Mimpi besar kerap berawal dari langkah kecil. Itulah yang dialami dua pelajar SMA Negeri 3 Kota Sukabumi, Shusfika Laura Ardini dan Ruby Indrianty Spice. Keduanya tak pernah menyangka, aktivitas mereka di dunia penyiaran justru mengantarkan hingga ke panggung internasional sebagai delegasi Indonesia dalam ajang International Youth Conference di Rusia, 13–17 April 2026.
Perjalanan mereka bukanlah kebetulan. Berawal dari keterlibatan di program Skill Up Radio NBS FM Sukabumi, peluang itu datang ketika dibuka kesempatan mengikuti konferensi pemuda dunia. Tanpa ragu, keduanya mendaftar. Harapan sederhana itu berbuah manis—mereka terpilih dan bergabung sebagai relawan di Indonesia Youth Foundation, organisasi kepemudaan yang menjadi jembatan menuju forum internasional tersebut, di bawah bimbingan mentor Ainun Rahimah Iskandar.
“Awalnya kami hanya mencoba. Tapi alhamdulillah, kami lolos dan dipercaya menjadi perwakilan dari Skill Up Radio. Dari situ perjalanan kami dimulai,” tutur Shusfika.
International Youth Conference sendiri merupakan forum global di bawah naungan pemerintah Rusia melalui program Movement of the First serta inisiatif IYAKO. Kegiatan ini mempertemukan generasi muda dari berbagai negara untuk membahas isu-isu strategis terkait kehidupan anak di dunia.
Selama di Rusia, Shusfika dan Ruby tidak hanya mengikuti diskusi formal. Mereka diajak mengunjungi kota-kota bersejarah, berdialog lintas budaya, hingga berkolaborasi membuat logo dan brand book untuk IYAKO. Puncaknya, mereka mengikuti konferensi di sebuah universitas di Kota Smolensk, tempat ide-ide besar lahir dari keberanian anak muda menyuarakan pandangannya.
“Kami berdiskusi tentang berbagai isu anak dari perspektif global, lalu menyusun panduan untuk peserta berikutnya. Ini bukan sekadar forum, tapi ruang untuk menghasilkan gagasan nyata,” jelas Shusfika.
Bagi Ruby, pengalaman ini menjadi titik balik dalam hidupnya. Siswi kelas 10 itu mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga, terutama dalam memahami perbedaan budaya dan bahasa.
“Bisa bertemu teman dari berbagai negara itu luar biasa. Kita jadi tahu budaya mereka, bahkan bahasanya. Tantangannya memang di komunikasi, karena tidak semua fasih berbahasa Inggris. Tapi justru dari situ kita belajar banyak,” ungkap Ruby.
Meski menghadapi kendala bahasa, kehangatan antar peserta menjadi jembatan yang menguatkan. Bahkan hingga kini, hubungan pertemanan lintas negara itu masih terjalin.
Hal paling membekas bagi Shusfika bukan hanya forum diskusi, tetapi rasa kebersamaan yang tercipta.
“Kami seperti keluarga. Panitia di sana merangkul kami meski berbeda bahasa. Mereka selalu berusaha membantu. Itu yang membuat kami takjub,” kata Shusfika.
Ia juga terkesan dengan lingkungan di Rusia yang bersih dan tertata. Namun lebih dari itu, pengalaman tersebut membuka cara pandangnya tentang keberanian dalam menyampaikan pendapat.
“Anak-anak di sana sangat percaya diri. Mau benar atau salah, mereka tetap berbicara. Itu membuat diskusi hidup. Dari situ saya belajar untuk lebih berani,” tambahnya.
Cerita dari peserta lain pun menjadi pelajaran berharga, termasuk kisah seorang anak dari India yang membuka wawasan tentang realitas kehidupan di belahan dunia lain.
Bagi Shusfika dan Ruby, perjalanan ini bukan sekadar kunjungan luar negeri, tetapi proses bertumbuh. Mereka membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman—melainkan semangat baru, jaringan global, dan keberanian untuk bermimpi lebih tinggi.
“Kalau ada kesempatan lagi, saya ingin ikut lagi. Ini pengalaman pertama ke luar negeri yang sangat berharga,” ujar Ruby.
Dari sebuah studio radio di Sukabumi, langkah mereka kini menggema hingga Rusia. Kisah Shusfika dan Ruby menjadi bukti bahwa anak daerah pun mampu menembus batas dunia—asal berani mencoba dan percaya pada mimpi. (*)

6 hours ago
10











































