30 Kolam Lele, Sumber Harapan Desa yang Berawal dari Hoby

5 hours ago 5
MENINJAU : Mantri BRI Unit Sukaraja Cabang Sukabumi Tropy purwa tanggara bersama Hendrik Pangemanan, peternak lele Sukaraja, sukses menjangkau pasar regional.

SUKABUMI – Dari luar, tak ada yang menyangka di balik kebun sederhana di Kampung Sayang, Desa Margaluyu, Kecamatan Sukaraja, tersembunyi puluhan kolam lele. Lokasi yang tenang itu kini menjadi pusat budidaya ikan lele milik Hendrik Pangemanan (53).

Perjalanan Hendrik dimulai sejak tahun 2000 ketika ia pertama kali mencoba budidaya lele di Tasikmalaya. Awalnya hanya untuk mengisi waktu, namun lama-kelamaan hobi itu berkembang menjadi usaha. Pada 2019, ia pindah ke Sukabumi dan mengubah kebun ubi miliknya menjadi kolam lele. Dari satu kolam, bertambah menjadi empat, hingga kini mencapai 30 kolam.

Kolam-kolam itu memiliki fungsi berbeda: ada yang khusus untuk mengawinkan lele, ada yang untuk pembesaran, hingga siap konsumsi. “Awalnya hanya hobi, tapi lama-lama jadi usaha. Dari satu kolam, sekarang sudah 30 kolam,” ujarnya.

Perjalanan usaha Hendrik semakin berkembang setelah mendapat dukungan dari BRI. Pada 2023, ia pertama kali menerima pinjaman modal kerja sebesar Rp30 juta. Kini, modal itu meningkat hingga Rp300 juta. “Tanpa BRI, usaha ini tidak akan seperti sekarang. Modal itu sangat membantu untuk memperluas kolam dan membeli pakan,” katanya.

Dengan tambahan modal, populasi lele meningkat pesat. Setiap bulan, Hendrik mampu menghasilkan sekitar 8 kwintal lele. Dengan harga Rp19 ribu per kilogram, omzet bulanan mencapai Rp15 juta. “Modal adalah kunci. Dengan KUR, usaha bisa berkembang lebih cepat,” jelasnya.

Meski usaha berkembang, tantangan tetap ada. Harga pakan yang terus naik menjadi kendala utama. Selain itu, cuaca ekstrem juga memengaruhi kualitas air dan kesehatan ikan. “Kalau hujan terus menerus, lele bisa mati. Harus ada panas juga. Kalau listrik mati, kolam close house terganggu, jadi harus cepat pakai genset,” ungkapnya.

Untuk pemasaran, Hendrik bekerja sama dengan bandar dan tengkulak yang mendistribusikan lele ke Sukabumi, Bandung, Bekasi, dan Bogor. “Pemasaran tidak ada masalah, permintaan selalu ada. Justru kadang kurang memenuhi permintaan,” katanya.

Usaha ini juga memberi dampak sosial dengan membuka lapangan kerja bagi dua orang pekerja lokal. Meski masih terbatas, Hendrik berharap ke depan bisa memperluas usaha dan memberi lebih banyak manfaat bagi masyarakat sekitar.

Kepala Unit BRI Unit Sukaraja Cabang Sukabumi, Irwan Maulana, menilai usaha Hendrik sebagai bukti nyata bagaimana KUR mampu mengubah hobi menjadi sumber penghidupan.

“Pak Hendrik adalah contoh bagaimana keberanian dan kerja keras bisa mengubah hidup. Dari satu kolam kini menjadi 30 kolam, dengan omzet belasan juta per bulan. Ini membuktikan bahwa usaha kecil bisa tumbuh besar dengan dukungan permodalan,” ujarnya.

Irwan menekankan bahwa BRI hadir bukan hanya memberi modal, tetapi juga mendampingi masyarakat agar usaha mereka berkelanjutan. “Kami ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang disalurkan melalui KUR benar-benar menjadi benih kesejahteraan. Dengan modal Rp300 juta, usaha Pak Hendrik kini mampu memenuhi permintaan pasar regional,” katanya.

MENINJAU : Mantri BRI Unit Sukaraja Cabang Sukabumi Tropy purwa tanggara bersama Hendrik Pangemanan, peternak lele Sukaraja

Menurutnya, usaha budidaya lele memiliki potensi besar karena kebutuhan pangan yang terus meningkat. “Lele adalah sumber protein terjangkau bagi masyarakat. Dengan manajemen yang baik, usaha ini bisa berkembang lebih luas dan memberi manfaat bagi banyak orang,” jelasnya.

Menutup komentarnya, Irwan berharap kisah Hendrik menjadi inspirasi. “Kami ingin lebih banyak masyarakat desa yang berani memulai usaha, sekecil apa pun. Karena dari usaha kecil itulah lahir kekuatan besar untuk membangun ekonomi bangsa,” tutupnya.(*)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |