkembangan kebudayaan.
Karena itu, seorang rektor di perguruan tinggi seni tidak cukup hanya memahami tata kelola pendidikan tinggi semata. Ia juga harus memahami kebudayaan sebagai ruang hidup tempat kampus tersebut bertumbuh.
Posisi ISI Padangpanjang sangatlah khas. Kampus ini lahir dan berkembang di lingkungan budaya Minangkabau yang memiliki tradisi intelektual dan artistik yang kuat. Randai, Silek, Kaba, tradisi Surau, musik tradisional, hingga sistem Nagari merupakan sumber pengetahuan yang tidak hanya penting bagi Sumatera Barat, tetapi juga memiliki potensi berkontribusi pada perkembangan seni dan ilmu pengetahuan secara lebih luas.
Pemimpin kebudayaan memahami bahwa keberhasilan perguruan tinggi seni tidak hanya diukur dari jumlah lulusan yang dihasilkan. Keberhasilan tersebut juga terlihat dari kemampuannya membangun pengaruh kebudayaan melalui karya seni, penelitian, festival, publikasi, maupun kontribusi terhadap masyarakat.
Kampus seni pada akhirnya tidak hanya bertugas mencetak tenaga kerja yang siap melamar pekerjaan dengan ijazahnya. Kampus seni justru bertugas penting dan bertanggung-jawab penuh untuk menjaga keberlanjutan imajinasi kebudayaan suatu masyarakat, khususnya regional di mana ia tumbuh.
Kualitas Pemimpin yang Menghidupkan Komunitas Akademik
Perguruan tinggi pada dasarnya bukan sekadar kumpulan gedung, fakultas, program studi, atau perangkat birokrasi lainnya. Perguruan tinggi adalah komunitas. Kehidupan kampus tumbuh melalui interaksi antara dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, alumni, dan berbagai pihak yang terlibat di dalamnya. Karena itu, kualitas kepemimpinan juga dapat dilihat dari kemampuannya menghidupkan komunitas akademik.
Kampus yang sehat memiliki percakapan yang hidup. Mahasiswa merasa memiliki ruang untuk berinisiatif. Dosen memiliki kesempatan untuk berkarya dan mengembangkan gagasan. Organisasi kemahasiswaan bergerak aktif. Forum-forum akademik tumbuh secara alami.
Sebaliknya, kampus yang kehilangan energi komunitasnya sering kali tetap terlihat berjalan secara administratif, tetapi kehidupan akademiknya perlahan menjadi sunyi. Ruang dialog semakin berkurang, inisiatif mahasiswa justru semakin melemah, dan kolaborasi semakin jarang terjadi.
Komunitas akademik tidak dapat dipaksa hidup melalui surat keputusan. Energi komunitas akan senantiasa tumbuh ketika sivitas akademika merasa dihargai, didengarkan, dan diberi ruang untuk berpartisipasi.
Salah satu tugas penting seorang rektor adalah memastikan komunitas akademik tetap hidup dalam ruang-ruang pertemuan berbagai gagasan, ruang-ruang kolaborasi artistik, beragam ruang penciptaan dan ruang pertumbuhan bersama.
Kualitas Pemimpin yang Berpikir Global
Perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat ini, tentunya membuat perguruan tinggi tidak lagi dapat berkembang secara terisolasi. Pertukaran pengetahuan, mobilitas mahasiswa dan dosen, kolaborasi penelitian, serta kerja sama lintas negara telah menjadi bagian penting dari kehidupan pendidikan tinggi modern.
Kemampuan berpikir global bukan berarti menempatkan kampus dalam perlombaan untuk menjadi institusi yang paling internasional secara simbolik. Kemampuan tersebut berkaitan dengan kemampuan membaca perubahan dunia dan menghubungkannya dengan potensi yang dimiliki institusinya.
ISI Padangpanjang jelas memiliki modal yang besar untuk melakukan hal tersebut. Sebut saja Randai, Silek, musik tradisional Minangkabau, tradisi lisan, dan berbagai praktik seni pertunjukan yang berkembang di Sumatera Barat, merupakan sumber pengetahuan yang memiliki keunikan tersendiri dalam konteks internasional.
Persoalannya, internasionalisasi sering kali dipahami secara administrative semata. Keberhasilan kerja sama internasional kerap diukur melalui jumlah nota kesepahaman yang ditandatangani atau jumlah kunjungan luar negeri yang dilakukan. Padahal ukuran yang lebih penting adalah dampak nyata yang dihasilkan dari kerja sama tersebut.
Pengalaman beberapa periode terakhir menunjukkan bahwa berbagai kerja sama internasional telah berhasil dibangun. Tantangan berikutnya adalah memastikan kerja sama tersebut memiliki keberlanjutan, dukungan anggaran, serta target capaian yang jelas. Internasionalisasi tidak boleh berhenti pada seremoni penandatanganan dokumen. Internasionalisasi harus hadir dalam kehidupan akademik sehari-hari.
Daya saing global pada akhirnya tidak ditentukan oleh seberapa banyak institusi melakukan perjalanan ke luar negeri, melainkan oleh kemampuan menghasilkan gagasan, karya, penelitian, dan kontribusi yang diakui dalam percakapan-percakapan akademik dan artistik dalam skala internasional.
Kualitas Pemimpin Berdampak
Kualitas terakhir yang paling menentukan adalah kemampuan menjadi pemimpin yang berdampak. Perguruan tinggi pada akhirnya tidak dinilai dari banyaknya dokumen yang dimiliki. Perguruan tinggi dinilai dari kualitas pengaruh yang dihasilkannya. Pengaruh tersebut dapat dilihat dari kualitas lulusan, produktivitas penelitian dan penciptaan seni, kehidupan akademik yang tumbuh sehat, keterlibatan mahasiswa, hingga kontribusi kampus terhadap masyarakat.
Kepemimpinan berdampak tidak dapat dipahami sebagai kemampuan menjalankan program sebanyak mungkin. Kepemimpinan berdampak adalah kemampuan menghasilkan perubahan yang tetap terasa bahkan setelah masa jabatan berakhir.
Pertanyaan yang lebih penting bukan berapa banyak program yang dilaksanakan, melainkan apa yang berubah karena program tersebut. Apakah kehidupan akademik menjadi lebih hidup? Apakah mahasiswa menjadi lebih aktif? Apakah dosen menjadi lebih produktif? Apakah kampus menjadi lebih relevan bagi masyarakat sekitarnya?
Kepemimpinan berdampak juga menuntut keberanian untuk berpikir jangka panjang. Penguatan budaya akademik, pembaruan kurikulum, peningkatan kualitas sumber daya manusia, maupun pembangunan jejaring internasional membutuhkan konsistensi yang melampaui satu periode kepemimpinan.
Kepemimpinan berdampak bukan tentang seberapa lama seseorang menjabat. Kepemimpinan berdampak adalah tentang seberapa jauh perubahan yang ditinggalkannya tetap hidup setelah masa jabatannya berakhir.
Penutup
Lima kualitas tersebut tentu bukan daftar yang sempurna. Perguruan tinggi seni membutuhkan banyak kemampuan lain untuk menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Akan tetapi, tanpa kepemimpinan akademik, kepemimpinan kebudayaan, kemampuan menghidupkan komunitas akademik, cara berpikir global, dan orientasi pada dampak, sulit membayangkan perguruan tinggi seni mampu menjawab tuntutan zaman yang terus berubah.
Pemilihan rektor pada akhirnya bukan sekadar memilih figur. Pemilihan rektor adalah memilih arah. Pilihan tersebut akan memengaruhi bagaimana kampus berkembang, bagaimana kehidupan akademik tumbuh, bagaimana kebudayaan diposisikan, serta bagaimana perguruan tinggi seni mempersiapkan dirinya menghadapi masa depan.
ISI Padangpanjang membutuhkan pemimpin yang mampu membaca masa depan tanpa kehilangan akar budayanya. Pemimpin yang mampu menghidupkan kembali energi akademik tanpa terjebak dalam ragam instrumen birokrasinya. Pemimpin yang mampu menjadikan kampus sebagai ruang penciptaan gagasan, bukan sekadar ruang pengelolaan administrasi. Pemimpin seperti itulah yang dibutuhkan ketika pendidikan seni Indonesia memasuki babak baru yang semakin kompleks dan semakin global.
*Penulis: Wendy HS (Dosen Prodi Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Padang Panjang)

6 hours ago
10
















































