Kisah Ken Nara Attila, Bocah 6 Tahun Pengoleksi 93 Piala; Dari Coretan Warna jadi Deretan Juara

4 hours ago 2
BERPRESTASI: Ken Nara Attila memamerkan sejumlah piala yang didapatkan lewat puluhan lomba mewarnai. FOTO: GEMINI AI/RADAR SUKABUMI

Di usianya yang baru menginjak enam tahun, Ken Nara Attila sudah memiliki pencapaian yang membuat banyak orang terpukau. Bocah yang tinggal di Perum Baros Kencana, Kecamatan Baros, Kota Sukabumi, ceria pencinta warna itu kini telah mengoleksi 93 piala dari berbagai lomba mewarnai yang diikutinya.

Widi, SUKABUMI

SEDERET trofi terlihat memenuhi sudut rumah. Di balik itu, tersimpan kisah tentang ketekunan, latihan, dan dukungan keluarga yang begitu besar terhadap bakat sang anak.
Ketertarikan Ken pada dunia mewarnai ternyata sudah terlihat sejak usia empat tahun. Awalnya sederhana. Saat itu ia mengikuti lomba mewarnai di sekolahnya. Tak disangka, Ken langsung meraih juara pertama. Dari situlah bakatnya mulai terlihat.

“Mulai umur empat tahun ketika ada lomba di sekolahnya, tiba-tiba juara satu,” ujar sang bunda, Susi, mengenang momen awal putranya mulai serius menekuni dunia mewarnai.

Sejak saat itu, warna demi warna seolah menjadi dunia yang sangat dekat dengan Ken. Ia merasa nyaman menuangkan imajinasi melalui perpaduan warna yang menurutnya menyenangkan.

“Karena memang passion-nya suka bermain warna,” tutur Ken polos saat ditanya alasan menyukai mewarnai.

Bagi lulusan TK Negeri Pembina Baros, mengikuti lomba bukan sekadar soal mengejar juara. Ada hal lain yang membuatnya bahagia setiap kali datang ke arena perlombaan. Ia senang bertemu teman-teman baru dan melihat karya peserta lain yang menurutnya sangat bagus.

“Ketemu teman baru dan bisa belajar dari teman-teman yang lain yang karyanya juga bagus-bagus,” katanya.

Meski kini terlihat percaya diri, Ken mengaku dulu sering merasa gugup ketika pertama kali mengikuti lomba. Namun seiring waktu, rasa takut itu perlahan berubah menjadi semangat untuk tampil lebih baik.

Di balik keberhasilannya, ada dukungan besar dari kedua orang tua yang selalu mendampingi setiap proses perjalanan Ken. Sang bunda tidak hanya memberikan fasilitas terbaik, tetapi juga memastikan anaknya mendapatkan pembinaan yang tepat dengan memasukkannya ke sanggar mewarnai.

“Memfasilitasi segala kebutuhannya, selalu mendampingi saat lomba, dan memasukkan dia ke sanggar mewarnai,” ujar Susi.

Untuk urusan teknik, Ken dibimbing oleh guru les mewarnai bernama Bunda Euis. Dari sang guru, Ken belajar berbagai teknik agar hasil warnanya terlihat hidup dan menarik. Salah satu teknik favorit yang sering digunakan Ken adalah teknik gradasi dan teknik kerik. Kedua teknik itu membuat hasil karyanya tampak lebih detail, tajam, dan memiliki karakter kuat.

Tema alam menjadi gambar favorit Ken untuk diwarnai. Menurutnya, pemandangan alam memberikan ruang lebih luas untuk mengeksplorasi berbagai perpaduan warna.

“Karena bisa lebih mengeksplor warna,” ucapnya.

Menjelang perlombaan, latihan menjadi bagian penting yang tidak pernah dilewatkan. Persiapan dilakukan dengan serius, mulai dari melatih teknik sesuai tema lomba hingga memastikan semua alat mewarnai siap digunakan.

“Latihan dan memastikan alat-alat yang akan dipakai saat lomba dipersiapkan dengan sangat baik dan teliti,” kata Ken.

Sang bunda juga menambahkan bahwa latihan khusus di rumah selalu dilakukan sebelum lomba dimulai. Tema gambar dipelajari terlebih dahulu agar teknik pewarnaan yang digunakan sesuai dengan karakter gambar. Kerja keras dan konsistensi itulah yang membuat Ken terus menorehkan prestasi. Meski masih kecil, ia sudah memahami pentingnya disiplin dan semangat pantang menyerah.

“Konsisten, berkomitmen, dan memiliki mental pejuang,” ujar Ken ketika ditanya rahasia dirinya bisa sering menjadi juara.

Tak hanya prestasi yang terus bertambah, dunia lomba juga membawa perubahan positif dalam diri Ken. Ia menjadi anak yang lebih percaya diri, kompetitif, dan memiliki semangat belajar yang tinggi.

“Memiliki jiwa kompetitif dan semangat tinggi untuk terus belajar menjadi lebih baik,” ungkap Susi.

Kini, di tengah tumpukan 93 piala yang berhasil diraih, Ken masih terus bermimpi. Kelak, ia ingin menjadi seorang desainer atau arsitek — profesi yang tetap dekat dengan kreativitas dan dunia warna yang sejak kecil ia cintai.(*)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |