Air Pohon

10 hours ago 16
Dahlan Iskan Dahlan Iskan

Di depan orang Huai An saya pun berkata: “akhirnya saya tahu mengapa peradaban di Huai An ini maju. Air Pohon Termasuk mengapa tingkat pendidikan penduduknya tinggi. Banyak orang pintar. Banyak orang sukses. Termasuk Anda. Semua itu ternyata ada hubungannya dengan proyek Great Canal di masa lalu”.

Teman saya yang sukses itu merendah. Ia kirim tulisan satu kalimat yang penuh arti. Sarat diplomasi. Berusaha ganti memberi pujian yang tinggi.

Inilah kalimat itu: “Pak Iskan, kami adalah air kanal Huai An, Anda adalah pohon menjulang tinggi Indonesia. Ini adalah pepatah terkenal dari I Ching Tiongkok: Air menyehatkan pohon, pohon kayu menghasilkan kekayaan” (我们是淮安的运河水 你是在印尼的苍天大树, 这是中国的易经名言, 水生木 木生财).

Mungkin Liang di Denmark dan Wilwa di Jakarta bisa memberi skor: seberapa tinggi kualitas literasi satu kalimat itu –skala satu sampai 10. Yang jelas saya belajar banyak dari kalimat itu: kalau memuji orang baiknya lewat puisi. Jangan seperti saat saya memuji Jayanti Zainal Halo BCA tempo hari –yang sampai membuat perusuh Disway pada cemburu.

Saya pun minta diantar ke Great Canal yang jaraknya terdekat dari Huai An. Saya tahu peran Great Canal sudah tidak sepenting zaman dulu. Bahkan sudah tidak penting sama sekali. Sudah digantikan jalan raya. Sudah kalah dengan rel kereta api. Apalagi setelah ada jalan tol dan kereta cepat. Saya bayangkan Great Canal sudah ditinggalkan. Diabaikan. Telantar. Sudah jadi parit yang menyempit dan mendangkal.

Saya pun membayangkan akan dibawa naik mobil ke arah luar kota Huai An. Di sana akan bisa melihat sisa-sisa kejayaan Great Canal, meski sejak lebih 100 tahun lalu sudah kehilangan peran pentingnya sebagai pusat logistik negara.

Untuk melihat Great Canal itu teman itu pun memberi tawaran ke saya: naik mobil atau jalan kaki.

“Jalan kaki?” tanya saya terheran-heran.

“Iya. Jalan kaki. Hanya 1 km dari sini,” ujarnya.

Waktu itu kami lagi di pusat kota Huai An. Kota sangat kecil. Kota kecamatan. Tapi punya museum modern di pusat kotanya.

Tidak menyangka: ternyata Great Canal itu mengalir melewati tengah kota Huai An. Atau saya terbalik: kota ini dulunya sengaja dibangun di pinggir Great Canal. Boleh dikata sebelum ada Great Canal belum ada kota Huai An. Berarti umur kota Huai An sama dengan umur Great Canal: 1000 tahun lebih.

Jalan raya di depan museum itu, 1000 tahun lalu, adalah jalan penghubung antara kantor syahbandar dengan pelabuhan. Museum itu sendiri dulunya adalah kantor itu: kantor bea cukai, syahbandar, dan administrator pelabuhan.

Semua kapal wajib berhenti bersandar di pelabuhan Huai An. Nakhodanya turun dari kapal, berjalan kaki ke gedung pengelola pelabuhan: membereskan segala macam administrasi dan pembayaran.

Di lokasi bekas gedung itu kini tinggal terlihat beberapa bekas batu pondasinya. Sisa temboknya pun sudah tidak ada. Bekas lokasi gedung paling belakang kini untuk museum. Bekas lokasi gedung paling depan dipagari rendah agar wisatawan bisa melihat sisa-sisa batu pondasi.

Setelah melihat museum kami menuju Great Canal. Benar. Kanalnya sudah seperti sungai biasa. Tapi kanan kirinya masih terjaga. Tidak ada bangunan di pinggir sungai –apalagi bangunan kumuh. Kanan-kiri sungai masih terjaga sebagai tanah kosong. Ditanami pohon-pohon keras.

Saya pun jalan kaki menuju pinggir sungai. Rumput tinggi itu saya sepak-sepak pakai sepatu untuk memastikan ada tanah keras yang bisa saya lewati. Sampai pinggir sungai terlihat ada kapal tongkang berhenti. Ujung tali besar tongkang itu diikatkan ke pohon besar di pinggir sungai. Saya amati tongkang itu: panjang sekali. Rupanya empat tongkang digandeng jadi satu rangkaian. Di bagian depannya ada kapal penarik tongkang.

Kapal itu berhenti di Huai An tidak lagi karena harus melapor ke syahbandar. Hanya mau istirahat. Kapal-kapal lain melaju di tengah kanal. Umumnya tongkang.

Ternyata kanal ini masih ramai dengan lalu-lintas kapal. Meski tidak lagi penting tapi masih berfungsi.

Di masa nan lalu Huai An dijadikan pusat administrasi logistik Great Canal karena posisinya. Bukan hanya di tengah jarak antara Hangzhou dan Beijing (1800 km), tapi juga karena Huai An terhubung dengan Huang He (Sungai Kuning) –lewat anak sungainya. Zaman itu Huang He masih bermuara di bagian selatan Shandong. Belakangan muara sungai Huang He pindah jauh ke utara.


Anda sudah tahu: perpindahan muara sungai Huanghe itu terkenal yang paling ekstrem dalam sejarah. Pindahnya sejauh lebih 600 km. Ibarat sungai Citarum yang dulunya bermuara di Bekasi, pindah bermuara di Rembang. Itu terjadi di tahun 1850-an ketika terjadi banjir besar Sungai Kuning. Saking besarnya air ‘melompat’ ke arah lain.

Rasanya saat itu pula kota Kaifeng tenggelam. Tertimbun pasir. Kota besar Kaifeng yang sekarang berada di atas kota Kaifeng di zaman Judge Bao –hakim paling adil yang sudah Anda kenal itu. Judge Bao jadi hakim di zaman Great Canal dibangun.

Air kanal itulah yang selama ini memakmurkan kota Huai An. Juga yang membuat peradaban literasinya tinggi. Untuk menjadi pegawai dan pejabat yang mengelola kanal diperlukan SDM berkualitas tinggi. Pendidikan di situ pun berkualitas –karena meritokrasi dijalankan dengan baik.

Kini air sungai kanal masih mengaliri Huai An, dan orang di sana masih bisa menghibur hati kita: Indonesialah tempatnya pohon bisa tumbuh tinggi.(Dahlan Iskan)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |